FaktaHari – 29 Juli 2026 | Kelompok Houthi dikabarkan akan meniru blokade Iran di Selat Bab el-Mandeb, sebuah langkah yang langsung berdampak pada penurunan drastis lalu lintas kapal komersial di jalur strategis tersebut. Data dari perusahaan analisis Kpler yang dikutip surat kabar The National menunjukkan bahwa jumlah kapal yang melintas turun hingga 56 persen sejak Houthi mengumumkan embargo terhadap kapal-kapal Arab Saudi pada 20 Juli 2026.
Pada Minggu (26/7), hanya 15 kapal yang tercatat melewati Selat Bab el-Mandeb, turun dibandingkan 34 kapal pada hari pengumuman. Dari jumlah itu, sembilan kapal berlayar keluar Laut Merah dan enam lainnya masuk ke perairan tersebut, membawa muatan seperti minyak mentah, gandum, dan pupuk. Penurunan ini menandakan efektivitas blokade yang diterapkan Houthi sebagai respons atas penguasaan wilayah udara Yaman oleh Arab Saudi dan penembakan bandara Sanaa saat pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi mendarat.
Menteri Luar Negeri Yaman yang diakui internasional, Afrah al-Zouba, menyatakan bahwa Houthi akan meniru blokade Iran di Selat Bab el-Mandeb dengan tujuan menguasai arus pelayaran di Laut Merah. “Kelompok Houthi ingin meniru model Iran, dan langkah ini akan menutup dua selat utama yang menjadi pintu gerbang menuju perairan Teluk dan Laut Merah,” ujarnya di Kedutaan Besar Yaman di Riyadh, Senin (27/7). Al-Zouba menambahkan bahwa kurangnya respons internasional yang tegas membuat Houthi semakin berani melakukan eskalasi.
Upaya Houthi untuk meniru blokade Iran di Selat Bab el-Mandeb semakin nyata dengan serangkaian serangan terhadap kapal tanker minyak Saudi. Sumber Yaman kepada Al Mayadeen mengklaim bahwa dalam 48 jam terakhir, tiga kapal tanker Saudi diserang, dan total 16 kapal Saudi telah berbalik arah karena tidak bisa melewati selat tersebut dalam enam hari sejak 20 Juli. “Sejak Yaman memberlakukan blokade, tidak satu pun kapal tanker minyak Saudi yang melewati Selat tersebut baik dari arah mana pun,” imbuh sumber itu.
Ancaman Houthi akan meniru blokade Iran di Selat Bab el-Mandeb memicu kekhawatiran global. Selat Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia, menangani sekitar 30 persen lalu lintas peti kemas dunia serta 12-15 persen total perdagangan global. Penutupan jalur ini diprediksi akan mengganggu distribusi barang dan energi, memperparah krisis pasokan yang sudah ada. Sejak akhir 2023, Houthi secara rutin menyerang kapal di Laut Merah sebagai solidaritas terhadap Palestina, namun pola serangan kini berkembang menjadi upaya penguasaan penuh atas selat.
Konflik Yaman yang berlangsung sejak 2014 setelah Houthi menguasai Sanaa telah menewaskan ratusan ribu jiwa. Gencatan senjata pada 2022 kini terancam akibat eskalasi lintas batas yang kembali marak. Para diplomat memperingatkan risiko perang terbuka skala penuh berada pada level tertinggi. Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan nyata dalam mengamankan kebebasan berlayar di Bab el-Mandeb. Tanpa respons yang tegas, mimpi Houthi meniru blokade Iran di Selat Bab el-Mandeb dapat menjadi kenyataan, mengancam stabilitas kawasan dan ekonomi global.











