FaktaHari – 01 November 2026 | Kekalahan Kitchee dari Phnom Penh Crown dengan skor 2-0 pada Kamis (29/10/2026) di Morodok Techo National Stadium, Phnom Penh, menjadi sorotan dalam lanjutan Grup H AFC Champions League Two 2026/2027. Hasil ini tidak hanya mengejutkan publik Hong Kong, tetapi juga menegaskan kebangkitan sepak bola Kamboja yang tengah diperhitungkan di kancah Asia. Kitchee, yang dianggap sebagai salah satu klub kuat di Hong Kong, harus mengakui keunggulan tuan rumah yang tampil agresif sejak awal pertandingan.
Laga tersebut dipimpin oleh kuartet wasit Indonesia: Naufal Fairuski sebagai wasit utama, didampingi Bangbang Syamsudar, Thoriq Alkatiri, dan Fajar Furqon. Kehadiran wasit Indonesia di laga bergengsi ini menjadi bukti semakin diakuinya kualitas pengadil Tanah Air di level internasional. Namun, sorotan utama tetap tertuju pada performa Kitchee yang gagal mengimbangi tempo permainan Phnom Penh Crown.
Bagi Kitchee, kekalahan ini memperpanjang catatan buruk mereka di fase grup. Sebelumnya, mereka hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Kuching City dari Malaysia. Kini, Kitchee harus bersiap menghadapi tekanan besar untuk bangkit di pertandingan berikutnya. Sementara itu, Phnom Penh Crown justru menjadi salah satu tim yang tak terkalahkan di Grup H dan memuncaki klasemen dengan koleksi poin sempurna dari tiga laga.
Kebangkitan sepak bola Kamboja memang sedang menjadi perbincangan hangat. Selain Phnom Penh Crown, klub Kamboja lainnya, Preah Khan Reach Svay Rieng, juga mencuri perhatian setelah menghancurkan Tampines Rovers dari Singapura dengan skor 5-1 pada 30 Oktober 2026. Media Asia, termasuk The Straits Times, menyebut kekalahan Tampines sebagai “cơn ác mộng” atau mimpi buruk. AFC pun memuji performa Svay Rieng yang tampil dominan di babak pertama dengan keunggulan 4-0. Fenomena ini menunjukkan bahwa klub-klub Kamboja kini bukan lagi tim yang bisa dianggap remeh.
Di sisi lain, nasib malang juga dialami Kuching City. Tim asal Malaysia ini masih belum meraih kemenangan di ACL Two setelah takluk 0-1 dari Gangwon FC pada laga yang digelar di Gangneung Stadium, Korea Selatan, Kamis (29/10/2026). Gol tunggal Choe Byeong-chan pada menit ke-27 memastikan kemenangan tuan rumah. Pelatih Kuching, Aidil Sharin Sahak, mengakui perbedaan kualitas antara timnya dan Gangwon. “Mereka tim yang bagus. Level sepak bola di Korea selalu lebih tinggi. Mereka salah satu yang terbaik di Asia, dan jauh lebih baik dalam hal teknik,” ujarnya.
Meski demikian, Aidil tetap optimistis untuk leg kedua yang akan digelar di Sarawak Stadium pada 5 November 2026. “Kami kalah 1-0, tapi saat bermain di kandang, pertandingan pasti akan berbeda karena cuaca dan keuntungan bermain di rumah sendiri,” tambahnya. Kuching saat ini berada di dasar klasemen Grup H dengan hanya mengoleksi satu poin dari tiga pertandingan. Mereka sebelumnya kalah 2-1 dari Phnom Penh Crown dan bermain imbang 1-1 dengan Kitchee.
Klasemen Grup H sendiri saat ini dipimpin oleh Phnom Penh Crown yang mengoleksi 9 poin dari tiga kemenangan. Gangwon FC mengikuti dengan 6 poin, disusul Kitchee dengan 1 poin, dan Kuching City juga dengan 1 poin namun kalah selisih gol. Dengan sisa tiga pertandingan, Kitchee masih memiliki peluang untuk lolos ke babak 16 besar, tetapi mereka wajib meraih kemenangan di laga-laga berikutnya, termasuk saat menjamu Kuching City pada 3 Desember 2026.
Kebangkitan klub Kamboja dan performa impresif Phnom Penh Crown menjadi ancaman nyata bagi Kitchee dan tim-tim lain di Grup H. Sementara itu, Kuching City harus segera bangkit jika ingin menjaga asa lolos. Pertarungan di Grup H masih panjang, dan setiap poin akan sangat berarti. Akankah Kitchee mampu membalikkan keadaan, atau justru semakin terpuruk? Kita tunggu aksi mereka di lapangan.











