FaktaHari – 30 Juli 2026 | Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah Teheran meluncurkan serangan rudal balistik yang menargetkan pangkalan militer AS di Yordania. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melancarkan serangan mendadak pada Selasa malam, 28 Juli 2026. Dalam pernyataan resmi, CENTCOM menyebut rentetan rudal tersebut sebagai ‘upaya serangan mendadak’ terhadap pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah. Klaim ini langsung menjadi sorotan global, mengingat jeda pertempuran selama tiga hari sebelumnya sempat memicu harapan akan dibukanya kembali jalur diplomasi.
AS tuding rudal balistik IRGC hujani pangkalan AS, CENTCOM sebut serangan terjadi mendadak. Pernyataan tersebut ditegaskan kembali oleh juru bicara CENTCOM yang menyebut seluruh rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara AS dan sekutu. Tidak ada korban jiwa atau kerusakan signifikan yang dilaporkan. Namun, serangan ini mengakhiri masa tenang singkat yang dimulai sejak Presiden Donald Trump menghentikan sementara operasi militer pada 24 Juli. Sebelumnya, Trump sempat mengatakan adanya ‘peluang bagus’ untuk kemajuan negosiasi, namun serangan terbaru ini memupus harapan tersebut.
Menurut laporan dari Yordania, sistem pertahanan udara negara itu mencegat lima rudal Iran pada Rabu pagi. Pangkalan militer AS di Muwaffaq Salti disebut menjadi sasaran utama. Insiden ini menandai serangan rudal balistik pertama Iran terhadap fasilitas AS sejak jeda konflik. AS tuding rudal balistik IRGC hujani pangkalan AS, CENTCOM sebut serangan terjadi mendadak, dan hal ini memicu respons cepat dari Washington dan sekutunya.
Sebagai balasan, AS bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi logistik dan gudang senjata milik kelompok pro-Iran di Irak. CENTCOM menyatakan operasi tersebut merupakan respons terhadap lebih dari 30 serangan drone yang dilancarkan IRGC dalam 72 jam terakhir. ‘Militer Iran dan proksi-proksinya harus menghentikan serangan-serangan ini untuk menghindari respons militer AS lebih lanjut,’ tegas CENTCOM dalam pernyataannya.
Kenaikan intensitas ini terjadi setelah beberapa kapal di Selat Hormuz dihantam pada pertengahan Juli, memicu serangan balasan AS terhadap Iran. Teheran kemudian merespons dengan rudal dan drone. Jeda singkat akhir pekan lalu sempat meredakan tensi, namun kini konflik kembali memasuki fase eskalasi. Harga minyak yang sempat turun akibat gencatan senjata singkat kembali bergejolak, mengingat kawasan ini merupakan jalur vital pasokan energi global.
Pemerintah Iran hingga kini belum memberikan tanggapan resmi atas klaim CENTCOM. Namun, media lokal Iran melaporkan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap agresi AS. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan turut memantau situasi, menyusul kekhawatiran meluasnya konflik ke kawasan lain. AS tuding rudal balistik IRGC hujani pangkalan AS, CENTCOM sebut serangan terjadi mendadak, dan pernyataan ini menekankan kewaspadaan tinggi pasukan AS di seluruh Timur Tengah.
Kesimpulannya, serangan mendadak ini menunjukkan bahwa ketegangan AS-Iran masih jauh dari kata reda. Kegagalan gencatan senjata singkat membuka peluang terjadinya kembali pertempuran terbuka. Dengan keterlibatan aktor regional seperti Arab Saudi dan proksi Iran, stabilitas Timur Tengah terus terancam. Masyarakat internasional mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan, namun eskalasi terbaru ini menandakan bahwa konflik kemungkinan akan berlangsung lebih lama.











