FaktaHari – 24 Juli 2026 | Israel panik, AS bolehkan Saudi perkaya uranium [titlebase] menjadi isu panas yang mengguncang kawasan Timur Tengah. Kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Arab Saudi yang memungkinkan Riyadh melakukan pengayaan uranium telah memicu kekhawatiran serius di Israel. Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menilai langkah ini sebagai ‘kegagalan strategis’ yang dapat memicu perlombaan senjata nuklir regional.
Israel panik, AS bolehkan Saudi perkaya uranium [titlebase] setelah laporan mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump telah menyetujui perjanjian kerja sama nuklir sipil dengan Arab Saudi. Perjanjian tersebut tidak hanya mencakup pembangunan reaktor nuklir, tetapi juga membuka peluang bagi Saudi untuk memperkaya uranium di dalam negeri. Departemen Energi AS menyambut baik kesepakatan ini sebagai langkah ‘bersejarah’, namun Israel justru melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional.
Kekhawatiran Israel semakin memuncak ketika sejumlah politisi senior seperti Avigdor Lieberman dan Yair Golan mengecam Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena dianggap gagal mencegah kesepakatan tersebut. ‘Program nuklir sipil Arab Saudi akan berakhir dengan senjata nuklir dan akan menyebabkan perlombaan senjata yang gila-gilaan di seluruh Timur Tengah,’ ujar Lieberman. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS menegaskan bahwa kerja sama ini tidak akan meningkatkan risiko proliferasi, namun Israel tetap waspada.
Presiden AS Donald Trump, melalui akun Truth Social, menyatakan bahwa perjanjian tersebut mewajibkan Saudi untuk bergabung dengan Abraham Accords dan menormalisasi hubungan dengan Israel. Trump juga menekankan bahwa ‘tidak akan ada pengayaan material’ dalam perjanjian ini. Namun, laporan dari The Wall Street Journal justru menyebutkan bahwa perjanjian tersebut memungkinkan pengayaan uranium apabila diperlukan, selama 30 tahun ke depan. Kontradiksi ini semakin memperkuat Israel panik, AS bolehkan Saudi perkaya uranium [titlebase] sebagai isu sentral.
Kesepakatan ini akan diajukan ke Kongres AS untuk ditinjau. Meski demikian, untuk membatalkannya, Kongres harus meloloskan resolusi bersama dengan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar. Israel berharap lobi mereka di Washington dapat menggagalkan perjanjian tersebut. Namun, dengan dukungan penuh dari pemerintahan Trump, prospek tersebut tampak tipis.
Dalam konteks geopolitik, Israel panik, AS bolehkan Saudi perkaya uranium [titlebase] bukan sekadar isu teknis, melainkan ancaman eksistensial. Jika Saudi berhasil memperkaya uranium, maka keseimbangan kekuatan di Timur Tengah akan berubah drastis. Negara-negara lain seperti Turki dan Uni Emirat Arab mungkin akan mengikuti jejak Saudi, memicu perlombaan senjata nuklir yang tak terkendali. Israel, yang selama ini menjadi satu-satunya negara dengan senjata nuklir di kawasan, akan kehilangan monopoli tersebut.
Kesimpulannya, kesepakatan nuklir AS-Saudi telah menempatkan Israel dalam posisi sulit. Langkah diplomatik dan lobi intensif perlu dilakukan untuk mencegah pengayaan uranium di Saudi. Tanpa tindakan tegas, risiko perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah akan menjadi kenyataan yang mengancam stabilitas global.











