Prancis vs Belgia: Di Tengah Gelombang Protes Mahasiswa, Zidane Pamer Kemenangan Spektakuler

Prancis vs Belgia: Di Tengah Gelombang Protes Mahasiswa, Zidane Pamer Kemenangan Spektakuler
Prancis vs Belgia: Di Tengah Gelombang Protes Mahasiswa, Zidane Pamer Kemenangan Spektakuler

FaktaHari – 07 Oktober 2026 | Paris, 7 Oktober 2026 – Dalam sepekan terakhir, Perancis menjadi pusat perhatian dunia dengan dua peristiwa besar yang berlangsung hampir bersamaan: aksi unjuk rasa masif pelajar dan kemenangan gemilang tim nasional sepak bola atas Belgia. Dua sisi kehidupan Perancis ini—satu penuh ketegangan, satu lagi penuh euforia—menggambarkan dinamika negeri yang tengah berada di penghujung era kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron.

Di satu sisi, lebih dari 266.000 warga turun ke jalan pada Selasa (6/10) dalam gelombang protes yang dimulai dari sekolah menengah di kawasan Paris sejak pertengahan September. Para pelajar, guru, dan orang tua menuntut alokasi dana pendidikan yang lebih besar, menolak kebijakan yang dianggap mengabaikan kondisi sekolah yang memprihatinkan. Polisi terpaksa menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa di sejumlah titik, termasuk di Paris, Marseille, dan Strasbourg. Hampir 500 orang ditahan, memicu kemarahan orang tua dan guru yang menilai tindakan represif terhadap remaja berlebihan. Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengecam “kekerasan ultra” yang mengancam sekolah dan berjanji menyelidiki setiap insiden.

Di sisi lain, Stade de France bergemuruh ketika timnas Perancis, di bawah asuhan pelatih baru Zinedine Zidane, membungkam Belgia 4-1 dalam lanjutan UEFA Nations League. Kemenangan ini menjadi yang kedua bagi Les Bleus atas Belgia dalam sepekan, setelah sebelumnya menang 1-0 di Turki. Pertandingan ini menjadi panggung bagi pemain pengganti yang tampil brilian: Michael Olise, Désiré Doué, dan Rayan Cherki. Olise, yang masuk pada menit ke-60, mencetak dua gol dan satu assist, membuat Zidane mengaku “sangat terkesan”.

“Penilaian saya terhadap pertemuan pertama ini? Tidak ada cela. Saya bahkan terkejut dengan pola pikir para pemain—mereka benar-benar profesional, serius dalam bekerja, dan kelompok yang akrab,” ujar Zidane dalam konferensi pers usai laga.

Belgia yang tampil tanpa Kevin De Bruyne dan Youri Tielemans sempat unggul lebih dulu lewat Dodi Lukebakio pada menit ke-35. Namun, empat gol Perancis dalam 20 menit terakhir—dua dari Olise, satu dari Doué, dan satu dari Cherki—menunjukkan kedalaman skuad yang luar biasa. Pelatih Belgia, Mark Van Bommel, mengakui perbedaan kualitas. “Negara seperti Perancis memang masih jauh lebih baik. Tapi kami di jalur yang benar. Hanya masalah waktu sebelum kami mengalahkan tim besar,” katanya.

Kemenangan ini tidak hanya memperkuat posisi Perancis di puncak grup, tetapi juga menjadi angin segar di tengah hiruk-pikuk politik dalam negeri. Sementara protes pelajar terus bergulir—dengan rencana aksi lanjutan pada Kamis—timnas justru berhasil menyatukan bangsa melalui sepak bola. Namun, perhatian publik tetap terbelah: antara tuntutan perubahan di sektor pendidikan dan euforia olahraga.

Di luar itu, hubungan bilateral Perancis-Belgia juga terlihat dalam isu pertahanan. Belgia berencana mentransfer tiga jet tempur F-16 ke Ukraina, namun masih menunggu persetujuan Perancis karena pesawat tersebut dilengkapi sistem peringatan radar buatan Perancis. Menteri Pertahanan Belgia, Theo Franken, mengatakan proses persetujuan diharapkan berjalan cepat.

Dua peristiwa besar ini—protes pendidikan dan kemenangan sepak bola—menggambarkan Perancis di persimpangan: antara tekanan sosial yang mendalam dan semangat nasionalisme yang meluap. Keduanya sama-sama penting, namun menuntut perhatian yang berbeda dari pemerintah.

Kesimpulannya, Perancis menunjukkan dua wajah dalam satu minggu: wajah marah para pelajar yang menuntut keadilan, dan wajah gembira para penggemar yang merayakan kehebatan timnas. Keduanya adalah cermin dari negeri yang sedang berubah, dan dunia menanti langkah selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *