Sabah FC di Pusaran Kontroversi: Dari Kekalahan Dramatis hingga Insiden Kebersihan di Liga Champions

Sabah FC di Pusaran Kontroversi: Dari Kekalahan Dramatis hingga Insiden Kebersihan di Liga Champions
Sabah FC di Pusaran Kontroversi: Dari Kekalahan Dramatis hingga Insiden Kebersihan di Liga Champions

FaktaHari – 23 Oktober 2026 | Sabah FC kembali menjadi sorotan dunia sepak bola Eropa setelah rangkaian peristiwa kontroversial yang mewarnai kiprah mereka di ajang Liga Champions. Klub asal Azerbaijan tersebut baru saja menelan kekalahan tipis 1-2 dari Borussia Dortmund dalam laga lanjutan fase grup yang digelar di Stadion Olimpiade Baku. Namun, sorotan tidak hanya tertuju pada hasil pertandingan, melainkan juga pada keputusan kontroversial tim tamu yang memilih untuk tidak menggunakan fasilitas kamar mandi di stadion milik Sabah FC.

Pertandingan yang berlangsung pada Selasa malam itu menjadi panggung bagi striker Borussia Dortmund, Serhou Guirassy, yang mencetak dua gol kemenangan. Gol pembuka Guirassy pada menit ke-10 sempat disamakan oleh Aden McCarthy pada menit ke-53, sebelum akhirnya Guirassy kembali mencatatkan namanya di papan skor untuk memastikan tiga poin bagi tim asuhan Niko Kovac. Kemenangan ini membawa Dortmund mengumpulkan enam poin, sementara Sabah FC tertahan di posisi ketiga dengan koleksi tiga poin.

Yang membuat laga ini semakin menarik adalah keputusan tim pelatih Borussia Dortmund yang melarang para pemainnya untuk mandi di stadion usai pertandingan. Menurut laporan yang beredar, larangan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan terhadap potensi paparan bakteri legionella yang dapat menyebabkan penyakit legionellosis. Pelatih Niko Kovac mengonfirmasi bahwa instruksi serupa juga diterapkan saat sesi latihan sehari sebelum pertandingan. “Kami juga tidak mandi setelah latihan pada Senin, dan kami segera kembali ke hotel. Kami diminta untuk tidak mandi di sini,” ujar Kovac dalam konferensi pers.

Direktur olahraga Dortmund, Ole Book, mencoba meredakan ketegangan dengan pernyataan yang lebih diplomatis. Ia menyebut bahwa kamar mandi di hotel lebih nyaman dan pihaknya ingin memastikan para pemain segera mendapatkan fasilitas yang layak. “Saya pikir kamar mandi hotel sedikit lebih ramah. Itu sebabnya kami memastikan para pemain cepat sampai,” ujarnya singkat. Meski demikian, insiden ini tetap mencoreng citra Sabah FC sebagai tuan rumah, mengingat Stadion Olimpiade Baku yang pernah menjadi venue Euro 2021 seharusnya memiliki standar fasilitas kelas atas.

Di sisi lain, kekalahan dari Dortmund menjadi pukulan telak bagi Sabah FC yang tengah berjuang menunjukkan eksistensinya di pentas Eropa. Meski demikian, klub asal Azerbaijan ini masih memiliki peluang untuk bangkit di sisa pertandingan fase grup. Jadwal berikutnya akan mempertemukan Sabah FC dengan Sumgayit FC dalam laga yang dijadwalkan berlangsung pada 20 November 2026 di Mehdi Hüseynzade. Pertandingan ini diprediksi akan menjadi ajang pembuktian bagi Sabah FC untuk kembali ke jalur kemenangan sekaligus mengalihkan perhatian dari kontroversi yang ada.

Bagi penggemar sepak bola Tanah Air, nama Sabah FC mungkin terdengar mirip dengan Sabah, salah satu negara bagian di Malaysia. Namun, keduanya tidak memiliki keterkaitan secara langsung. Sabah FC adalah klub profesional yang berbasis di Azerbaijan dan berkompetisi di liga domestik serta Liga Champions. Sementara itu, di Malaysia, isu terkait Sabah lebih banyak berkaitan dengan operasi penegakan hukum terhadap pencurian peralatan telekomunikasi yang melibatkan sejumlah tempat usaha di Kota Kinabalu.

Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti, performa Sabah FC di Liga Champions tetap patut diperhitungkan. Tim ini telah menunjukkan kemampuan bersaing dengan klub-klub besar Eropa, meskipun masih harus belajar dari pengalaman pahit seperti kekalahan dari Dortmund. Dukungan dari suporter setia di Azerbaijan diharapkan dapat menjadi motivasi tambahan bagi para pemain untuk meraih hasil positif di laga-laga selanjutnya.

Dengan jadwal padat yang menanti, Sabah FC dituntut untuk segera fokus dan memperbaiki diri. Insiden kebersihan di stadion seharusnya menjadi evaluasi bagi manajemen klub untuk meningkatkan standar fasilitas, sehingga tidak lagi menjadi bahan perbincangan negatif di kancah internasional. Kualitas sepak bola yang ditampilkan di lapangan tetap menjadi prioritas utama, dan Sabah FC memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka adalah tim yang patut diperhitungkan di Eropa.

Exit mobile version