FaktaHari – 10 Oktober 2026 | Jakarta – Nama mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali mencuri perhatian publik setelah beredar meme yang memasangkannya dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2029. Namun, aktivis politik senior Syahganda Nainggolan menilai spekulasi tersebut sangat tidak realistis. Menurut Syahganda, Purbaya bukanlah tipe politisi yang akan memanfaatkan popularitas untuk kepentingan elektoral.
Pernyataan itu disampaikan Syahganda dalam siniar Forum Keadilan TV yang tayang pada September 2026, sebelum dirinya resmi dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI. Ia menegaskan bahwa Purbaya lebih berorientasi pada kontribusi di bidang ekonomi dan akademis. “Enggak mungkinlah karena Purbaya menurut saya dia ya seperti dia bilang walau senang mancing, mungkin satu hari dia ngajar dosen atau apa gitu loh, enggak yakin saya,” ujarnya.
Meski demikian, nama Purbaya memang sempat mencuat dalam beberapa survei elektabilitas. Survei Indeks Politika Indonesia pada Oktober 2025 menunjukkan elektabilitasnya cukup kompetitif di bursa awal Pilpres 2029. Sementara itu, survei Indekstat Indonesia pada Februari 2026 menempatkan Purbaya di posisi keempat dengan elektabilitas 4,9 persen, di bawah Prabowo Subianto (47,2 persen), Dedi Mulyadi (17,8 persen), dan Anies Baswedan (11,2 persen).
Syahganda juga membandingkan Purbaya dengan Dedi Mulyadi yang dikenal aktif membuat konten media sosial hingga dijuluki “Gubernur Konten”. Menurutnya, Purbaya tidak akan mengikuti jejak tersebut. “Enggak, enggak yakin saya karena menurut saya dia bukan tipe Dedi Mulyadi yang memang orang politik menggunakan pencitraan untuk merangkak terus,” tegasnya.
Di tengah isu politik tersebut, Purbaya juga dikaitkan dengan sejumlah kebijakan ekonomi yang sempat ia gagas saat menjabat Menteri Keuangan. Salah satunya adalah wacana penambahan lapisan tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang hingga kini masih dibahas pemerintah. Plt. Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Ferry Ardiyanto menyatakan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap diskusi. “Jadi terkait dengan penambahan layer CHT ini masih didiskusikan,” ujarnya.
Selain itu, Syahganda juga memprediksi bahwa Presiden Prabowo Subianto akan kembali memanggil Purbaya untuk menempati posisi strategis, seperti Gubernur Bank Indonesia. Menurut Syahganda, pencopotan Purbaya sebagai Menteri Keuangan bukan karena kinerja buruk, melainkan langkah pragmatis untuk meredam instabilitas. “Pak Prabowo tidak memberikan penilaian negatif kepada Pak Purbaya. Bisa saja dipanggil kembali,” ungkapnya.
Pengalaman Purbaya sebagai Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dinilai menjadi modal penting untuk menangani problematika perbankan ke depan. “Selama Pak Purbaya di LPS, dia sudah mengidentifikasi mana bank-bank atau lembaga keuangan lainnya yang sudah sepantasnya ditutup atau dibenahi,” tambah Syahganda.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, publik mulai menyimpulkan bahwa Purbaya lebih memilih fokus pada karier ekonomi dan akademis ketimbang mengejar panggung politik. Meskipun namanya sempat melambung berkat kinerja di Kementerian Keuangan, elektabilitas yang dimilikinya belum cukup untuk mengubah arah hidupnya menuju kontestasi Pilpres 2029.
Kesimpulannya, Purbaya Yudhi Sadewa tetap menjadi figur yang dihormati di dunia ekonomi, namun kecil kemungkinan ia akan terjun ke pentas politik praktis dalam waktu dekat. Publik pun menunggu langkah selanjutnya dari mantan Menteri Keuangan yang dikenal agresif dalam memberantas praktik oligarki dan menertibkan skandal pajak korporasi tersebut.
