IHSG Bergejolak 4.000 Poin, Lo Kheng Hong dan Seni Value Investing Jadi Penyelamat Investor Ritel

IHSG Bergejolak 4.000 Poin, Lo Kheng Hong dan Seni Value Investing Jadi Penyelamat Investor Ritel
IHSG Bergejolak 4.000 Poin, Lo Kheng Hong dan Seni Value Investing Jadi Penyelamat Investor Ritel

FaktaHari – 04 November 2026 | Pasar saham Indonesia tengah diuji oleh gejolak besar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak lebih dari 4.000 poin di tengah aksi jual investor asing, memaksa investor ritel untuk berpikir ulang tentang strategi mereka. Di tengah ketidakpastian ini, nama Lo Kheng Hong kembali mencuat sebagai rujukan. Investor kawakan yang dikenal sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’ itu konsisten menerapkan strategi value investing, sebuah pendekatan yang berfokus pada pembelian saham di bawah nilai intrinsiknya. Bagi banyak investor ritel, sosok Lo Kheng Hong menjadi bukti bahwa kesabaran dan analisis fundamental yang mendalam dapat bertahan di pasar yang bergejolak.

Mandiri Sekuritas mendefinisikan value investing sebagai strategi investasi yang berfokus pada saham dengan harga di bawah nilai intrinsik. Dengan demikian, investor diharuskan melihat nilai sebuah perusahaan, dan bukan hanya harga pasar dalam berinvestasi. “Artinya, investor bisa memilih perusahaan dengan fundamental kuat yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya, sehingga berpotensi memberikan keuntungan dalam jangka panjang,” seperti tertulis dalam laman resmi Mandiri Sekuritas, Jumat (30/10). Pendekatan inilah yang selama bertahun-tahun dijalankan oleh Lo Kheng Hong, yang kerap mengabaikan fluktuasi jangka pendek dan fokus pada kinerja bisnis emiten.

Sejarah IHSG menunjukkan betapa tajamnya pergerakan indeks. IHSG mencapai puncak tertinggi sepanjang masa di level 9.134,7 poin pada 20 Januari 2026. Namun, indeks masuk ke tren pelemahan sejak awal Februari dan menyentuh titik terendah tahun ini di level 4.996,61 pada Senin (19/10). Terakhir kali IHSG diperdagangkan di bawah level 5.000 poin adalah pada Maret-Oktober 2026 akibat pandemi Covid-19. Terlepas pandemi, IHSG tercatat mulai menjauhi level 5.000 pada Juni 2016. Dalam situasi seperti ini, strategi yang dipegang oleh Lo Kheng Hong menjadi semakin relevan untuk dicermati.

MNC Sekuritas menyatakan cara paling sederhana untuk memulai value investing adalah mencari emiten dengan harga saham yang tidak sesuai dengan laporan keuangannya. Beberapa teknik analisa yang bisa digunakan adalah top-down dari kondisi keuangan, pergerakan harga saham, dan daya beli masyarakat. Namun harga saham yang tidak sesuai dengan kinerja keuangan emiten bukan berarti saham dengan harga murah. Karena itu, MNC Sekuritas merekomendasikan beberapa rasio keuangan yang harus diperhatikan seperti rasio harga terhadap pendapatan (PER), nilai harga terhadap pemesanan (PBV), rasio pendapatan terhadap aset (ROA), hingga rasio pendapatan terhadap ekuitas (ROE). “Pengambilan keputusan value investor tentunya memerlukan data yang komprehensif,” seperti tertulis di laman resmi MNC Sekuritas.

Setidaknya ada empat investor ternama yang menggunakan strategi value investing, dan Lo Kheng Hong adalah salah satunya. Konsistensinya dalam memegang saham-saham yang dianggap undervalued telah memberinya keuntungan luar biasa. Bagi investor ritel yang ingin meniru jejak Lo Kheng Hong, ada beberapa langkah yang bisa diikuti:

  • Pelajari laporan keuangan emiten secara mendalam, bukan sekadar melihat pergerakan harga saham.
  • Hitung rasio keuangan seperti PER, PBV, ROA, dan ROE untuk menilai kewajaran harga.
  • Pahami industri dan model bisnis perusahaan agar yakin bahwa nilai intrinsiknya tetap terjaga.
  • Bersabar dan tidak terpengaruh oleh sentimen pasar jangka pendek, sebagaimana yang selalu ditekankan oleh Lo Kheng Hong.

Gejolak IHSG yang mencapai 4.000 poin lebih sepanjang tahun ini mencerminkan besarnya tekanan eksternal dan domestik. Aksi jual investor asing memperparah pelemahan indeks, tetapi di sisi lain menciptakan peluang bagi investor yang memiliki horizon jangka panjang. Value investing menawarkan kerangka kerja yang rasional: membeli bisnis yang baik ketika harganya sedang tidak mencerminkan nilai sebenarnya. Lo Kheng Hong telah membuktikan bahwa strategi ini mampu melewati berbagai siklus pasar, termasuk krisis.

Meski demikian, bukan berarti value investing bebas risiko. Harga saham yang terus turun bisa saja mengindikasikan masalah fundamental yang belum terlihat. Oleh karena itu, investor ritel perlu melakukan diversifikasi dan tidak menaruh seluruh dana pada satu emiten. Mengikuti jejak Lo Kheng Hong bukanlah tentang meniru saham yang dibelinya, melainkan meniru disiplin dan proses analisisnya. Dengan begitu, investor ritel dapat lebih siap menghadapi pasar saham yang bergejolak dan memanfaatkan momentum untuk membangun portofolio yang tangguh.

Pada akhirnya, gejolak IHSG adalah ujian bagi psikologi investor. Di sinilah value investing berperan sebagai jangkar, dan sosok seperti Lo Kheng Hong menjadi pengingat bahwa kesabaran serta keyakinan pada nilai intrinsik perusahaan adalah kunci. Investor ritel yang mampu mengendalikan emosi dan fokus pada fundamental akan memiliki peluang lebih besar untuk meraih keuntungan jangka panjang, bahkan ketika pasar sedang tidak bersahabat.

Exit mobile version