FaktaHari – 29 Juli 2026 | Jakarta – Polemik rumah tangga Ruben Onsu dan Sarwendah kembali memanas. Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, mengungkap fakta baru yang cukup mengejutkan. Kata Minola, Ruben Onsu juga diminta bayar kartu kredit Sarwendah tanpa ada rincian jelas. Permintaan tersebut disebut terjadi setiap bulan selama masa pernikahan mereka.
Menurut Minola, tagihan kartu kredit Sarwendah pernah mencapai Rp100 juta dalam satu bulan. Dari total tersebut, Ruben diminta menanggung separuhnya atau sekitar Rp50 juta. Ruben tidak pernah menolak kewajibannya sebagai suami dan ayah, namun yang menjadi persoalan adalah ketiadaan transparansi. Kata Minola, Ruben Onsu juga diminta bayar kartu kredit Sarwendah tanpa ada rincian jelas, seperti daftar transaksi atau bukti belanja yang sah.
“Setiap bulan Ruben dimintakan setengah dari seluruh pemakaian kartu kredit di bulan itu oleh S, alasannya untuk anak-anak. Tapi Ruben tidak pernah melihat tagihan yang sesungguhnya berapa, penggunaannya untuk apa,” ujar Minola di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026). Ia menegaskan bahwa kliennya hanya menerima informasi berupa total nominal yang harus dibayar, tanpa rincian detail.
Kuasa hukum Ruben Onsu itu juga menyoroti bahwa di luar kewajiban kartu kredit tersebut, Ruben masih rutin membayar uang bulanan lebih dari Rp200 juta yang juga diperuntukkan bagi kebutuhan anak-anak. Namun, pihak Sarwendah mengklaim telah mandiri secara finansial sehingga tidak membutuhkan nafkah dari Ruben. Menanggapi hal itu, Minola mengingatkan bahwa kemandirian finansial seorang ibu tidak menghapus hak dan kewajiban seorang ayah terhadap anak-anaknya.
“Kalau misalnya dia juga mengatakan bahwa dia sudah mampu secara mandiri, tapi kan itu bukan berarti ayahnya tidak bisa memberikan nafkah. Yang memutuskan itu bukan ibunya,” tegas Minola. Ia menambahkan bahwa persoalan nafkah anak dan hak bertemu anak adalah dua hal yang berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan.
Dalam kesempatan yang sama, Minola juga membantah spekulasi bahwa Sarwendah pindah dari rumah di Cipete karena takut didatangi debt collector atau rumah akan dilelang. Berdasarkan komunikasi pihaknya dengan bank, rumah tersebut masih dalam proses penyelesaian kredit dan belum masuk tahap lelang. Bank juga tidak pernah mengirim penagih utang.
Kata Minola, Ruben Onsu juga diminta bayar kartu kredit Sarwendah tanpa ada rincian jelas. Ia menekankan bahwa Ruben tidak menolak membayar, tetapi membutuhkan transparansi agar dana yang dikeluarkan benar-benar digunakan untuk kepentingan anak-anak. “Ruben beberapa kali mempertanyakan barang atau kebutuhan apa saja yang dibeli menggunakan kartu kredit tersebut,” jelas Minola.
Praktik pembayaran tanpa rincian ini dinilai merugikan Ruben karena ia tidak bisa memastikan apakah uang yang ia berikan benar-benar dipakai untuk anak-anak atau keperluan pribadi Sarwendah. Minola berharap ke depannya ada keterbukaan dari pihak Sarwendah sehingga tidak ada lagi kebingungan atau praduga yang tidak sehat.
Fakta ini menjadi babak baru dalam sengketa rumah tangga Ruben Onsu dan Sarwendah. Publik pun menanti kepastian hukum terkait hak asuh anak dan kewajiban nafkah yang masih bergulir. Kata Minola, Ruben Onsu juga diminta bayar kartu kredit Sarwendah tanpa ada rincian jelas, dan hal ini menjadi salah satu poin yang akan diperjuangkan di meja hukum.
Dengan demikian, kasus ini mengingatkan pentingnya transparansi keuangan dalam rumah tangga, terutama ketika melibatkan kewajiban bersama. Ruben Onsu melalui kuasa hukumnya berharap semua pihak dapat menyelesaikan persoalan ini dengan kepala dingin demi kepentingan terbaik bagi anak-anak.











