Berita  

Tukang Cukur Menolak Pasang Bendera Merah Putih, Bupati Bogor dan Ganjar Pranowo Bereaksi

Tukang Cukur Menolak Pasang Bendera Merah Putih, Bupati Bogor dan Ganjar Pranowo Bereaksi
Tukang Cukur Menolak Pasang Bendera Merah Putih, Bupati Bogor dan Ganjar Pranowo Bereaksi

FaktaHari – 16 Agustus 2026 | Seorang tukang cukur di Rancabungur, Kabupaten Bogor, mendadak viral setelah menolak memasang bendera Merah Putih menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia. Tukang cukur bernama Nurhidayat, yang akrab disapa Abuy, bahkan melontarkan pernyataan kontroversial, “Kata siapa sudah merdeka?” saat ditegur oleh Camat Rancabungur, Dita Aprillia. Peristiwa ini terekam dalam sebuah video yang kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu beragam reaksi dari publik.

Dalam video yang beredar, terlihat Camat Rancabungur menegur Abuy karena belum memasang bendera di depan kios pangkasnya. Namun, teguran tersebut justru disambut dengan pernyataan yang membuat suasana memanas. Ungkapan “Kata siapa sudah merdeka?” yang dilontarkan Abuy menjadi sorotan utama dan memicu perdebatan di dunia maya. Tak sedikit warganet yang mengecam sikap Abuy, namun ada pula yang membela dan mengaitkannya dengan kekecewaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan politik.

Menanggapi viralnya insiden ini, Bupati Bogor, Rudy Susmanto, angkat bicara. Rudy meminta semua pihak untuk tidak memperkeruh keadaan dan tetap mendukung program-program pemerintah. “Kalau pun kita memang tidak bisa berbuat baik untuk satu orang, minimal jangan membuat gaduh dan mendukung apa yang sedang dikerjakan,” ujarnya. Rudy juga mengingatkan bahwa bendera Merah Putih yang berkibar saat ini merupakan hasil perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga hingga nyawa. “Kita hanya bisa menyampaikan kepada semua pihak bahwa bendera yang berkibar hari ini, di situ ada jutaan, ratusan keringat dan tetesan darah, ada nyawa para pahlawan yang memperjuangkan kita,” tegasnya.

Tak hanya Bupati Bogor, mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga memberikan komentar. Ganjar menyoroti adanya unsur intimidasi dalam teguran yang dilakukan oleh camat kepada tukang cukur tersebut. Menurutnya, aparatur negara seharusnya menjadi pelayan masyarakat yang santun dan menghormati warga. “Abdi negara adalah pelayan masyarakat. Layani masyarakat dengan baik, santun, dan saling menghormati sesama manusia,” pesan Ganjar. Ia juga menambahkan bahwa kekecewaan terhadap pemerintah adalah hal yang wajar dalam demokrasi, dan harus disampaikan dengan cara yang santun pula.

Setelah video viral dan banyak mendapat sorotan, Abuy akhirnya memberikan klarifikasi. Ia mengaku telah meminta maaf dan memasang bendera Merah Putih di depan tempat usahanya. Dalam klarifikasinya, Abuy menjelaskan bahwa pernyataannya bukan bermaksud menolak kemerdekaan, melainkan bentuk ungkapan kekecewaan terhadap kondisi yang belum sepenuhnya merdeka, seperti ekonomi yang sulit dan banyaknya ketimpangan. Meski demikian, ia tetap memohon maaf kepada semua pihak yang merasa tersinggung.

Peristiwa ini juga mengingatkan kita pada profesi tukang cukur yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah modernisasi, keberadaan tukang cukur tradisional masih banyak ditemukan di berbagai pelosok. Berbeda dengan barbershop yang menawarkan layanan lengkap seperti cuci rambut, pijat ringan, hingga pemakaian produk grooming, pangkas rambut atau tukang cukur biasanya lebih mengutamakan kecepatan dan harga yang terjangkau. Meskipun begitu, keduanya sama-sama membantu pria merawat rambut.

Soal waktu potong rambut, penata rambut selebriti, Julius Arriola, menyarankan agar pria tidak menunggu rambut terlalu berantakan. “Setiap potongan rambut memiliki masa pakai yang berbeda,” kata Arriola. Bagi pria yang memanjangkan rambut, pemangkasan tetap diperlukan agar bentuknya tidak kehilangan proporsi dan keseimbangan. Menurutnya, rambut panjang yang tidak pernah dipotong akan kehilangan arsitektur desainnya dan membuat penampilan terlihat tidak terawat.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam memperingati hari kemerdekaan, semangat kebersamaan dan rasa hormat harus tetap dijaga. Pemerintah dan masyarakat perlu berdialog secara santun tanpa harus ada intimidasi. Kekecewaan yang muncul adalah hal yang manusiawi, namun penyampaiannya tetap harus dalam koridor yang menghormati nilai-nilai kebangsaan. Tukang cukur, seperti Abuy, juga memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, tetapi tetap harus menjaga simbol-simbol negara yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *