FaktaHari – 21 Juli 2026 | PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tengah menjadi sorotan pasar setelah beredar kabar bahwa perusahaan akan melepas 70% saham anak usahanya di bidang pusat data, PT Telkom Data Ekosistem atau NeutraDC. Aksi korporasi ini memicu pertanyaan besar di kalangan investor: Prospek saham TLKM usai dikabarkan jual 70% NeutraDC, bagaimana kinerjanya? Untuk menjawabnya, kita perlu mencermati dampak divestasi terhadap fundamental perusahaan serta strategi jangka panjang yang diusung.
Menurut sumber terpercaya, Telkom telah memasuki tahap akhir penjajakan dengan mitra strategis global yang akan mengakuisisi 70% saham NeutraDC. Valuasi transaksi diperkirakan mencapai US$1 miliar hingga US$1,5 miliar, setara dengan Rp18-27 triliun. Langkah ini dinilai sebagai upaya TLKM untuk memperkuat bisnis pusat data dengan menggandeng operator hyperscaler, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Prospek saham TLKM usai dikabarkan jual 70% NeutraDC, bagaimana kinerjanya? Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erinda Krisnawan, dalam risetnya menyebutkan bahwa transaksi ini berpotensi menambah nilai saham TLKM sekitar 4%, dengan target harga Rp3.900 per saham. Hal ini didasarkan pada asumsi rasio EV/EBITDA gabungan sebesar 5,4x.
NeutraDC saat ini berkontribusi sekitar 1,1% terhadap pendapatan TLKM berdasarkan kinerja kuartal I 2026. Namun, dengan rencana ekspansi besar-besaran, kontribusinya ditargetkan meningkat menjadi 3-5% dalam jangka menengah. Kapasitas pusat data NeutraDC di Cikarang, yang dikenal sebagai Kampus 1 JKT-1, memiliki kapasitas beban IT sebesar 21,5 MW. Dari jumlah tersebut, baru 3,5 MW yang beroperasi penuh, sementara 18 MW sisanya telah dibangun dan dikontrak penuh oleh penyewa, namun masih dalam tahap penyesuaian. Pengembangan Kampus 2 dengan teknologi rak pendingin cair juga direncanakan untuk meningkatkan total kapasitas di Cikarang menjadi 120 MW. Belanja modal untuk pengembangan pusat data diperkirakan mencapai US$10-12 juta per MW.
Di sisi lain, aksi divestasi ini mengingatkan pada langkah serupa yang dilakukan PT Indika Energy Tbk (INDY) yang melepas anak usaha batu baranya, PT Kideco Jaya Agung. Dalam kasus INDY, pelepasan aset utama berdampak signifikan terhadap pendapatan dan laba jangka pendek, namun membuka peluang diversifikasi ke bisnis ramah lingkungan. Bagi TLKM, divestasi NeutraDC justru dinilai sebagai langkah tepat untuk memonetisasi aset pusat data yang sedang naik daun, sekaligus mendapatkan mitra yang dapat mempercepat pertumbuhan. Prospek saham TLKM usai dikabarkan jual 70% NeutraDC, bagaimana kinerjanya? Analis menilai bahwa dengan struktur transaksi yang tepat, TLKM bisa memanfaatkan dana segar untuk memperkuat bisnis inti telekomunikasi dan ekspansi digital lainnya.
Performa keuangan TLKM sendiri masih solid. Pendapatan perseroan pada kuartal I 2026 tercatat stabil, dengan laba bersih yang terjaga. NeutraDC, meskipun kontribusinya masih kecil, memiliki potensi besar seiring pertumbuhan permintaan pusat data di Indonesia. Dengan hadirnya mitra global, TLKM dapat mengakses teknologi dan jaringan pelanggan internasional, yang pada akhirnya meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan. Investor pun diharapkan menyambut positif langkah ini, terlihat dari rekomendasi beli yang diberikan oleh BRI Danareksa Sekuritas.
Kesimpulannya, prospek saham TLKM setelah rencana divestasi 70% NeutraDC tampak cerah, asalkan eksekusi transaksi berjalan lancar dan dana hasil divestasi digunakan secara produktif. Kinerja keuangan jangka pendek mungkin terdampak karena hilangnya kontribusi pendapatan NeutraDC, namun dalam jangka panjang, langkah ini akan memperkuat posisi TLKM di era digital. Investor perlu mencermati perkembangan selanjutnya, termasuk pengumuman mitra strategis dan detail transaksi. Prospek saham TLKM usai dikabarkan jual 70% NeutraDC, bagaimana kinerjanya? Jawabannya akan terlihat dari realisasi aksi korporasi dan kemampuan TLKM dalam menjaga pertumbuhan bisnis inti di tengah perubahan portofolio.











