FaktaHari – 05 Oktober 2026 | Ketegangan antara Uni Emirat Arab vs Oman mencapai titik kritis dalam beberapa hari terakhir, dipicu oleh dua insiden besar yang mengancam stabilitas keamanan regional. Seorang kopilot asal Oman, Hamam al-Hammami, nekat menyerang pilot utama dengan kapak darurat di kokpit pesawat Flydubai yang tengah terbang menuju Tel Aviv. Insiden ini nyaris menjatuhkan pesawat yang membawa lebih dari 170 penumpang, sebelum akhirnya dapat dilumpuhkan dan mendarat darurat di Arab Saudi.
Dalam perkembangan terpisah, dua kapal supertanker minyak milik Uni Emirat Arab meledak berturut-turut di Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut dilaporkan mematikan sistem pelacak otomatis dan melanggar aturan navigasi yang ditetapkan Iran. Otoritas Iran mengonfirmasi bahwa kapal-kapal yang meledak itu dimiliki atau disewa pihak UEA. Insiden ledakan ini menambah eskalasi keamanan di jalur perairan strategis tersebut, yang telah meningkat tajam sejak Iran memperketat kendali navigasi sejak Februari lalu.
Kopilot Hamam al-Hammami diketahui memiliki latar belakang yang mengkhawatirkan. Ia pernah bekerja di Oman Air selama sekitar tujuh tahun, namun dikeluarkan dari pelatihan penerbangan karena kekhawatiran terhadap pandangan radikalnya. Setelah itu, ia dipindahkan ke peran administratif di maskapai yang sama. Informasi ini menjadi sorotan dalam penyelidikan terkait motif serangan di kokpit. Setelah keluar dari Oman Air, al-Hammami sempat bergabung dengan Royal Air Maroc pada Juni 2025, namun tidak lolos seleksi. Ia kemudian direkrut oleh Flydubai, dan baru bekerja sekitar delapan bulan sebelum insiden terjadi.
Penyelidikan mengungkap bahwa al-Hammami, warga negara Oman, diduga menyerang kapten dengan kapak dan nyaris menjatuhkan pesawat tujuan Israel. Insiden yang disebut sebagai “serangan teroris” oleh Uni Emirat Arab ini mempertanyakan keamanan penerbangan dan penyaringan awak, terutama pada rute sensitif berpenumpang Israel. Israel dan Oman tidak memiliki hubungan diplomatik formal, sehingga keberadaan kopilot asal Oman dalam penerbangan ke Israel menimbulkan celah keamanan yang serius.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa al-Hammami mengalami “radikalisasi Islamis”, namun tidak menyertakan bukti konkret. Pemerintah Israel tidak segera memberikan komentar lanjutan. Sementara itu, investigasi melibatkan badan keamanan dari empat negara kawasan, dibantu Amerika Serikat dan pemerintah Barat lain. Hingga saat ini, belum ditemukan koneksi dengan kelompok militan, mengindikasikan bahwa pelaku mungkin bertindak sendiri.
Di sisi lain, ledakan kapal supertanker di Selat Hormuz menambah daftar panjang armada laut yang menjadi sasaran di jalur sempit tersebut. Otoritas maritim internasional masih melakukan penilaian intensif terkait potensi kebocoran minyak dan dampak kerusakan lingkungan. Insiden ini juga memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi transportasi minyak dunia.
Kapten Smit Machchhar, pilot yang diserang, menunjukkan keberanian luar biasa. Meski terluka parah, ia berusaha membuka pintu kokpit dari dalam agar penumpang dan kru lain dapat masuk dan melumpuhkan al-Hammami. Dua pilot cadangan kemudian berhasil menerbangkan pesawat dan mendaratkannya dengan selamat di Arab Saudi. Pemerintah India memuji keberanian kapten tersebut.
Kedua insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya keamanan di kawasan Teluk, di mana Uni Emirat Arab vs Oman kini menjadi pusat perhatian internasional. Serangan di kokpit dan ledakan kapal tanker di Selat Hormuz menyoroti perlunya peningkatan pengawasan, baik di sektor penerbangan maupun maritim. Tanpa tindakan tegas, risiko teror dan konflik bersenjata di jalur strategis dunia akan terus mengancam stabilitas regional dan global.











