FaktaHari – 26 Oktober 2026 | Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah milisi Houthi mengklaim serangan terhadap fasilitas saudi aramco di Yanbu, kilang Rabigh, serta sejumlah bandara dan pangkalan militer di Arab Saudi. Klaim ini muncul di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang turut mengguncang pasar energi global. Serangan tersebut menambah tekanan pada saudi aramco, perusahaan minyak raksasa yang menjadi tulang punggung ekonomi Kerajaan Arab Saudi.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa pihaknya menargetkan fasilitas saudi aramco di Yanbu, kilang minyak Rabigh, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara King Fahd di Dammam, serta Bandara Najran. Selain itu, Houthi juga mengaku menyerang pangkalan udara di Khamis Mushait dan instalasi militer di Aden, Yaman. Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan telah mencegat dua rudal yang diarahkan ke Taif dan Yanbu, sementara otoritas setempat mengimbau warga di empat wilayah barat untuk mencari perlindungan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Arab Saudi mengenai dampak serangan tersebut.
Di sisi lain, Houthi melaporkan bahwa serangan udara koalisi telah menewaskan sedikitnya 16 orang di Sanaa dan sekitarnya. Angka ini belum dapat diverifikasi secara independen. Eskalasi ini terjadi setelah serangkaian serangan Houthi sebelumnya, termasuk serangan rudal ke kompleks istana presiden di Aden pada 15 Oktober yang menewaskan lima orang, serta dua rudal yang menghantam Bandara Internasional Aden sehari kemudian.
Menghadapi ancaman terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur minyak, Arab Saudi melalui saudi aramco tengah memperluas kapasitas pipa East-West (Petroline) dari 7 juta menjadi 10 juta barel per hari dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer ini menghubungkan wilayah produksi di timur Arab Saudi dengan Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga memungkinkan pengiriman minyak tanpa melewati Selat Hormuz yang rawan konflik. Pemerintah Arab Saudi menyebut peningkatan kapasitas ini memerlukan perbaikan stasiun pompa dan pembangunan infrastruktur tambahan.
Namun, penambahan kapasitas pipa tidak serta-merta menurunkan harga minyak dunia. Pasokan aktual tetap bergantung pada tingkat produksi, volume ekspor, kapasitas kilang, dan kondisi pasar global. Selain itu, jalur alternatif melalui Laut Merah juga menghadapi risiko serangan dan gangguan pelayaran, seperti yang baru-baru ini dilakukan Houthi. Kapasitas pipa Arab Saudi dan UEA pun belum mampu menggantikan seluruh volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz, yang masih memegang peran vital dalam pasokan energi dunia.
Ketegangan geopolitik ini juga memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan militer baru, sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi damai Rusia-Ukraina menunjukkan kemajuan besar. Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance menuduh Tehran mengancam pasokan energi dunia dan memprediksi harga bahan bakar akan turun setelah konflik berakhir. Mesir menyatakan dukungannya untuk Arab Saudi, dan Al-Azhar menyerukan komite mediasi darurat untuk mengakhiri kekerasan di Timur Tengah.
Di pasar minyak, harga sempat turun pada perdagangan Asia awal setelah Trump membebaskan sanksi terkait Rusia berdasarkan Undang-Undang Sanksi Rusia dan Iran Lindsey O. Graham. Namun, investor dan pelaku industri energi tetap waspada terhadap perkembangan konflik yang dapat memengaruhi pasokan dari kawasan Teluk. Serangan terhadap fasilitas saudi aramco menjadi pengingat bahwa infrastruktur energi vital masih rentan terhadap eskalasi militer.
Dengan situasi yang masih dinamis, Arab Saudi terus memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi rute ekspor. Namun, keamanan jalur alternatif dan stabilitas produksi menjadi kunci. Serangan Houthi terhadap saudi aramco menunjukkan bahwa ancaman terhadap infrastruktur minyak belum sepenuhnya teratasi, dan hal ini akan terus membayangi prospek pasar energi global hingga ketegangan di kawasan mereda.
