FaktaHari – 17 Juli 2026 | Iran secara resmi menyatakan bahwa Iran Nyatakan MoU Perdamaian Batal usai Serangan Baru AS LPP RRI yang dilancarkan pada Rabu malam, 15 Juli 2026. Keputusan ini disampaikan oleh negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran memiliki kebebasan penuh untuk merespons apa yang disebutnya sebagai agresi musuh. Ghalibaf menyatakan bahwa Iran kini berada dalam perang penting dan eksistensial melawan Amerika Serikat.
Serangan terbaru AS menargetkan sejumlah instalasi militer Iran di wilayah pesisir dekat Selat Hormuz. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di jalur strategis tersebut. Militer Iran melaporkan bahwa salah satu serangan menghantam barak militer di Bampour, Iran Tenggara. Sejumlah ledakan besar dilaporkan terjadi di Bandar Abbas, Chabahar, Ahvaz, Sirik, Konarak, Rask, dan Pulau Qeshm.
Kementerian Kesehatan Iran mengkonfirmasi sedikitnya 35 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka akibat rangkaian serangan tersebut. Washington juga kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mengklaim telah mengalihkan sejumlah kapal komersial. Langkah ini semakin memicu kemarahan Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa komitmen Iran hanya berlaku selama pihak lain memenuhi kewajibannya. Dengan adanya serangan baru ini, Iran Nyatakan MoU Perdamaian Batal usai Serangan Baru AS LPP RRI secara sepihak. Baghaei menambahkan bahwa Iran saat ini tidak memiliki rencana untuk melanjutkan pembicaraan dengan Washington dan fokus pada pertahanan negara. Namun, Teheran masih membuka peluang diplomasi jika AS kembali mematuhi kesepakatan sebelumnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan meningkat jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Sebelumnya, Trump juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa dialog dengan Iran masih diperlukan untuk mencapai solusi. Eskalasi ini menimbulkan ketidakpastian besar terhadap keberlanjutan gencatan senjata dan prospek perdamaian.
Iran menegaskan bahwa Iran Nyatakan MoU Perdamaian Batal usai Serangan Baru AS LPP RRI merupakan respons atas pelanggaran Washington terhadap Nota Kesepahaman (MoU) yang disepakati pada 17 Juni lalu. MoU tersebut menjadi dasar gencatan senjata sementara, namun kini dinyatakan batal karena agresi berulang AS. Media Iran melaporkan bahwa serangan AS telah menyebabkan kerusakan infrastruktur dan memicu gelombang protes di beberapa kota.
Para analis internasional menilai bahwa langkah Iran ini merupakan sinyal keras bahwa Teheran tidak akan mentolerir campur tangan militer AS. Di tengah situasi yang memanas, Iran tetap menggabungkan upaya diplomasi dan kesiapan militer demi mempertahankan kepentingan nasional. Iran Nyatakan MoU Perdamaian Batal usai Serangan Baru AS LPP RRI menjadi puncak dari ketegangan yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir, dan kini dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua negara.
Kesimpulannya, pembatalan MoU perdamaian ini menandai babak baru konflik Iran-AS yang berpotensi meluas ke kawasan. Masyarakat internasional mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali berdiplomasi. Namun, dengan ancaman serangan lanjutan dari AS dan tekad Iran untuk membalas, masa depan perdamaian di Timur Tengah semakin tidak menentu.











