FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Jakarta – Adaptasi live-action terbaru dari waralaba video game legendaris Capcom, Street Fighter, akhirnya tiba di bioskop. Film yang disutradarai Kitao Sakurai ini langsung menjadi perbincangan hangat, terutama soal street fighter movie cast yang dipenuhi bintang papan atas. Namun, di balik gemerlap nama-nama besar, muncul pertanyaan: apakah film ini berhasil menghidupkan kembali semangat era 90-an, atau justru terjebak dalam kekacauan narasi?
Dengan durasi hampir dua jam, film ini mencoba merangkul nostalgia lewat gaya visual grain, musik pop ikonik seperti “2 Legit 2 Quit”, dan sederet cameo yang menyadari keberadaan dirinya sendiri. Namun, banyak pengamat menilai bahwa street fighter movie cast yang begitu besar justru menjadi pedang bermata dua. Alih-alih fokus pada aksi bela diri yang menjadi inti permainan, script lebih banyak menghabiskan waktu pada subplot drama yang berbelit.
Ryu dan Ken: Jantung Cerita yang Tetap Menarik
Berbeda dari film tahun 1994 yang mengubah Ryu dan Ken menjadi penipu Amerika, versi 2026 ini berusaha setia pada lore. Andrew Koji tampil sebagai Ryu yang pendiam dan penuh angst, sementara Noah Centineo memerankan Ken Masters sebagai diva sombong namun karismatik. Chemistry keduanya menjadi salah satu kekuatan utama film. Kisah persaudaraan mereka, yang terpisah akibat ambisi Ryu memenangkan turnamen World Warrior pertama, menjadi inti emosional yang menyatukan narasi.
Namun, fokus berlebihan pada Ryu dan Ken membuat street fighter movie cast lainnya terpinggirkan. Callina Liang sebagai Chun-Li, yang digadang-gadang sebagai protagonis utama dalam promosi, ternyata hanya mendapat porsi layar minim. Backstory dan motivasinya nyaris tidak dijelaskan. Hal serupa dialami oleh karakter ikonik seperti Zangief dan E. Honda yang hanya muncul sekilas. Bahkan, Cammy (Mel Jarnson) yang seharusnya menjadi antagonis bagi Chun-Li tidak pernah mendapat adegan pertarungan yang memuaskan.
Cast yang Punches Above the Script’s Weight
Meski naskahnya dinilai mediocre, para pemain berhasil memberikan penampilan yang menghibur. David Dastmalchian sebagai M. Bison tampil menakutkan dengan tawa khas penjahat dan sifat sadomasokis yang mengerikan. Jason Momoa sebagai Blanka, meski sepenuhnya CGI, berhasil mencuri perhatian dengan peran komedi yang lebih mengesankan dibandingkan penampilannya sebagai Lobo di Supergirl. Sementara itu, Cody Rhodes sebagai Guile dan Vidyut Jammwal sebagai Dhalsim memberikan energi over-the-top yang sesuai dengan karakter game.
Noah Centineo justru menjadi sorotan utama. Ia berhasil keluar dari citra teen heartthrob dan menampilkan Ken sebagai sosok konyol, ceroboh, tetapi juga hangat dan penuh semangat. Adegan pertarungannya dengan Ryu, lengkap dengan flip akrobatik, terasa memuaskan. Andrew Koji sebagai Ryu yang serius dan monosilabik menjadi foil yang sempurna bagi Ken yang cerewet. Sayangnya, editing yang patah-patah dan pacing yang tiba-tiba membuat momen-momen emosional kurang mengena.
Ranking Karakter Berdasarkan Fidelitas pada Game
Para penggemar game tentu penasaran seberapa akurat karakter-karakter ini dibawa ke layar lebar. Berikut peringkat beberapa karakter berdasarkan kedekatannya dengan versi game:
- Sagat (Honorable Mention): Meski hanya muncul dalam animasi, kisahnya yang kehilangan kendali melawan Ryu dan kemudian dendam, sangat setia pada lore. Sayangnya, ia hanya menjadi cliffhanger untuk sekuel potensial.
- Joe (Alexander Volkanovski): Karakter yang semestinya orang Amerika ini justru diubah menjadi orang Australia. Meski demikian, perannya sebagai pemenang turnamen karena protagonis sibuk menghentikan Bison cukup menarik.
- Ryu dan Ken: Hubungan persaudaraan mereka dieksplorasi dengan baik, meski pengembangan karakter individu masih kurang.
- Chun-Li: Desain kostum akurat, tetapi minim pengembangan cerita.
- Blanka: Tampilan CGI mendekati aslinya, dan Momoa memberikan sentuhan komedi yang menghibur.
- M. Bison: Dastmalchian berhasil menangkap esensi penjahat megalomaniak dengan tawa khasnya.
Secara visual, film ini berani mengombinasikan live-action dengan animasi 2D bergaya komik, terutama dalam flashback. Sayangnya, beberapa adegan pertarungan live-action menggunakan kamera yang terlalu frenetik dan editing cepat, sehingga detail pukulan sering terlewat. Tone warna gelap neo-noir juga terasa janggal untuk film yang seharusnya penuh warna seperti era 80-90an.
Kesimpulan
Street Fighter (2026) adalah film yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, street fighter movie cast yang berbakat berhasil mengangkat naskah yang lemah melalui penampilan energik dan chemistry yang kuat, terutama antara Centineo dan Koji. Nostalgia 90-an juga terasa kental, mulai dari kostum hingga musik. Namun, film ini mengulangi kesalahan film 1994: terlalu banyak karakter tetapi tidak cukup waktu untuk mengembangkan semuanya. Alur cerita yang berantakan, editing yang kasar, dan fokus berlebihan pada drama subplot membuat film ini terasa seperti langkah mundur bagi adaptasi video game. Bagi penggemar aksi atau nostalgia, film ini masih layak ditonton, tetapi bagi yang mengharapkan adaptasi setia, ekspektasi perlu diturunkan. Sekuel tampaknya sudah disiapkan, tetapi apakah street fighter movie cast akan kembali? Kita tunggu saja.











