Sassuolo Bermuka Dua: Benteng Kokoh di Kandang, Rentan di Laga Tandang

Sassuolo Bermuka Dua: Benteng Kokoh di Kandang, Rentan di Laga Tandang
Sassuolo Bermuka Dua: Benteng Kokoh di Kandang, Rentan di Laga Tandang

FaktaHari – 14 Oktober 2026 | Sassuolo menjadi salah satu tim paling misterius di Serie A musim ini. Dalam enam pekan pertama, tim asuhan Alberto Aquilani menunjukkan dua wajah yang sangat kontras. Di kandang, mereka tampil garang dan sulit ditaklukkan, namun saat bertandang, performa mereka justru menurun drastis. Fenomena ini menjadi sorotan utama setelah hasil imbang 1-1 melawan AC Milan pada pekan keenam.

Di Mapei Stadium, Sassuolo menjelma menjadi tim yang disegani. Dari tiga laga kandang, mereka berhasil mengumpulkan tujuh poin berkat dua kemenangan dan satu hasil imbang. Catatan ini menempatkan mereka di peringkat ketiga terbaik di kandang, hanya kalah dari Inter Milan dan Atalanta. Rata-rata dua gol per laga menunjukkan produktivitas yang impresif, sementara pertahanan mereka hanya kebobolan empat gol. Namun, cerita berubah drastis saat mereka bermain di luar Reggio Emilia.

Dalam tiga pertandingan tandang, Sassuolo hanya mampu meraih satu poin. Kekalahan dari Atalanta dan Monza, serta hasil imbang di Bologna, membuat mereka hanya mengoleksi satu poin dari sembilan yang diperebutkan. Rata-rata gol yang dicetak pun turun menjadi 1,3, sementara kebobolan meningkat menjadi dua gol per laga. Ketimpangan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Aquilani.

Laga melawan AC Milan menjadi contoh sempurna dari dualisme ini. Bermain di kandang, Sassuolo mampu merepotkan tim sekelas Milan. Gol penyama kedudukan dicetak oleh Kasper Odenthal, pemain pengganti yang baru masuk, memanfaatkan situasi sepak pojok. Hasil imbang ini membuat pemilik AC Milan, Gerry Cardinale, kecewa, terutama dengan penampilan beberapa pemain bintangnya seperti Adrien Rabiot dan Gonçalo Ramos. Namun, dari kubu Sassuolo, hasil ini justru menjadi bukti bahwa mereka mampu bersaing dengan tim papan atas.

Pekan depan, Sassuolo akan menjalani laga tandang melawan Frosinone. Pertandingan ini akan menjadi ujian nyata apakah mereka mampu memperbaiki rekor buruk di luar kandang. Frosinone sendiri tengah dalam performa naik-turun, namun bermain di Stadion Benito Stirpe tidak akan mudah. Kedua tim sama-sama membutuhkan kemenangan untuk memperbaiki posisi di klasemen, di mana Sassuolo saat ini berada di peringkat ke-11 dengan delapan poin.

Di sisi lain, kabar kurang baik datang dari lini belakang Sassuolo. Bek tengah asal Belgia, Leysen, mengalami cedera saat melawan Milan dan diperkirakan akan absen cukup lama. Hal ini tentu menjadi pukulan, mengingat Leysen merupakan salah satu pemain kunci di pertahanan. Namun, kedalaman skuad Sassuolo patut diuji. Odenthal, yang mencetak gol penyeimbang, bisa menjadi alternatif menarik.

Perhatian juga tertuju pada bakat muda Milan, Francesco Camarda, yang kembali tidak dimainkan dalam laga ini. Pelatih Ruben Amorim memilih untuk tidak memberikan menit bermain kepada pemain 18 tahun tersebut, memicu perdebatan di kalangan penggemar. Camarda dianggap sebagai talenta emas, namun manajemen Milan tampaknya masih sangat berhati-hati dalam mengelola beban dan tekanan pada pemain muda.

Kesimpulannya, Sassuolo memiliki potensi besar untuk bersaing di papan atas, namun harus segera mengatasi masalah konsistensi antara performa kandang dan tandang. Pertahanan yang kokoh di Mapei Stadium harus bisa dibawa saat bertandang. Laga melawan Frosinone akan menjadi momentum untuk membuktikan bahwa Sassuolo bukan sekadar tim kandang. Jika berhasil, bukan tidak mungkin mereka akan finis di posisi yang lebih baik dari musim lalu.

Exit mobile version