FaktaHari – 27 Oktober 2026 | Dunia sepak bola kembali diguncang kontroversi. Dalam gelaran fifa + U15 World Cup & Festival 2026 yang berlangsung di Azerbaijan, pertandingan antara Inggris dan Republik Irlandia terpaksa dihentikan setelah pemain Inggris meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas dugaan pelecehan rasial. Insiden ini menjadi sorotan tajam dan memicu penyelidikan resmi dari FIFA.
Peristiwa bermula pada menit-menit akhir pertandingan ketika seorang pemain Inggris mendekati pinggir lapangan untuk melaporkan dugaan pelecehan rasial yang dilakukan oleh pemain Republik Irlandia. Pelatih kepala Inggris, Matt Thorpe, segera memanggil wasit dan menyampaikan keberatan. Namun, wasit dikabarkan tidak mendengar laporan tersebut dengan jelas. Tanpa ragu, Thorpe menginstruksikan seluruh pemainnya untuk meninggalkan lapangan, meskipun saat itu Inggris tertinggal 1-4 dari Irlandia.
Juru bicara FIFA menyatakan bahwa pihaknya sedang mengumpulkan laporan resmi dan akan merujuk kasus ini ke komite disiplin independen. “FIFA mengetahui insiden dalam pertandingan Piala Dunia U15 dan Festival antara Inggris dan Republik Irlandia. Pertandingan dihentikan oleh wasit setelah Inggris menolak melanjutkan. Laporan resmi sedang dikumpulkan, dan masalah ini akan diserahkan kepada komite disiplin independen,” ujarnya.
Insiden ini mencoreng citra fifa + sebagai ajang pembinaan talenta muda. Namun, di sisi lain, turnamen ini juga melahirkan kisah inspiratif dari tim Malaysia U15 yang tampil gemilang. Dalam laga ketiga Grup H, Malaysia menghancurkan Ethiopia dengan skor 5-0. Gol dicetak oleh Danny Firas Musleyadi (menit ke-4), Aqheef Haiqal Koko (21′, 23′), dan Iman Lutfi Zairol Hisham (29′, 39′).
Sebelumnya, Malaysia juga mengalahkan Dominica 3-1 dan Suriah 3-1. Dengan demikian, Malaysia telah mengoleksi 9 poin dari tiga pertandingan, mencetak 11 gol dan hanya kebobolan 2 kali. Meski begitu, mereka masih berada di peringkat kedua Grup H di bawah Meksiko yang memiliki selisih gol lebih baik (+13 berbanding +9). Pada 26 Oktober, Malaysia akan menghadapi Hungaria dan Meksiko dalam dua laga terakhir. Duel melawan Meksiko akan menjadi penentu siapa yang berhak lolos sebagai juara grup.
Prestasi Malaysia ini menjadi angin segar bagi sepak bola Asia Tenggara. Di tengah kontroversi yang melibatkan fifa +, tim muda Malaysia menunjukkan bahwa kualitas sepak bola tidak selalu ditentukan oleh kekuatan finansial atau popularitas. Iman Lutfi, dengan empat gol dalam dua laga terakhir, kini menjadi top skor sementara dan incaran klub-klub besar.
Sementara itu, FIFA sebagai organisasi payung sepak bola dunia tengah menghadapi ujian berat. Isu rasisme di level junior menunjukkan bahwa edukasi dan penegakan disiplin masih perlu ditingkatkan. Melalui program fifa + Forward, FIFA telah mengalokasikan dana sekitar 2,25 miliar USD untuk pengembangan sepak bola global pada siklus 2023-2026. Setiap asosiasi anggota bisa mengakses hingga 8 juta USD untuk pembangunan infrastruktur, akademi, dan program anti-diskriminasi. Namun, insiden di Azerbaijan membuktikan bahwa uang saja tidak cukup untuk mengubah budaya.
Di sisi lain, kepemimpinan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA masih menuai dukungan dari banyak asosiasi kecil, terutama karena kebijakan perluasan Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim. Dengan tambahan kuota untuk Asia (8+1) dan Afrika (9+1), negara-negara berkembang memiliki peluang lebih besar untuk tampil di panggung dunia. Kebijakan ini dianggap sebagai strategi cerdas untuk merangkul suara dari 211 asosiasi anggota, di mana setiap asosiasi memiliki satu suara dalam pemilihan presiden.
Kombinasi antara kontroversi rasisme dan prestasi Malaysia menunjukkan bahwa fifa + adalah cermin ganda dari sepak bola dunia: di satu sisi penuh intrik dan masalah sosial, di sisi lain menyimpan harapan dan kejutan dari tim-tim underdog. Publik menantikan langkah tegas FIFA dalam menangani kasus rasial, sekaligus melanjutkan dukungan bagi tim-tim seperti Malaysia yang telah mengharumkan nama bangsa.
Dengan semua dinamika ini, Piala Dunia U15 2026 akan dikenang bukan hanya karena skor dan gol, tetapi juga karena momen ketika Inggris memilih berdiri teguh melawan rasisme, dan ketika Malaysia membuktikan bahwa mimpi bisa diraih di lapangan hijau. FIFA kini dituntut untuk bertindak adil dan transparan agar kepercayaan terhadap sepak bola tetap terjaga.
