Matheus Cunha Dikritik, Rashford Dianggap Masalah di Manchester United

Matheus Cunha Dikritik, Rashford Dianggap Masalah di Manchester United
Matheus Cunha Dikritik, Rashford Dianggap Masalah di Manchester United

FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Nama Matheus Cunha kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Bukan karena aksi gemilangnya di lapangan, melainkan karena kritik tajam yang datang dari sejumlah pihak. Di Manchester United, kehadiran Marcus Rashford disebut-sebut mengganggu keseimbangan tim dan berdampak langsung pada performa Matheus Cunha. Sementara itu, di Brasil, kiper Matheus Cunha dari Internacional harus menerima kenyataan pahit setelah melakukan blunder fatal yang berujung kartu merah.

Kritik terhadap Matheus Cunha mencuat setelah jurnalis senior talkSPORT, Alex Crook, menyebut bahwa Rashford telah mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik penyerang asal Brasil tersebut. Menurut Crook, situasi ini membuat Matheus Cunha terlihat murung dan tidak puas. “Kehadiran Rashford kembali menjadi masalah. Ada pemain yang tidak senang di ruang ganti karena dia bergaji sangat tinggi. Ini juga menjadi masalah bagi Matheus Cunha karena posisinya diambil alih oleh Rashford,” ujar Crook dalam laporannya.

Lebih lanjut, Crook menjelaskan bahwa musim lalu Manchester United memiliki keseimbangan yang baik di lini depan dengan kombinasi Matheus Cunha, Mbeumo, Bruno Fernandes, Amad Diallo, dan Šeško. Namun, kembalinya Rashford telah merusak harmoni tersebut. Hingga saat ini, Rashford belum mencetak gol maupun assist, dan hal ini semakin memperkeruh suasana di Old Trafford. Performa Matheus Cunha pun ikut terdampak, meskipun ia tetap menunjukkan etos kerja yang tinggi di setiap pertandingan.

Di sisi lain, Matheus Cunha yang membela Internacional juga mengalami nasib kurang beruntung. Pelatih Eduardo Baptista memutuskan untuk mencoret namanya dari daftar pemain utama setelah blunder yang dilakukan dalam kekalahan melawan Mirassol. Dalam laga tersebut, Matheus Cunha keluar dari area penalti untuk menghalau serangan lawan, tetapi justru melanggar Bruno Santos dan menerima kartu merah pada menit ke-15. Keputusan itu membuat Internacional harus bermain dengan 10 orang dan kehilangan momentum untuk meraih poin penting dalam perjuangan menghindari degradasi.

Baptista menilai bahwa kesalahan Matheus Cunha sangat merugikan tim. Ia terpaksa menarik Bernabei dan memasukkan Kauan Jesus sebagai kiper pengganti, yang mengubah struktur permainan secara signifikan. Akibatnya, Internacional kesulitan mengembangkan permainan dan harus mengakui keunggulan Mirassol. Kini, posisi Matheus Cunha di bawah mistar gawang semakin terancam, dan ia hanya akan dimainkan jika benar-benar darurat.

Selain Matheus Cunha, bek Félix Torres juga mengalami hal serupa. Torres melakukan beberapa kesalahan krusial, termasuk kehilangan duel yang berujung pada gol kedua Mirassol dan pelanggaran yang menghasilkan penalti. Meskipun penalti gagal dieksekusi, performa Torres tetap menuai kritik. Eduardo Baptista pun dikabarkan tidak akan lagi mengandalkan Torres di sisa musim ini.

Keputusan Baptista untuk menyingkirkan Matheus Cunha dan Félix Torres menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi Internacional. Klub yang berbasis di Porto Alegre itu saat ini berada di zona merah dan membutuhkan poin sebanyak mungkin untuk bertahan di Serie A. Dalam kondisi seperti ini, kesalahan individu sekecil apa pun akan sangat berdampak pada hasil akhir. Oleh karena itu, Baptista memilih untuk memberikan kesempatan kepada pemain yang dianggap lebih stabil dan minim risiko.

Meskipun demikian, bukan berarti karier Matheus Cunha dan Félix Torres berakhir. Keduanya masih memiliki kesempatan untuk bangkit dan merebut kembali kepercayaan pelatih. Namun, dengan kompetisi yang semakin ketat dan waktu yang terbatas, mereka harus bekerja ekstra keras untuk membuktikan bahwa mereka masih layak berseragam Internacional.

Di belahan dunia lain, nama Matheus juga muncul dalam kisah inspiratif dari Brasil. Seorang bocah bernama Matheus Vianna dikabarkan sembuh secara ajaib dari penyakit langka setelah berdoa di depan relikui Carlo Acutis. Kisah ini menjadi bukti bahwa nama Matheus tidak hanya identik dengan dunia sepak bola, tetapi juga dengan harapan dan keajaiban.

Dari drama di lapangan hijau hingga kisah spiritual, nama Matheus terus menjadi perbincangan. Bagi Matheus Cunha, tantangan terbesar saat ini adalah membuktikan bahwa dirinya masih mampu berkontribusi bagi tim, baik di Manchester United maupun di Internacional. Hanya waktu yang akan menjawab apakah ia bisa bangkit dari keterpurukan ini.

Dengan segala dinamika yang terjadi, publik sepak bola Indonesia pun turut menyoroti perkembangan karier Matheus Cunha. Semoga saja, sang pemain dapat segera menemukan kembali performa terbaiknya dan kembali menjadi sosok yang ditakuti di lini depan.

Exit mobile version