FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Pendiri saiful mujani research & consulting (SMRC), Saiful Mujani, kembali menjadi sorotan publik. Dalam konferensi pers bertajuk “Rapor Merah” Dua Tahun Prabowo-Gibran di Jakarta, Senin (19/10/2026), ia memaparkan dua isu besar: peta koalisi menuju Pilpres 2029 dan merosotnya legitimasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Temuan saiful mujani research & consulting menunjukkan bahwa jika pemilu digelar hari ini, pasangan Prabowo-Gibran tidak akan terpilih kembali.
Saiful menilai kemarahan masyarakat telah meluas dari Aceh hingga Papua. “Hampir bisa dikatakan sudah minus legitimasi itu dan umumnya rakyat sudah marah,” ujarnya. Ia menyebut fenomena ini belum pernah terjadi sejak era Reformasi, di mana presiden yang baru dua tahun berkuasa sudah menghadapi ketidakpuasan publik yang begitu kuat. Survei saiful mujani research & consulting bertajuk Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo (1–10 Oktober 2026) mencatat kepuasan publik turun drastis menjadi 44,5 persen dari sebelumnya 81,2 persen pada November 2025, sementara 53,4 persen menyatakan kurang atau tidak puas.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Giofedi Rauf, mendesak Presiden Prabowo mengevaluasi kinerja kabinet dan mempertimbangkan perombakan menteri yang gagal mencapai target. “Presiden Prabowo tidak bisa bekerja sendiri. Keberhasilan pemerintahan sangat ditentukan oleh kemampuan para menteri,” kata Giofedi. Ia juga menyoroti laporan Rapor Dua Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran dari CELIOS yang menilai beberapa menteri berkinerja rendah.
Di sisi lain, Saiful Mujani memetakan kemungkinan koalisi Pilpres 2029. Jika revisi UU Pemilu mewajibkan capres diusung minimal dua partai di DPR, jumlah pasangan calon maksimal empat. Namun, jika Gerindra, Golkar, PKB, dan PAN sepakat mengusung Prabowo, pasangan calon bisa menyusut menjadi tiga. “PDIP mungkin terpaksa koalisi dengan Nasdem karena dengan Demokrat dan PKS hampir tidak mungkin,” jelas Saiful. Dalam skenario dua poros, ia membuka peluang Prabowo berpasangan dengan kader PDIP seperti Puan Maharani atau Pramono Anung, sementara AHY berpotensi berpasangan dengan Anies Baswedan. “Kalau ini yang terjadi maka calon pasangan hanya 2. Prabowo-Puan/Pram Vs AHY-Anies/tokoh independen, atau Anies-AHY. Mungkin,” terangnya.
Perbedaan metodologi survei juga menjadi perhatian. Direktur Eksekutif Institute for Policy Studies (IPS), Dr. Tri Andika, menyoroti disparitas antara hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang menempatkan kepuasan Prabowo 65,4 persen dan elektabilitas 31,6 persen, dengan temuan saiful mujani research & consulting yang menempatkan Dedi Mulyadi di puncak 35,5 persen dan Prabowo merosot ke 9,8 persen. Menurut Tri, survei SMRC dominan menggunakan wawancara telepon (1.013 dari 1.213 responden) yang memiliki karakter response rate dan kedalaman jawaban berbeda dari wawancara tatap muka. Ia juga menilai penurunan elektabilitas Prabowo hampir 19 poin dalam empat bulan sangat tidak lazim tanpa peristiwa luar biasa.
Meski demikian, Saiful Mujani tetap pada pendiriannya bahwa legitimasi pemerintah sedang bermasalah. Ia mengingatkan pemerintah agar menyadari kondisi ini dan mencari jalan keluar damai untuk menjaga keutuhan bangsa. “Saya takut opini-opini yang berkembang di daerah betul-betul terjadi, Indonesia bubar,” ujarnya. Kritik dari saiful mujani research & consulting ini diharapkan menjadi masukan bagi penguasa untuk mengevaluasi kepercayaan publik.
Dengan peta koalisi yang mulai terbaca dan legitimasi yang dipertanyakan, dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi ujian berat. Evaluasi kabinet, respons terhadap aspirasi masyarakat, dan kualitas demokrasi akan menentukan arah Pilpres 2029. Publik menanti langkah konkret pemerintah untuk menjawab kemarahan yang meluas, sebagaimana terpotret dalam temuan saiful mujani research & consulting.











