FaktaHari – 17 Oktober 2026 | Pertandingan seru antara Feyenoord vs Como dalam matchday 2 Liga Champions 2026/2027 berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan tuan rumah Feyenoord di Stadion De Kuip, Rotterdam, Rabu (14/10/2026). Laga yang berlangsung ketat ini menjadi sorotan publik sepak bola Eropa, terutama setelah Como yang tampil impresif di laga pembuka harus mengakui keunggulan Feyenoord. Kemenangan ini menjadi poin pertama Feyenoord di Liga Champions musim ini setelah sebelumnya dihajar Barcelona 5-1, sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan di De Kuip menjadi 13 pertandingan.
Jalannya pertandingan Feyenoord vs Como berlangsung dramatis sejak awal. Como, yang diperkuat gelandang mahal Nico Paz, berhasil membuka keunggulan lebih dulu melalui gol Assane Diao pada menit ke-18. Gol tersebut sempat membuat De Kuip terdiam, namun tidak berlangsung lama. Gjivai Zechiel, gelandang muda berusia 22 tahun, langsung membalas hanya beberapa menit kemudian dengan tendangan keras yang menggetarkan gawang Como. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Feyenoord tampil lebih agresif. Anis Hadj Moussa, yang menjadi Man of the Match versi UEFA, mencetak gol kedua Feyenoord setelah memanfaatkan umpan dari sisi kanan. Kerja sama apik antara Givairo Read dan Hadj Moussa di sisi kanan menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Como. Gol ketiga Feyenoord tercipta melalui kemelut di depan gawang yang berujung pada gol bunuh diri kiper Como, Robert Sanchez. Hadj Moussa berperan besar dalam terciptanya gol tersebut dengan tekanan yang membuat Sanchez keliru mengantisipasi bola.
Como sempat memperkecil ketertinggalan pada masa injury time melalui Anastasios Douvikas. Namun, waktu yang tersisa tidak cukup bagi tim tamu untuk menyamakan kedudukan. Kemenangan 3-2 ini membuat Feyenoord mengoleksi tiga poin, sementara Como juga masih mengantongi tiga poin dari satu kemenangan dan satu kekalahan. Dalam laga Feyenoord vs Como ini, Nico Paz tampil cukup baik tetapi gagal memberikan kontribusi gol atau assist, dan menjadi sorotan media Italia karena dianggap belum memenuhi ekspektasi setelah dibeli seharga 66 juta euro dari Real Madrid.
Pelatih Como, Cesc Fabregas, mengakui kekalahan ini sebagai pelajaran berharga. Ia menyebut Liga Champions memiliki intensitas yang berbeda dan timnya masih dalam proses adaptasi. “Ini adalah pertumbuhan yang berkelanjutan; ini adalah pertandingan tandang Eropa pertama kami. Kami terus belajar,” ujar Fabregas kepada Sky Sport Italia. Ia juga menyoroti pentingnya rotasi pemain mengingat Como harus bersaing di tiga kompetisi sekaligus. Meski kecewa, Fabregas tetap optimistis dan berharap Nico Paz segera menemukan performa terbaiknya.
Dari kubu Feyenoord, pelatih Giovanni van Bronckhorst memuji penampilan anak asuhnya, terutama Zechiel, Read, dan Hadj Moussa. Media Belanda seperti Algemeen Dagblad dan De Telegraaf menyebut Zechiel sebagai “Bellissimo” dan menyoroti keputusan cerdas manajemen Feyenoord yang menolak tawaran besar untuk Read dan Hadj Moussa. Kemenangan atas Como ini membuktikan bahwa Feyenoord mampu bersaing di level Eropa dan kembali menjelma sebagai kekuatan yang diperhitungkan.
Nico Paz sendiri mengaku terkesan dengan atmosfer De Kuip. “Fansnya luar biasa dan membuat suara yang sangat ribut. Feyenoord adalah tim yang bagus,” ujarnya. Sebagai kenang-kenangan, Paz menerima jersey lawas milik ayahnya, Pablo Paz, yang pernah bertukar jersey dengan Kees van Wonderen setelah pertandingan Feyenoord vs Tenerife pada 1996.
Hasil ini menjadi modal penting bagi Feyenoord untuk menghadapi laga-laga selanjutnya di Liga Champions. Sementara bagi Como, kekalahan ini menjadi cambuk untuk bangkit, terlebih mereka akan menghadapi Fiorentina di Serie A akhir pekan nanti. Laga Feyenoord vs Como akan dikenang sebagai pertandingan penuh gairah dan taktik, di mana tuan rumah berhasil memanfaatkan peluang dengan lebih efektif.
Dengan tambahan tiga poin, Feyenoord kini berada di jalur yang tepat untuk lolos ke babak berikutnya. Sementara Como harus segera berbenah jika ingin tetap bersaing di kompetisi elit Eropa. Pertandingan ini juga menegaskan bahwa kejutan masih mungkin terjadi di Liga Champions, dan Feyenoord vs Como menjadi salah satu bukti betapa sengitnya persaingan di kompetisi tertinggi Eropa tersebut.
