FaktaHari – 13 Oktober 2026 | Laga Leicester vs Peterborough di King Power Stadium pada Sabtu lalu menjadi saksi bisu kekalahan memalukan yang dialami tuan rumah. The Foxes, yang baru terdegradasi ke League One, harus mengakui keunggulan tim tamu Peterborough United yang dilatih oleh mantan kapten Leicester, Robbie Savage. Kekalahan ini tak hanya menambah deretan hasil buruk Leicester, tetapi juga memicu kemarahan suporter dan spekulasi kuat tentang pemecatan manajer Russell Martin.
Suasana di stadion sangat tegang. Sorak-sorai berubah menjadi ejekan dan boo dari para pendukung yang frustrasi melihat tim kesayangan mereka terpuruk di peringkat 17 klasemen League One. Banyak suporter sudah menyuarakan ketidakpuasan mereka dan menuntut perubahan di kursi manajer. Pertandingan Leicester vs Peterborough ini seolah menjadi titik didih bagi para fans yang sudah lama kecewa dengan performa tim.
Menurut sumber internal klub, posisi Russell Martin saat ini ‘hanging by a thread’ atau digantung di ujung tali. Dewan klub dikabarkan sudah mulai melakukan panggilan dan menilai opsi-opsi pengganti. Atmosfer di sekitar klub digambarkan sangat toksik dan rendah. Kombinasi antara hasil buruk dan basis penggemar yang gelisah telah menambah tekanan pada Martin, yang kemampuannya untuk membalikkan keadaan mulai diragukan.
Kekalahan dari Peterborough menjadi pukulan telak. Sebelum pertandingan, direktur olahraga James McCarron sempat memberikan dukungan kepada Martin, namun kekalahan ini seolah menghapus semua pernyataan positif tersebut. Mantan pemain sayap Leicester dan pengamat BBC Radio Leicester, Matt Piper, bahkan mempertanyakan seberapa besar rasa hormat yang dimiliki para pemain terhadap Martin. Gelandang John Lundstram mengakui tim bermain dengan ‘kecemasan’ di kandang sendiri, yang diperparah oleh kritik yang terus menerus mereka terima.
Sementara itu, Chief Football Officer Jon Rudkin akhirnya angkat bicara setelah bertahun-tahun bungkam. Dalam wawancara langka dengan BBC Radio Leicester sebelum kick-off, Rudkin membela komitmen para pemilik klub. Namun, pembelaan itu seolah tenggelam oleh hasil buruk di lapangan. Pertandingan Leicester vs Peterborough ini tidak hanya menjadi ajang adu taktik, tetapi juga menjadi cermin bagi krisis yang melanda klub.
Tekanan pada Martin semakin besar. Suporter yang hadir di stadion meneriakkan yel-yel yang menuntut pemecatannya. Martin sendiri mengatakan bahwa tidak akan ada ‘perbaikan cepat’ jika dia dipecat, namun pernyataan itu justru menimbulkan pertanyaan baru tentang masa depannya. Para pengambil keputusan di Leicester kini dihadapkan pada pilihan sulit: memberikan waktu lebih pada Martin atau segera mencari pengganti untuk menyelamatkan musim ini.
Kekalahan dalam laga Leicester vs Peterborough ini menjadi pengingat betapa jauhnya Leicester telah jatuh. Dari juara Premier League yang tak terlupakan, mereka kini harus berjuang di kasta ketiga sepak bola Inggris. Setiap pertandingan menjadi ujian, dan setiap kekalahan memperdalam luka. Para pemain tampak kehilangan kepercayaan diri, dan hubungan dengan suporter semakin renggang.
Kesimpulannya, kekalahan Leicester dari Peterborough bukan sekadar hasil pertandingan biasa. Ini adalah alarm keras bagi seluruh elemen klub, mulai dari manajemen, pelatih, hingga pemain. Masa depan Russell Martin di Leicester City kini benar-benar di ujung tanduk. Jika tidak ada perubahan signifikan dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin klub akan segera mengumumkan manajer baru. Sementara itu, para suporter hanya bisa berharap tim kesayangan mereka segera bangkit dari keterpurukan ini.
