FaktaHari – 22 Juli 2026 | Uang hadiah Piala Dunia Spanyol bakal dipangkas pajak 30% oleh AS setelah Timnas Spanyol sukses menjuarai Piala Dunia 2026. La Roja mengalahkan Argentina 1-0 di final yang digelar di New York New Jersey Stadium, Senin (20/7/2026). Sebagai kampiun, Spanyol berhak menerima hadiah sebesar 50 juta dolar AS atau setara Rp895 miliar dari FIFA. Namun, kebahagiaan itu terusik karena pemerintah Amerika Serikat berencana memotong hadiah tersebut dengan pajak federal hingga 30 persen.
Kebijakan ini menuai kritik keras dari sejumlah anggota Kongres AS. Tim Burchett, anggota Kongres dari Partai Republik, menyebut kebijakan tersebut sebagai penipuan. “Saya rasa ini perampokan. Kami ingin mendorong orang datang ke sini dan menghabiskan uang, tetapi kami mengambil sebagian besar dari itu,” ujarnya kepada Fox News Digital. Anggota Kongres lainnya, Jonathan Jackson, juga mengecam tarif pajak yang tinggi ini. “Ini salah, dan menyoroti masalah yang lebih besar dalam sistem perpajakan kita. Perusahaan seharusnya membayar lebih banyak pajak dibandingkan pekerja,” kata Jackson.
Uang hadiah Piala Dunia Spanyol bakal dipangkas pajak 30% oleh AS menjadi sorotan utama di tengah euforia kemenangan. Selain hadiah dari FIFA, para pemain Spanyol juga mendapatkan bonus dari Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF). Menurut laporan Gestha yang dikutip The Mirror, setiap pemain berpotensi menerima bonus kotor sekitar 754.701 euro (Rp15,4 miliar). Namun, setelah dipotong pajak AS dan pajak Spanyol, diperkirakan hanya separuh yang akan diterima. Total bonus dari RFEF berasal dari 45% hadiah FIFA sebesar 44 juta euro, yang dibagi rata kepada 26 pemain.
Keputusan AS memungut pajak atas hadiah internasional ini tidak hanya berdampak pada Spanyol. Secara umum, uang hadiah Piala Dunia sering kali dikenakan pajak di negara penyelenggara berdasarkan perjanjian pajak bilateral. Namun, tarif 30% dinilai sangat tinggi. Anggota Kongres Burchett menekankan perlunya reformasi sistem pajak. “Uang hadiah Piala Dunia Spanyol bakal dipangkas pajak 30% oleh AS — ini contoh sistem yang tidak adil,” tegasnya.
Sementara itu, FIFA sendiri sukses meraup keuntungan fantastis dari Piala Dunia 2026. Dilaporkan, FIFA mengantongi pendapatan hingga 15 miliar dolar AS (Rp269 triliun), dua kali lipat dibanding edisi Qatar 2022. Lonjakan ini dipicu oleh penambahan jumlah tim menjadi 48 dan harga tiket yang melambung. Meski demikian, kebijakan perpajakan AS terhadap hadiah juara justru menimbulkan polemik.
Bagi para suporter, perjalanan ke Piala Dunia 2026 juga membutuhkan biaya tidak sedikit. Seperti dilansir The New York Times, pengeluaran suporter bervariasi dari kurang dari 1.000 dolar AS hingga lebih dari 19.000 dolar AS tergantung jumlah pertandingan dan kota yang dikunjungi. Biaya tiket, akomodasi, dan transportasi menjadi komponen utama. Namun, di balik euforia, isu perpajakan ini menjadi pengingat bahwa aspek finansial turnamen tidak selalu menguntungkan bagi semua pihak.
Uang hadiah Piala Dunia Spanyol bakal dipangkas pajak 30% oleh AS akhirnya menjadi sorotan global. Banyak pihak menilai bahwa kebijakan ini dapat mengurangi minat tim-tim besar untuk bertanding di AS di masa depan. Meskipun presiden AS saat itu, Donald Trump, sempat bercanda agar turnamen selanjutnya hanya digelar di AS tanpa Kanada dan Meksiko, realitas perpajakan tetap menjadi hambatan.
Kesimpulannya, kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026 tidak hanya membawa kebanggaan, tetapi juga problematika fiskal. Pajak 30% oleh AS berpotensi mengurangi nilai hadiah yang diterima secara signifikan. Kritik dari politikus AS sendiri menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap sistem perpajakan yang ada. Ke depannya, perlu ada dialog antara FIFA, negara penyelenggara, dan otoritas pajak untuk menciptakan kebijakan yang lebih adil bagi semua pihak.











