Iran Rangkul Arab Saudi dan Oman, Gelar Diplomasi Intensif Pulihkan Stabilitas Selat Hormuz

Iran Rangkul Arab Saudi dan Oman, Gelar Diplomasi Intensif Pulihkan Stabilitas Selat Hormuz
Iran Rangkul Arab Saudi dan Oman, Gelar Diplomasi Intensif Pulihkan Stabilitas Selat Hormuz

FaktaHari – 29 Juli 2026 | Pulihkan stabilitas Selat Hormuz, Iran serukan kerja sama antarnegara di kawasan [titlebase]. Seruan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pembicaraan telepon terpisah dengan Menlu Oman Badr Albusaidi dan Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan pada Senin (27/7/2026). Araghchi menekankan pentingnya memperkuat kerja sama regional dan meningkatkan upaya diplomatik bersama untuk menciptakan stabilitas di kawasan, seraya menyalahkan agresi Amerika Serikat sebagai pemicu ketegangan.

Dalam pernyataannya yang dilaporkan oleh IRIB, Araghchi menyerukan penghapusan kondisi tidak stabil di Selat Hormuz yang menurutnya merupakan dampak dari tindakan agresif Amerika Serikat. Kawasan tersebut relatif tenang sejak Jumat setelah AS dan Iran menghentikan serangan menyusul eskalasi konflik selama 13 hari yang dimulai pada 11 Juli. Selama periode tersebut, AS melancarkan serangan ke wilayah Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara Arab.

Diplomasi Iran tak berhenti di situ. Bersama Oman dan Arab Saudi, Iran menggelar pembahasan intensif untuk mengamankan Selat Hormuz dari ancaman blokade dan serangan. Langkah ini menjadi poros komunikasi baru yang menandai pergeseran strategi kawasan, di mana negara-negara Teluk kini mengambil inisiatif mandiri tanpa bergantung pada mediasi Barat. Pulihkan stabilitas Selat Hormuz, Iran serukan kerja sama antarnegara di kawasan [titlebase] menjadi tema sentral dalam setiap perbincangan bilateral.

Sementara itu, Oman mengusulkan mekanisme regional bersama untuk mengelola Selat Hormuz dengan sistem iuran sukarela. Usulan ini muncul dalam beberapa putaran pembicaraan di Teheran pada Jumat dan Sabtu. Menurut sumber anonim dari kawasan Teluk, Oman mengusulkan pembentukan konsorsium yang melibatkan Iran dan negara-negara Teluk untuk mengelola lalu lintas maritim, termasuk aspek keamanan pelayaran. Dalam proposal tersebut, Selat Hormuz akan tetap bebas dari pungutan tol, namun kapal yang melintas akan membayar biaya layanan sukarela untuk mendanai navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan.

Model ini mengacu pada pengelolaan Selat Malaka yang telah sukses. Jika disepakati, Iran akan bertanggung jawab atas pembersihan ranjau, khususnya di jalur internasional. Tiga jalur lalu lintas diusulkan: satu melintasi perairan Iran, satu jalur internasional, dan satu melintasi perairan Oman. Kendati demikian, tim negosiasi teknis belum merampungkan kesepakatan, meskipun sumber menyebut Iran menunjukkan sikap fleksibel.

Eskalasi sebelumnya dipicu oleh serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz pada awal Juli, yang dituduhkan Washington kepada Teheran. Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata yang ditandatangani pada Juni berakhir pada 8 Juli, dan melanjutkan serangan udara. Namun, setelah 13 hari pertempuran, kedua belah pihak menghentikan serangan pada Jumat lalu, membuka ruang bagi diplomasi. Pasar keuangan global merespons positif jeda konflik ini dengan penguatan bursa saham dan penurunan harga minyak.

Pulihkan stabilitas Selat Hormuz, Iran serukan kerja sama antarnegara di kawasan [titlebase] menjadi agenda utama dalam upaya mencegah lonjakan harga energi global. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia. Dengan merangkul Arab Saudi dan Oman, Iran berupaya membendung potensi kehancuran jalur ini. Poros komunikasi baru ini menunjukkan bahwa negara-negara Teluk mampu mengambil inisiatif mandiri demi menjaga stabilitas koridor perdagangan paling strategis di dunia.

Kesimpulannya, melalui diplomasi intensif dan usulan mekanisme regional, Iran bersama Oman dan Arab Saudi bertekad memulihkan stabilitas Selat Hormuz. Kerja sama antarnegara di kawasan menjadi kunci utama, di tengah ancaman militer dari Amerika Serikat yang masih membayangi. Jika usulan Oman terealisasi, Selat Hormuz tidak lagi menjadi medan konflik, melainkan zona yang dikelola bersama demi keamanan energi global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *