FaktaHari – 17 Oktober 2026 | LASK Linz mencatat sejarah sebagai klub Austria pertama yang tampil di Liga Champions di kandang sendiri, namun harus mengakui keunggulan Liverpool FC dengan skor 3-6 pada laga yang berlangsung di Linz, Rabu malam. Meski kalah, penampilan LASK Linz mendapat pujian karena mampu mencetak tiga gol dan memberikan perlawanan sengit sebelum akhirnya menyerah.
Pertandingan ini menjadi sorotan setelah Liverpool tampil dominan sejak awal. Tim tamu tercatat memiliki 19 tembakan ke gawang sebelum babak pertama berakhir, sebuah rekor di Liga Champions sejak Opta mulai mencatat statistik pada musim 2003/04. Meski demikian, LASK Linz tidak tinggal diam. Florian Flecker menjadi bintang dengan dua gol, sementara Yvan Dibango menyumbang tiga assist dan Robert Ljubicic menambah satu gol setelah masuk sebagai pemain pengganti.
Pelatih LASK Linz, Didi Kühbauer, mengakui keunggulan Liverpool. “Kami melihat bahwa Liverpool berada di level yang lebih tinggi. Dengan gol ketiga, kami tahu akan sulit untuk bangkit. Namun para pemain telah berusaha maksimal dan mencetak tiga gol. Secara keseluruhan, Liverpool terlalu kuat. Kami harus mengakui itu dan belajar dari pertandingan ini,” ujarnya usai laga.
Kekalahan ini tidak menghapus fakta bahwa LASK Linz telah menorehkan sejarah. Dukungan suporter yang memadati stadion dan kota Linz dengan warna hitam-putih menjadi bukti antusiasme luar biasa. Kota Linz sempat dipenuhi fans Liverpool yang mengenakan merah, namun pendukung setia LASK Linz tak kalah bergaung sepanjang pertandingan.
Di sisi lain, Liverpool yang diasuh Andoni Iraola tampil tanpa Virgil van Dijk dan Alexis Mac Allister sejak awal. Namun, para pemain muda seperti Trey Nyoni dan Lewis Koumas diberi kesempatan dan tampil impresif. Bradley Barcola menjadi bintang dengan hat-trick-nya, yang menjadi jawaban atas kritik setelah enam pertandingan tanpa gol atau assist. Koumas membela Barcola, menyebut bahwa adaptasi sang pemain di Liverpool memang tidak mudah.
Kemenangan 6-3 ini juga membuat kekalahan Celtic dari LASK Linz pada Agustus lalu semakin terlihat kontras. Celtic sempat unggul agregat 4-0 sebelum akhirnya tersingkir setelah LASK Linz mencetak lima gol di Austria. Liverpool memastikan diri tidak mengalami nasib serupa dengan penampilan klinis mereka.
Sementara itu, di Portugal, Sporting CP harus kehilangan Zeno Debast untuk laga melawan LASK Linz di Liga Champions. Bek asal Belgia itu masih mengalami cedera otot yang didapat saat memperkuat timnas Belgia di Liga Nations, meski tidak bermain satu menit pun. Pelatih Sporting, Rui Borges, menyatakan tidak ingin mengambil risiko. “Debast pergi ke timnas dan tidak bermain, kondisinya sedang meningkat tetapi dia merasakan ketidaknyamanan saat latihan. Tidak ada yang mengkhawatirkan, tapi kami memilih untuk tidak mengambil risiko,” jelasnya. Debast diprediksi baru bisa kembali saat Sporting menghadapi Academico de Viseu pada 25 Oktober.
Bagi LASK Linz, fokus kini beralih ke kompetisi domestik. Setelah pertandingan melawan Liverpool, mereka akan menghadapi Lustenau pada lanjutan Bundesliga Austria. Pelatih Kühbauer berharap timnya bisa bangkit dan meraih hasil positif. “Setelah Liverpool, sekarang saatnya fokus ke Lustenau. Kami harus memanfaatkan pelajaran berharga dari laga ini,” tambahnya.
Pertandingan melawan Liverpool menjadi momen berharga bagi LASK Linz dan sepak bola Austria. Meski kalah, mereka telah menunjukkan bahwa mampu bersaing di panggung Eropa. Dukungan suporter dan semangat juang pemain menjadi modal berharga untuk menghadapi sisa musim. Kini, LASK Linz harus membuktikan bahwa mereka bisa kembali ke jalur kemenangan di liga domestik.











