Berita  

Houthi Berlakukan Blokade Maritim untuk Saudi, Ancaman Baru di Laut Merah

Houthi Berlakukan Blokade Maritim untuk Saudi, Ancaman Baru di Laut Merah
Houthi Berlakukan Blokade Maritim untuk Saudi, Ancaman Baru di Laut Merah

FaktaHari – 21 Juli 2026 | Breaking news: Houthi berlakukan blokade maritim untuk Saudi [titlebase] pada Senin, 20 Juli 2026, menandai eskalasi terbesar dalam konflik Yaman sejak gencatan senjata 2022. Kelompok pemberontak yang didukung Iran tersebut mengumumkan larangan navigasi bagi kapal-kapal Arab Saudi di perairan strategis, termasuk Selat Bab al-Mandab, jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Pengumuman itu disampaikan oleh Juru Bicara Militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, dalam pidato yang disiarkan televisi. ‘Embargo maritim terhadap musuh kriminal Saudi, berdasarkan prinsip ‘mata dibayar mata’, berlaku segera setelah pernyataan ini dikeluarkan,’ tegas Saree, seperti dilansir sejumlah media internasional. Langkah ini dipicu oleh serangan udara yang diduga dilakukan Arab Saudi terhadap Bandara Internasional Sanaa pada pekan sebelumnya, yang oleh Houthi dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Ketegangan sebenarnya sudah meningkat sejak pertengahan Juli 2026. Pada 17 Juli, pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi mengancam akan menyerang fasilitas minyak dan infrastruktur vital Arab Saudi jika terjadi agresi skala penuh. ‘Semua fasilitas minyak dan instalasi vital Saudi adalah target rudal dan drone kami,’ katanya dalam pidato yang disiarkan televisi. Ancaman itu diperkuat dengan aksi nyata: Houthi meluncurkan rudal ke bandara-bandara di Arab Saudi sebagai balasan atas serangan di Sanaa.

Breaking news: Houthi berlakukan blokade maritim untuk Saudi [titlebase] ini merupakan respons terhadap apa yang disebut Houthi sebagai ‘pengepungan yang tidak adil dan represif terhadap rakyat Yaman selama hampir 12 tahun’. Mereka menuduh Riyadh menjarah sumber daya Yaman dan memberlakukan blokade total terhadap pelabuhan dan bandara di bawah kendali mereka, baik melalui darat, laut, maupun udara. Dalam pernyataan resmi, militer Houthi menegaskan bahwa blokade ini adalah hak rakyat Yaman untuk membalas, dan mereka siap menghadapi segala kemungkinan eskalasi.

Blokade ini berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional di Laut Merah, yang merupakan salah satu rute perdagangan tersibuk di dunia. Selat Bab al-Mandab menjadi titik krusial bagi kapal tanker minyak dan barang dagang yang menuju Terusan Suez. Jika Houthi benar-benar menghentikan kapal-kapal Saudi, dampaknya bisa meluas ke harga energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin rumit karena Arab Saudi selama ini memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional. Koalisi tersebut memberlakukan pembatasan ketat terhadap lalu lintas udara dan laut ke Yaman, yang oleh Houthi dan Iran dianggap sebagai blokade ilegal. Serangan terhadap Bandara Sanaa pada 13 Juli—yang menurut koalisi bertujuan mencegah pesawat Iran mendarat—menjadi pemicu langsung eskalasi saat ini.

Breaking news: Houthi berlakukan blokade maritim untuk Saudi [titlebase] juga memicu kekhawatiran akan kembalinya konflik terbuka antara kedua pihak. Sejak gencatan senjata informal pada Maret 2022, ketegangan relatif mereda meskipun sering terjadi pelanggaran kecil. Namun, serangan rudal Houthi ke Arab Saudi pekan lalu menjadi yang pertama dalam empat tahun, menunjukkan bahwa kesepakatan damai semakin rapuh.

Para analis memperingatkan bahwa blokade ini dapat mendorong Arab Saudi untuk melakukan serangan balasan yang lebih masif, termasuk terhadap infrastruktur strategis Yaman. Houthi sendiri menyatakan kesiapan untuk ‘eskalasi menyeluruh’ jika Riyadh mengambil tindakan gegabah. ‘Tindakan gegabah apa pun yang dilakukan oleh musuh Saudi yang bodoh melalui eskalasi menyeluruh akan dibalas dengan eskalasi yang menyeluruh dan keras,’ kata Saree dalam pernyataannya.

Di tengah meningkatnya ketegangan, masyarakat internasional mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Namun, dengan Houthi yang kini mengendalikan sebagian besar wilayah Yaman dan memiliki persenjataan rudal yang terus berkembang, blokade maritim ini menjadi senjata baru yang dapat mengubah peta konflik di kawasan. ke depan, Laut Merah mungkin akan menjadi medan pertempuran baru yang tidak hanya melibatkan Yaman dan Saudi, tetapi juga kepentingan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *