FaktaHari – 09 Oktober 2026 | Dalam beberapa pekan terakhir, isu bahan bakar kembali menjadi sorotan utama di Indonesia. Di satu sisi, ratusan nelayan di Muara Ciasem, Subang, terpaksa menganggur karena kelangkaan solar bersubsidi. Di sisi lain, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell di berbagai daerah mengalami kekosongan stok, memicu spekulasi bahwa perusahaan tersebut akan tutup. Namun, di tengah krisis ini, pemerintah justru mengalokasikan dana sebesar Rp635,24 miliar untuk program konversi sepeda motor bahan bakar minyak menjadi listrik pada tahun 2027. Artikel ini akan mengupas tuntas tiga fenomena tersebut secara komprehensif.
Nelayan Muara Ciasem Terpuruk Akibat Kelangkaan Solar
Puluhan kapal nelayan terparkir rapi di dermaga Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang. Bukan karena cuaca buruk, melainkan karena kelangkaan solar bersubsidi yang sudah berlangsung selama sepuluh hari terakhir. Para nelayan terpaksa mengantre panjang dengan membawa puluhan jeriken, namun stok di SPBU Ciasem Hilir sangat terbatas. Anwar, seorang nelayan setempat, mengungkapkan keputusasaannya. “Habis nggak ada solar, nelayan mogok semua. Ada sedikit rebutan aja solarnya, yang dapet yang enggak dapet ya udah berhenti. Nganggur udah 10 hari ini,” ujarnya, Jumat (9/10/2026). Ketua KPL Mina Bahari Muara Ciasem, Ade Kardi, menjelaskan bahwa kelangkaan ini dipicu oleh tingginya kebutuhan bahan bakar dan kuota yang terbatas. Ia berharap Pertamina segera menambah kuota penyaluran ke SPBU setempat. “Harapan kami ke Pertamina ada penambahan kuota BBM khususnya ke Ciasem Hilir supaya bisa lancar, nelayan lancar. Kalau BBM enggak ada, banyak nelayan tidak melaut dan pasokan ikan tidak ada,” kata Ade Kardi. Ironisnya, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang berada di TPI KUD Mina Bahari belum dapat beroperasi karena masih dalam proses perizinan.
Shell Dikabarkan Tutup? Manajemen Buka Suara
Isu lain yang tak kalah hangat adalah kelangkaan bahan bakar di SPBU Shell di berbagai wilayah Indonesia. Sejak awal tahun, sejumlah jenis BBM seperti Shell V-Power kerap kosong, memicu spekulasi bahwa perusahaan akan tutup. Seorang warganet di Threads bertanya, “Shell V-Power di SPBU Shell masih dijual ga sih? Shell belum tutup kan?” Warganet lain mengeluhkan, “Shell sampai kapan si kosongnya, udah lama banget gak ada terus.” Menanggapi hal ini, manajemen Shell Indonesia memberikan penjelasan resmi. Mereka memastikan bahwa SPBU Shell tidak akan tutup di Indonesia pada tahun 2026. Kelangkaan stok yang terjadi disebut sebagai dampak dari gangguan rantai pasok global dan peningkatan permintaan. Shell tetap berkomitmen untuk melayani konsumen Indonesia dan sedang berupaya menormalisasi pasokan secara bertahap.
Pemerintah Siapkan Rp635 Miliar untuk Konversi Motor Listrik
Di tengah krisis pasokan bahan bakar fosil, pemerintah mengambil langkah strategis dengan mengalokasikan dana sebesar Rp635,24 miliar dalam RAPBN 2027. Dana ini ditargetkan untuk mengonversi sekitar 63.000 unit sepeda motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik. Rencana ini disambut baik oleh pelaku industri, termasuk EV-GO yang berada di bawah naungan EV-READY Group. President EV-READY Group, Raine Renaldi, menyatakan kesiapannya untuk memaksimalkan program tersebut. “Akan kami maksimalkan,” katanya dalam siaran pers, Jumat (9/10/2026). Meskipun angka ini masih di bawah ekspektasi awal, Raine menilai program ini sebagai langkah awal yang penting untuk membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. “Yang paling penting bagaimana program ini berjalan dengan baik, masyarakat mendapatkan manfaat, dan ekosistem industrinya mulai terbentuk,” ujarnya. Pemerintah sebelumnya mencatat bahwa jumlah sepeda motor bensin di Indonesia mencapai sekitar 120 juta unit, sehingga konversi bertahap diproyeksikan dapat menekan konsumsi BBM dan emisi.
Kesimpulan
Indonesia saat ini menghadapi situasi paradoks di sektor energi. Di satu sisi, kelangkaan pasokan bahan bakar fosil—baik solar bersubsidi maupun BBM komersial—telah melumpuhkan aktivitas nelayan dan memicu keresahan di kalangan pengguna kendaraan. Di sisi lain, pemerintah justru menggenjot program konversi ke kendaraan listrik yang membutuhkan infrastruktur dan kesiapan industri yang matang. Ke depannya, diperlukan sinergi antara kebijakan jangka pendek untuk mengatasi kelangkaan dan kebijakan jangka panjang untuk transisi energi. Tanpa penanganan yang tepat, krisis pasokan bahan bakar saat ini bisa menghambat upaya elektrifikasi yang dicanangkan pemerintah.











