FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Laga pekan keenam Pegadaian Championship 2026/27 antara PSGC vs PSIS di Stadion Galuh, Ciamis, Sabtu (17/10/2026) malam, berakhir imbang 0-0. Namun, hasil tanpa gol tersebut ternoda oleh insiden bentrokan antarsuporter yang terjadi di dalam dan luar stadion. Di sisi lain, kiper PSGC Ciamis, Yofandani, tampil gemilang dengan mencatat clean sheet pertama musim ini di tengah gempuran 22 tembakan PSIS Semarang.
Pertandingan PSGC vs PSIS sebenarnya berjalan sengit. PSIS Semarang yang dijuluki Mahesa Jenar mendominasi serangan dengan total 22 tembakan, tiga di antaranya tepat sasaran. Sementara PSGC Ciamis hanya mampu melepaskan tiga tembakan, satu mengarah ke gawang. Meski demikian, pertahanan Laskar Singacala, julukan PSGC, mampu menahan gempuran hingga laga usai tanpa gol.
Yofandani, kiper berusia 23 tahun, mengaku sangat bersyukur atas hasil ini. Pekan sebelumnya, gawangnya kebobolan empat gol saat PSGC dihajar Adhyaksa Bekasi FC. “Tekanan serangan PSIS luar biasa. Namun, kami harus berusaha bangkit dari kekalahan dari Adhyaksa Bekasi FC lalu. Spirit itu jadi motivasi saya dan teman-teman bermain habis-habisan lawan PSIS Semarang,” ujar Yofandani.
Di sisi lain, suporter PSGC Ciamis di Gelanggang Galuh Taruna (GGT) menggelar nobar dengan antusias. Mereka memadati GGT sejak sore hari untuk mendukung tim kebanggaan daerah melalui layar proyektor. Seruan “Satu layar, satu semangat, satu dukungan untuk Laskar Singacala” menggema sepanjang pertandingan.
Namun, euforia itu harus dibayar mahal. Kericuhan antarsuporter pecah di tribun Stadion Galuh. Berawal dari kesalahpahaman dan jebolnya pintu pembatas antara suporter tamu dan pendukung PSGC, situasi memanas. Aksi saling lempar botol air minum terjadi di dalam stadion. Keributan berlanjut hingga ke luar stadion, bahkan menjalar ke area minimarket dan jalan raya sehingga menyebabkan kemacetan.
Kapolres Ciamis AKBP Eko Iskandar mengungkapkan bahwa gesekan awal bermula dari kesalahpahaman di dalam tribun penonton saat pertandingan masih berlangsung. “Setelah pertandingan selesai, sempat terjadi kesalahpahaman yang bermula dari dalam stadion. Pintu pembatas antara suporter tamu dan suporter PSGC jebol,” kata Eko, Minggu (18/10/2026).
Ketegangan kembali pecah di depan Stadion Galuh, tepatnya di area parkir minimarket Indomaret, ketika suporter PSIS hendak naik bus untuk kembali ke Semarang. Polisi segera mengawal rombongan tim tamu, namun bentrokan dan kesalahpahaman susulan tetap terjadi di beberapa titik perjalanan, di antaranya kawasan Imbanagara, Jalan RE Martadinata dekat Universitas Galuh, Kawali, dan Panawangan.
Dalam insiden tersebut, sejumlah anggota kepolisian yang berupaya mengendalikan situasi turut menjadi sasaran massa, dan seorang jurnalis lokal yang sedang meliput dilaporkan menjadi sasaran oknum dari rombongan pendukung PSIS Semarang. Eko menjelaskan bahwa kericuhan juga dipicu oleh ketegangan internal di tubuh pendukung PSIS Semarang yang terbagi menjadi dua kelompok, yakni Snex dan Panser Biru. “Di dalamnya, internal PSIS sendiri juga karena PSIS ini kan suporternya terbagi dua, yaitu Snex dan Panser Biru. Alhamdulillah sudah bisa kita selesaikan permasalahan tersebut,” ujarnya.
Insiden ini mencoreng sepak bola nasional, apalagi terjadi belum ada sepekan setelah penyerangan bus Persib U-18 dan The Jakmania Cikampek. Sepak bola seharusnya menjadi hiburan, bukan menimbulkan kericuhan yang mengancam jiwa. Suporter sepak bola Tanah Air seharusnya lebih dewasa dan belajar dari Tragedi Kanjuruhan yang menghilangkan ratusan nyawa.
Meski demikian, hasil imbang ini menjadi bekal berharga bagi Yofandani dan anak asuh Heri Kiswanto untuk menatap pertandingan tandang melawan Persiraja Banda Aceh pada 24 Oktober mendatang. Clean sheet pertama ini diharapkan menjadi titik balik performa PSGC Ciamis di ajang Pegadaian Championship 2026/27.
Dengan segala drama yang terjadi, laga PSGC vs PSIS akan selalu dikenang bukan hanya karena skor 0-0, tetapi juga karena aksi heroik Yofandani di bawah mistar gawang dan insiden suporter yang menjadi sorotan. Kejadian ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa sportivitas dan keamanan harus selalu diutamakan dalam setiap pertandingan sepak bola.











