Shanghai Open: Alejandro Davidovich Fokina Ungkap Momen Nyaris Tinggalkan Tenis

Shanghai Open: Alejandro Davidovich Fokina Ungkap Momen Nyaris Tinggalkan Tenis
Shanghai Open: Alejandro Davidovich Fokina Ungkap Momen Nyaris Tinggalkan Tenis

FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Juara Shanghai Open 2026, Alejandro Davidovich Fokina, mengungkapkan bahwa ia sempat berpikir untuk berhenti dari dunia tenis setelah meraih gelar junior Wimbledon pada 2017 silam. Pengakuan itu menjadi sorotan setelah ia menorehkan sejarah baru sebagai juara Masters 1000 di Shanghai Open, sebuah turnamen bergengsi yang digelar di China.

Petenis Spanyol berusia 27 tahun itu mengaku tekanan dan ekspektasi yang membumbung tinggi setelah menjadi juara junior Wimbledon justru membuatnya kehilangan arah. “Saat saya menang Wimbledon junior, saya tidak bisa memegang raket. Anda tahu sendiri, ketika Anda meraih pencapaian besar, lebih banyak mata yang melihat Anda,” ujarnya dalam sebuah wawancara sebelum turnamen Shanghai Open bergulir.

Krisis kepercayaan diri itu nyaris membuatnya meninggalkan olahraga yang telah membesarkan namanya. Namun, keputusan untuk bertahan dan bekerja keras membuahkan hasil manis. Di tahun 2026, Davidovich Fokina menjelma menjadi salah satu pemain paling konsisten di dunia. Ia memulai musim dengan performa impresif dan kini telah mengoleksi tiga gelar ATP Tour, termasuk gelar bergengsi di Shanghai Open.

Perjalanan menuju podium Shanghai Open tidaklah mudah. Di babak final, ia harus bangkit dari ketertinggalan satu set melawan kompatriotnya, Rafael Jodar. Sempat kalah 1-6 di set pertama dalam waktu hanya 27 menit, Davidovich Fokina menunjukkan mental baja dengan memenangi tiebreak set kedua dan akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 1-6, 7-6(5), 6-4. Kemenangan itu terasa istimewa karena ia juga harus melewati laga-laga sulit, termasuk menyelamatkan match point melawan Frances Tiafoe di putaran ketiga serta membalikkan keadaan dari Alexander Zverev di semifinal.

“Saya tidak punya kata-kata saat ini. Pikiran saya kosong. Saya tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana perasaan saya. Yang jelas, ini adalah kelegaan yang luar biasa,” tutur Davidovich Fokina usai laga final Shanghai Open.

Kemenangan di Shanghai Open membawa dampak besar bagi peringkatnya. Ia melesat ke posisi 13 dunia, rekor tertinggi sepanjang kariernya, dan masih memiliki peluang tipis untuk tampil di ATP Finals Turin. Sementara itu, Rafael Jodar, yang baru berusia 20 tahun, naik dua peringkat ke posisi 11 dunia dan semakin dekat untuk lolos ke turnamen akhir musim tersebut.

Keberhasilan Davidovich Fokina di Shanghai Open juga menandai kebangkitan tenis Spanyol di panggung Asia. Setelah sebelumnya menjuarai Mallorca dan Chengdu, ia kini memiliki rekor sempurna 3-0 di final sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, ia sempat kalah di lima final ATP Tour pertamanya, tetapi kini ia telah mengubah narasi tersebut menjadi kisah sukses yang menginspirasi.

Di sisi lain, turnamen di China tidak hanya milik Davidovich Fokina. Pada ajang WTA di Wuhan, petenis Polandia Maja Chwalinska menorehkan prestasi dengan meraih gelar pertamanya setelah mengalahkan Sonay Kartal 2-6, 6-4, 6-2. Kemenangan itu membuktikan bahwa langkahnya ke final Prancis Terbuka tahun ini bukanlah kebetulan belaka.

Shanghai sendiri tengah menjadi pusat perhatian dunia, tidak hanya karena Shanghai Open, tetapi juga karena perhelatan WorldSkills Competition ke-48 yang dibuka dengan film pendek berjudul “Our Hands” garapan sutradara Jody Xiong. Film itu ditayangkan di layar panorama 360 derajat sepanjang 66 meter dan menjadi bagian dari upaya mempromosikan keterampilan generasi muda dari 68 negara. Meski demikian, bagi para penggemar tenis, nama Shanghai Open tetap menjadi magnet utama yang menyedot perhatian.

Kisah Davidovich Fokina menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap kemenangan, ada perjuangan panjang dan keraguan yang harus dilalui. Dari titik terendah ketika ingin berhenti, ia kini berdiri sebagai juara Shanghai Open dan salah satu pemain paling bersinar di musim 2026. Perjalanan ini membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian untuk bangkit dari keterpurukan adalah kunci meraih kesuksesan, termasuk di panggung sebesar Shanghai Open.

Exit mobile version