FaktaHari – 30 Juli 2026 | Intelijen Prancis selidiki pilot jet Rafale M terkait aktivitas dengan China [titlebase] setelah seorang mantan pilot Angkatan Laut Prancis, Pierre-Henri Chuet, ditempatkan dalam penyelidikan resmi atas dugaan aktivitas intelijen yang menguntungkan China. Chuet, yang pernah menerbangkan pesawat tempur Super Etendard dan Rafale M dari Kapal Induk Charles de Gaulle, dihadirkan ke hadapan hakim investigasi pada 20 Juli 2026 setelah diinterogasi oleh Dinas Intelijen Dalam Negeri Prancis (DGSI). Rumahnya juga digeledah dalam operasi yang terkait dengan kasus ini.
Menurut laporan yang pertama kali diungkap oleh Intelligence Online pada 27 Juli 2026, Pierre-Henri Chuet menghadapi empat dakwaan serius. Dakwaan tersebut meliputi pengungkapan rahasia pertahanan nasional oleh seseorang yang dipercayakan untuk merahasiakannya, intelijen dengan kekuatan asing, pengumpulan informasi yang berkaitan dengan kepentingan fundamental negara, dan penyampaian informasi kepada kekuatan asing. Saat ini, ia telah ditempatkan di bawah pengawasan yudisial. Prosedur hukum di Prancis menyebutkan bahwa “mise en examen” bukanlah vonis, melainkan indikasi bahwa hakim investigasi menganggap adanya bukti serius yang memerlukan penyelidikan formal.
Pierre-Henri Chuet bukanlah sosok asing di dunia penerbangan. Ia adalah pensiunan pilot yang kemudian menjadi YouTuber. Dalam karier militernya, ia dilatih oleh Angkatan Laut AS dan berhasil menyelesaikan lebih dari 200 pendaratan di kapal induk. Setelah delapan tahun bertugas di skuadron tempur, ia beralih profesi menjadi pilot komersial di Air Canada. Namun, pengalaman penerbangan kapal induknya sebagai pilot pesawat tempur Rafale M sangat berharga, terutama bagi China yang tengah mengembangkan kemampuan penerbangan angkatan lautnya. Hal inilah yang diduga menjadi latar belakang keterlibatannya dalam aktivitas yang mencurigakan.
Intelijen Prancis selidiki pilot jet Rafale M terkait aktivitas dengan China [titlebase] juga menyoroti konten YouTube yang dibuat Chuet. Pemerintah Prancis menilai beberapa videonya menimbulkan kontroversi besar, terutama pernyataannya tentang India kehilangan jet tempur Rafale dalam bentrokan dengan Pakistan pada Mei 2025. Dalam video berjudul “UN RAFALE INDIEN PERDU FACE AU PAKISTAN ? ANALYSE D’UN PILOTE DE CHASSE (ATE CHUET)” yang diunggah pada 10 Mei 2025, ia dengan yakin menyatakan bahwa India kehilangan setidaknya satu jet Rafale satu tempat duduk. Klaim ini langsung dibantah oleh pemerintah India. Selain itu, Chuet juga secara terbuka memuji keunggulan sejumlah jet tempur produksi China, seperti Chengdu J-10C, JF-17 Thunder, dan rudal udara-ke-udara PL-15. Pujian-pujian ini dianggap berlebihan dan menimbulkan kecurigaan bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan pihak China.
Kasus ini menjadi perhatian luas karena melibatkan seorang mantan pilot yang memiliki akses terhadap informasi sensitif mengenai sistem persenjataan dan taktik penerbangan. Intelijen Prancis selidiki pilot jet Rafale M terkait aktivitas dengan China [titlebase] secara mendalam, termasuk kemungkinan kebocoran data teknis yang dapat membahayakan keamanan nasional. Para analis menilai bahwa pengalaman Chuet dalam operasi kapal induk sangat bernilai bagi China, yang tengah berupaya memperkuat armada kapal induknya sendiri. Jika terbukti bersalah, Chuet menghadapi hukuman berat sesuai undang-undang Prancis.
Selain penyelidikan hukum, kasus ini juga memicu perdebatan tentang keamanan personel militer purnatugas yang beralih menjadi kreator konten. Banyak pihak mendorong adanya regulasi lebih ketat terhadap mantan personel yang membagikan informasi di ranah publik. Sementara itu, keluarga dan pengacara Chuet belum memberikan pernyataan resmi. Proses hukum masih berlanjut, dan publik menunggu perkembangan lebih lanjut dari penyelidikan ini.
Kesimpulannya, penyelidikan terhadap Pierre-Henri Chuet oleh intelijen Prancis menunjukkan betapa seriusnya ancaman spionase yang dibawa oleh mantan personel militer. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kerahasiaan informasi pertahanan. Intelijen Prancis selidiki pilot jet Rafale M terkait aktivitas dengan China [titlebase] sebagai langkah tegas dalam melindungi kepentingan nasional.











