FaktaHari – 23 Agustus 2026 | Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berduka dan berjuang memulihkan diri setelah gempa bumi magnitudo 7,7 menghancurkan sebagian wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Guncangan dahsyat itu tidak hanya meruntuhkan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga memaksa ribuan warga mengungsi di berbagai titik. Di tengah kondisi yang berat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan bahwa skema bantuan perbaikan rumah untuk korban terdampak sudah disiapkan dan akan segera direalisasikan setelah proses verifikasi selesai.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa pendataan rumah rusak akan diverifikasi dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Menurutnya, verifikasi menjadi langkah penting agar bantuan tepat sasaran. Pemerintah tidak ingin ada warga yang terlewat, namun juga memastikan tidak ada penyalahgunaan. Setelah verifikasi selesai, langkah selanjutnya akan segera dilaksanakan sehingga warga bisa kembali menempati rumah yang lebih layak dan aman.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa aktivitas gempa susulan di Nusa Tenggara Timur masih belum berakhir. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan gempa susulan diperkirakan masih akan terjadi selama tiga hingga empat minggu ke depan. Hingga saat ini, lebih dari 4.000 gempa susulan telah terekam, dengan jumlah per 24 jam yang masih fluktuatif. Pada hari pertama tercatat 704 kejadian, naik menjadi 746 pada hari kedua, kemudian berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima. Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 802 kejadian pada hari keenam.
BMKG juga mencatat sejumlah gempa susulan signifikan yang kembali mengguncang warga. Guncangan kuat terjadi pada 19 Agustus 2026 pukul 23.17 WIB berkekuatan M5,6, disusul gempa M5,8 pada 20 Agustus 2026 pukul 05.45 WIB dan 09.47 WIB. Aktivitas seismik yang belum mereda ini memicu kerusakan tambahan pada bangunan dan jembatan yang sebelumnya sudah terdampak. Di beberapa titik, gempa susulan bahkan memicu tanah longsor. Distribusi gempa susulan tidak merata dan membentuk beberapa klaster, terutama di sekitar zona sumber gempa utama di utara Nagekeo serta di bagian barat zona sumber, tepatnya di utara Kabupaten Manggarai.
Peristiwa gempa besar ini mengingatkan banyak pihak pada gempa Flores tahun 1992 yang juga menimbulkan tsunami dahsyat. Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widjo Kongko, menjelaskan terdapat perbedaan penting antara kedua kejadian. Gempa 15 Agustus 2026 bermagnitudo 7,7, sementara gempa 1992 memiliki kekuatan 7,7 hingga 7,8. Meski hampir sama, tsunami yang dihasilkan sangat berbeda. Pada 1992, di Riangkroko, ujung timur laut Flores, run-up atau ketinggian gelombang mencapai 26,2 meter dan menelan ribuan korban jiwa. Widjo menekankan bahwa kekuatan gempa tidak selalu sebanding dengan besar tsunami. Tsunami terjadi ketika dasar laut bergerak akibat patahan, sehingga lokasi sumber, mekanisme patahan, arah slip, kedalaman, serta bentuk dasar laut dan pantai menjadi penentu utama.
Duka di Nusa Tenggara Timur kian bertambah dengan meninggalnya seorang balita asal Kabupaten Nagekeo. Mario Calviano Guru, balita berusia dua tahun, menghembuskan napas terakhir pada Kamis, 20 Agustus 2026, setelah sempat sakit saat berada di pengungsian. Ia mengalami demam tinggi disertai kejang-kejang. Warga dan petugas membawanya ke rumah sakit terdekat di Nagekeo, namun kondisinya terus menurun. Mario kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bajawa, Kabupaten Ngada, namun nyawanya tidak tertolong. Kapolres Ngada AKBP Gede Harimbawa membenarkan kabar duka tersebut.
Di tengah duka yang melanda Nusa Tenggara Timur, solidaritas dari berbagai daerah tetap mengalir. Ikatan Persaudaraan Flobamorata NTT – Pasundan (IPFP) justru menunjukkan kepedulian lintas wilayah dengan menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran di Kampung Adat Ciptamulya, Kabupaten Sukabumi. Ketua Flobamorata, Metu Holbala, menegaskan bahwa kepedulian tidak boleh berhenti meski sedang menghadapi musibah di kampung halaman. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa jarak dan perbedaan budaya tidak membatasi persaudaraan. Dalam kunjungan tersebut, anggota komunitas memadukan atribut Sunda berupa iket dengan selendang tenun khas NTT, melambangkan eratnya persaudaraan Indonesia.
Seluruh rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kerja keras bersama. Verifikasi bantuan rumah dari BNPB menjadi harapan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Kewaspadaan terhadap gempa susulan yang disampaikan BMKG juga harus diindahkan agar tidak ada lagi korban jiwa. Sementara pemerintah dan lembaga terkait terus bekerja, masyarakat di Nusa Tenggara Timur membutuhkan dukungan moril dan materil dari seluruh elemen bangsa. Semoga proses tanggap darurat hingga rehabilitasi berjalan lancar, dan warga NTT segera pulih dari keterpurukan ini.











