Berita  

Angkot Patungan Guru SD di Semarang, Antar Pulang Sekolah Aman Sampai Rumah Bayar Seikhlasnya

Angkot Patungan Guru SD di Semarang, Antar Pulang Sekolah Aman Sampai Rumah Bayar Seikhlasnya
Angkot Patungan Guru SD di Semarang, Antar Pulang Sekolah Aman Sampai Rumah Bayar Seikhlasnya

FaktaHari – 18 Juli 2026 | UNGARAN – Sebuah inisiatif mulia lahir dari para guru SD Negeri Bener 01 di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Mereka patungan Rp 20 juta untuk membeli sebuah angkot yang digunakan sebagai layanan antar pulang sekolah. Program yang dinamai ‘Angkot hasil patungan guru untuk layanan antar pulang sekolah, aman sampai rumah, bayar seikhlasnya [titlebase]’ ini bertujuan memastikan keselamatan siswa saat pulang ke rumah masing-masing.

Gani Prasasti, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah tersebut, sehari-hari beralih peran menjadi sopir angkot. Setelah mengajar, ia mengendarai angkot untuk mengantar 15 hingga 20 siswa ke beberapa titik pemberhentian di Desa Bener. Rute yang ditempuh sekitar tiga kilometer, mencakup dusun-dusun di sekitar sekolah. “Ada rute yang telah ditentukan, paling jauh sekira tiga kilometer, itu dua siswa pindahan. Di setiap dusun di Desa Bener ada tiga sampai empat titik turun para siswa,” ujarnya saat ditemui pada Kamis (16/7/2026).

Angkot hasil patungan guru untuk layanan antar pulang sekolah, aman sampai rumah, bayar seikhlasnya [titlebase] mulai beroperasi sejak Juni 2026, tepat sebelum libur awal tahun pelajaran baru. Ide ini muncul karena lokasi sekolah yang berada di tepi Jalan Raya Semarang–Solo, rawan kecelakaan lalu lintas. “Ini bagian dari fasilitas dan menjamin siswa yang pulang sekolah aman dan selamat sampai rumah. Alhamdulillah tidak pernah ada komplain dari orangtua karena mereka malah sangat terbantu dengan adanya mobil pengantar ini,” tambah Gani.

Biaya operasional angkot ditanggung secara sukarela oleh orang tua siswa. Mereka hanya diminta membayar seikhlasnya, tanpa tarif tetap. Sistem ini meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus memastikan anak-anak tetap aman. “Kami tidak mematok harga, orang tua membayar sesuai kemampuan. Yang penting anak sampai rumah dengan selamat,” jelas Gani.

Selama menjalankan tugas sebagai sopir, Gani mengaku sempat kesulitan menghafal titik antar rumah siswa. Untuk mengatasinya, ia dibantu oleh seorang pendamping yang mencatat alamat dan rute. Meski demikian, tantangan terbesar adalah ketika hujan deras atau kondisi jalan macet. “Tapi semua demi keselamatan siswa, saya ikhlas,” ujarnya tersenyum.

Program Angkot hasil patungan guru untuk layanan antar pulang sekolah, aman sampai rumah, bayar seikhlasnya [titlebase] mendapat sambutan hangat dari warga sekitar. Orang tua siswa merasa tenang karena anak-anak mereka tidak perlu lagi berjalan kaki di pinggir jalan raya yang padat. Salah seorang orang tua, Sari, mengaku sangat terbantu. “Dulu saya khawatir kalau anak pulang sendiri, apalagi jalan raya ramai. Sekarang tinggal tunggu di titik jemput, bayar seikhlasnya, anak sampai rumah,” katanya.

Kesuksesan program ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain yang berada di lokasi serupa. Dengan semangat gotong royong, para guru membuktikan bahwa masalah transportasi siswa dapat diatasi secara mandiri. Langkah kecil ini memberikan dampak besar bagi keamanan dan kenyamanan anak-anak dalam menempuh pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *