FaktaHari – 17 Juli 2026 | Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah kelompok Houthi Yaman melontarkan ancaman serius terhadap Arab Saudi. Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi Al-Masirah pada Kamis, 16 Juli 2026, pemimpin tertinggi Houthi, Abdul Malik al-Houthi, menegaskan bahwa Houthi ancam serang infrastruktur vital Saudi jika Riyadh terus terlibat dalam eskalasi militer di Yaman. Ancaman ini muncul sebagai respons atas serangan udara yang menargetkan Bandara Internasional Sanaa pada Senin lalu, yang dituding dilakukan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi.
“Semua fasilitas minyak dan instalasi vital Arab Saudi adalah target bagi rudal dan drone kami jika negara itu melibatkan dirinya dalam agresi skala penuh terhadap negara kami,” ujar Abdul Malik al-Houthi. Ia juga menambahkan, “Persamaannya adalah bandara dibalas bandara, pelabuhan dibalas pelabuhan, dan blokade dibalas blokade.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Houthi ancam serang infrastruktur vital Saudi sebagai bentuk pembalasan setimpal atas setiap tindakan agresif.
Serangan terhadap Bandara Sanaa pada 13 Juli lalu disebut-sebut bertujuan mencegah pesawat asal Iran mendarat. Pemerintah Yaman yang diakui internasional mengklaim langkah itu diambil karena Houthi telah melanggar kedaulatan wilayah udara dengan mengizinkan penerbangan Iran tanpa izin. Namun, Houthi menuding Arab Saudi sebagai dalang serangan tersebut. Kelompok itu kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke arah wilayah selatan Arab Saudi, yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan koalisi. Meski begitu, insiden ini memecah ketenangan yang telah berlangsung sejak gencatan senjata 2022.
Dalam perkembangan terbaru, Houthi juga mengancam akan memperluas serangan ke jalur pelayaran strategis di Laut Merah, termasuk kemungkinan blokade Selat Bab al-Mandeb. Hal ini menambah kekhawatiran global terhadap gangguan pasokan energi. Sementara itu, Arab Saudi disebut telah meningkatkan ekspor minyak melalui Pelabuhan Yanbu sebagai antisipasi. Di sisi lain, Iran melalui Korps Garda Revolusi memperingatkan bahwa jika tekanan berlanjut, jalur ekspor energi di kawasan tidak akan aman bagi siapa pun. Houthi ancam serang infrastruktur vital Saudi tidak hanya menjadi isu bilateral, tetapi juga berpotensi memicu krisis energi global.
Ancaman ini semakin nyata setelah Houthi mengklaim berhasil menembak jatuh drone pengintai milik Arab Saudi. Selain itu, laporan dari Military Watch menyebutkan bahwa serangan rudal jelajah Storm Shadow buatan Inggris yang diluncurkan oleh Angkatan Udara Kerajaan Saudi terhadap Bandara Sanaa gagal menimbulkan kerusakan signifikan. Rudal-rudal tersebut meleset dari landasan pacu, menandakan kemunduran taktis bagi koalisi.
Dalam pidatonya, Abdul Malik al-Houthi menekankan bahwa “menyerah bukanlah pilihan” dan Yaman siap membalas dengan tindakan serupa jika eskalasi berlanjut. Ia secara spesifik mengancam akan menargetkan Bandara Riyadh sebagai balasan atas serangan ke Bandara Sanaa. Pemerintah Yaman dan koalisi Saudi belum memberikan tanggapan resmi, tetapi Menteri Informasi Yaman, Moammar bin Mutahar Al-Eryan, mengungkapkan bahwa Houthi sempat menahan pesawat Palang Merah di Sanaa, memperkeruh situasi. Utusan PBB, Hans Grundberg, mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mencegah konflik kembali ke siklus kekerasan.
Dengan ancaman yang semakin terbuka, Houthi ancam serang infrastruktur vital Saudi menjadi isu sentral yang mengancam stabilitas kawasan. Konflik yang telah berlangsung sejak 2015 ini kembali menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata. Tanpa de-eskalasi segera, krisis kemanusiaan di Yaman dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dipastikan akan semakin memburuk.











