IHSG Menanjak ke 5.096, Harga Saham Barang Baku dan Energi Jadi Motor Penggerak

IHSG Menanjak ke 5.096, Harga Saham Barang Baku dan Energi Jadi Motor Penggerak
IHSG Menanjak ke 5.096, Harga Saham Barang Baku dan Energi Jadi Motor Penggerak

FaktaHari – 03 November 2026 | Harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menunjukkan geliat positif pada perdagangan awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 0,79% ke level 5.096 pada Senin (2/11/2026), setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 5.125. Penguatan ini tidak lepas dari aksi beli yang mendominasi sektor barang baku, energi, dan infrastruktur, yang masing-masing melesat 2,11%, 1,52%, dan 1,41%.

Volume perdagangan tercatat mencapai 35,4 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,42 triliun dan frekuensi 1,45 juta kali. Sebanyak 315 saham menguat, 285 saham melemah, dan 118 saham stagnan. Meski IHSG menguat, investor asing masih mencatatkan net foreign sell sebesar Rp342,08 miliar di seluruh pasar hingga sesi I, dengan total pembelian asing Rp2,21 triliun dan penjualan asing Rp2,55 triliun.

Di tengah dinamika tersebut, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi yang paling banyak diborong asing dengan net buy Rp47,80 miliar atau setara 36,28 juta saham. Posisi berikutnya ditempati PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan net buy Rp36,21 miliar (290,48 juta saham) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp23,52 miliar (10,28 juta saham). Selanjutnya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dibeli bersih Rp15,49 miliar, disusul PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp15,37 miliar dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp14,34 miliar. Asing juga mengakumulasi PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) senilai Rp13,32 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp12,61 miliar, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) Rp9,09 miliar, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) Rp8,02 miliar.

Sebaliknya, tekanan jual asing paling besar menimpa PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan net sell Rp94,95 miliar atau 8,82 juta saham. Saham perbankan juga banyak dilepas, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp81,76 miliar (22,01 juta saham) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp71,29 miliar (25,49 juta saham). Asing turut melepas PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) senilai Rp67,28 miliar, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp49,87 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp36,84 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp26,90 miliar, PT Timah Tbk (TINS) Rp26,82 miliar, PT Alamri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp25,03 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp20,15 miliar.

Kepala BEI Jeffrey Hendrik memastikan bahwa saham-saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) telah dikeluarkan dari perhitungan IHSG per Senin (2/11/2026). “Jumat setelah pasar tutup, seluruh saham HSC sudah dikeluarkan dari mesin perhitungan indeks,” ujar Jeffrey di Jakarta. Ia menambahkan bahwa jumlah saham dalam IHSG kini sekitar 800, turun sekitar 100 dari sebelumnya. Jeffrey juga menjelaskan bahwa metode random checking untuk laporan free float dan saham terafiliasi akan menjangkau semua emiten secara bertahap. “Naik turun itu memang dinamika pasar. Mekanisme pasar sedang bekerja. Indeks hanya mengeluarkan itu,” tegasnya.

Sementara itu, bursa Wall Street pada perdagangan Senin (2/11) ditutup bervariasi. Indeks Nasdaq turun 1,07% ke level 25.164,32 dan S&P 500 terkoreksi 0,51% ke posisi 7.541,40, seiring investor terus mengurangi investasi pada saham teknologi. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average naik 213,67 poin atau 0,41% ke level 51.983,98, ditopang penguatan saham sektor ekonomi tradisional seperti Sherwin-Williams yang melonjak hampir 6% dan Home Depot naik 3,6%. Saham Nvidia dan Meta Platforms masing-masing turun 1%, sementara Apple terkoreksi hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan. Saham Marvell Technology anjlok hampir 13% dan Lumentum merosot 18% setelah pengumuman akuisisi Lumentum oleh Marvell senilai US$115 miliar.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent anjlok 7,63% ke level US$104,77 per barel, sedangkan WTI turun 7,36% menjadi US$96,46 per barel. Penurunan harga minyak ini turut mempengaruhi sentimen pasar global. Managing Director Trading and Investing E-Trade Chris Larkin menilai prospek bullish pasar saham dalam jangka panjang mungkin mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir, tetapi tren tersebut masih terjaga. “Tantangan pasar saat ini terletak pada momentum jangka pendek. Pasar kesulitan mempertahankan penguatan selama lebih dari beberapa hari karena terus dibayangi lonjakan harga minyak, kekhawatiran terhadap belanja AI, inflasi hingga risiko geopolitik,” ujarnya.

Dengan keluarnya saham HSC dari perhitungan IHSG, para pelaku pasar diminta tidak terburu-buru menyimpulkan pergerakan indeks. Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada rilis laporan keuangan emiten dan perkembangan global yang dapat mempengaruhi harga saham di dalam negeri. Penguatan IHSG hari ini menjadi sinyal positif bahwa mekanisme pasar masih bekerja, meski tantangan eksternal tetap membayangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *