FaktaHari – 28 Oktober 2026 | Nama ty jerome langsung mencuri perhatian di awal musim NBA 2026-27. Guard Memphis Grizzlies itu tampil luar biasa dan membawa timnya meraih empat kemenangan beruntun, sekaligus dinobatkan sebagai Player of the Week wilayah Barat. Performa apik ini sontak memantik spekulasi soal masa depannya, terutama dengan rumor transfer yang mulai berembus.
Jerome memang bukan nama baru di liga, tetapi musim ini ia benar-benar menjelma menjadi mesin skor Memphis. Dalam empat pertandingan pertama, ia mencatat rata-rata 29,8 poin, 6,3 asisten, dan 3,5 rebound per laga. Persentase tembakannya pun tergolong efisien: 50,6 persen dari lapangan, 37 persen dari luar busur, dan 88 persen dari garis lempar bebas. Puncaknya, ia mencetak 45 poin saat melawan Utah Jazz di laga pembuka, sebuah pernyataan keras bahwa ia siap menjadi pemain inti.
Berkat performa tersebut, ty jerome meraih gelar Player of the Week untuk konferensi Barat pada pekan pertama (20-25 Oktober). Ia memimpin NBA dengan rata-rata 34,7 poin per game, plus 6 asisten, dan akurasi tembakan 56,3 persen. Grizzlies menyapu bersih tiga laga pekan itu, dan Jerome menjadi pemain kedua dalam sejarah franchise yang mencetak 100 poin dalam tiga pertandingan pertama musim reguler.
Di kubu Timur, Tyrese Maxey dari Philadelphia 76ers juga mendapat penghargaan serupa. Maxey membawa Sixers ke rekor 3-1 dengan rata-rata 28,8 poin, 4 rebound, dan 4,8 asisten. Salah satu momen paling ikonik terjadi pada 25 Oktober ketika ia menutup kuarter pertama dengan tembakan dari logo tengah lapangan. Kompetisi untuk penghargaan pekan pertama pun ketat, dengan nama-nama seperti Luka Doncic, Austin Reaves, Anthony Edwards, Shai Gilgeous-Alexander, dan Cade Cunningham turut bersaing.
Namun, di balik gemilangnya performa ty jerome, ada awan gelap yang mengintai. Jurnalis NBA ternama, Marc Stein, melaporkan bahwa Jerome kemungkinan besar akan menjadi target bursa transfer sebelum batas waktu 11 Februari. Stein menyoroti arah pembangunan Memphis yang tampak ingin fokus pada trio muda Cam Boozer, Zach Edey, dan Cedric Coward. Dalam skenario itu, Jerome yang sudah berusia 29 tahun bisa jadi komoditas menarik bagi tim yang ingin bersaing langsung, seperti Oklahoma City Thunder, meski belum ada negosiasi konkret.
Kontrak Jerome juga menjadi faktor. Ia menandatangani kontrak tiga tahun senilai 27,6 juta dolar AS pada 2025, dengan opsi pemain untuk musim 2027-28. Keputusan Jerome pada musim panas mendatang bisa memengaruhi rencana Memphis. Di satu sisi, ia masih produktif dan bisa menjadi mentor bagi pemain muda; di sisi lain, nilai tukarnya tinggi untuk ditukar dengan aset masa depan.
Dalam analisis dynasty basketball, Jerome disebut sebagai “bargain play” yang menarik. Ada risiko cedera dan penurunan performa, tetapi juga potensi ia tetap menjadi point guard kelas atas hingga usia 30-an. Memphis sendiri diuntungkan dengan kehadiran Jerome yang telah membawa mereka memenangkan empat laga awal untuk kedua kalinya dalam sejarah franchise. Kemenangan 110-105 atas Jazz pada 26 Oktober lalu menjadi bukti ketangguhan Jerome, yang mencetak 8 dari 15 poinnya di enam menit terakhir, termasuk dua lempar bebas krusial dengan sisa 11,6 detik.
Dengan performa setinggi ini, ty jerome telah mengubah ekspektasi. Ia bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bintang yang mampu menentukan arah permainan. Pertanyaannya kini: apakah Memphis akan mempertahankannya atau melepasnya demi masa depan? Satu hal yang pasti, ty jerome telah membuktikan bahwa kerja keras dan kesempatan bisa mengubah segalanya. Publik Memphis berharap ia tetap bersinar di FedExForum, setidaknya hingga musim ini berakhir.
