FaktaHari – 06 Oktober 2026 | Pertandingan sengit antara Yunani dan Jerman di Stadion Toumba, Thessaloniki, pada ajang UEFA Nations League, Minggu (4/10/2026) malam, harus berakhir dengan skor imbang 0-0. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi ambisi Jerman yang tampil dominan sepanjang laga. Insiden paling krusial terjadi pada menit ke-32 ketika Jonathan Burkardt, penyerang Eintracht Frankfurt yang baru pertama kali masuk dalam starting XI era Jurgen Klopp, berhasil menjebol gawang Yunani. Namun, kegembiraan itu sirna setelah wasit Clement Turpin menganulir gol tersebut setelah meninjau tayangan ulang VAR. Wasit asal Prancis itu mendeteksi adanya pelanggaran handball yang dilakukan Tom Bischof dalam proses terjadinya gol. Keputusan ini sontak memicu kekecewaan di kubu Jerman, termasuk dari pemain yang mencetak gol, Jonathan Burkardt.
Jerman memang tampil sangat mendominasi sejak peluit awal dibunyikan. Statistik mencatat penguasaan bola mencapai 70,1% dan total 21 tembakan ke arah gawang, berbanding hanya lima dari tuan rumah. Namun, penyelesaian akhir yang kurang klinis menjadi momok bagi anak asuh Jurgen Klopp. Penampilan gemilang kiper Yunani, Konstantinos Tzolakis, yang melakukan empat penyelamatan krusial, juga menjadi faktor utama kegagalan Jerman mencetak gol. Peluang terbaik selain dari Jonathan Burkardt datang dari Florian Wirtz yang menciptakan peluang bagi Philipp Treu, namun pemain Freiburg itu memilih untuk memberikan umpan daripada melepaskan tembakan langsung. Di babak kedua, Klopp memasukkan Nick Woltemade dan Said El Mala untuk menambah daya gedor, tetapi pertahanan Yunani yang digalang Konstantinos Mavropanos dan Kostas Tsimikas tampil solid dan berhasil mematahkan setiap serangan.
Hasil imbang ini membuat catatan Jurgen Klopp sebagai pelatih timnas Jerman menjadi kurang memuaskan. Dari empat pertandingan pertamanya, ia baru meraih satu kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan. Kekalahan sebelumnya dari Yunani (0-1) dan kemenangan 2-0 atas Serbia menjadi gambaran inkonsistensi performa tim. Pertandingan melawan Yunani ini sejatinya menjadi ajang pembuktian bagi para pemain baru, termasuk Jonathan Burkardt, yang diturunkan sebagai starter bersama Lennart Karl dan David Raum. Sayangnya, gol yang dianulir membuat momen spesial itu berubah menjadi kekecewaan. Di sisi lain, Yunani berhasil mempertahankan rekor tak terkalahkan mereka di kandang dan kini menempati posisi kedua Grup A2 dengan delapan poin, hanya kalah selisih gol dari Belanda. Sementara Jerman tertahan di peringkat ketiga dengan lima poin, unggul lima angka dari Serbia yang menjadi juru kunci.
Insiden VAR yang kontroversial ini menjadi perbincangan hangat di media sosial dan kalangan pengamat sepak bola Jerman. Banyak yang menilai bahwa keputusan wasit terlalu ketat, namun secara aturan, handball yang dilakukan Bischof memang menghalangi pergerakan pemain belakang Yunani. Bagi Jonathan Burkardt, ini adalah pengalaman pahit di level internasional. Namun, penampilannya yang agresif dan kemampuannya memenangkan duel udara patut diapresiasi. Ia menjadi ancaman konstan bagi pertahanan Yunani dan menunjukkan bahwa ia layak mendapatkan tempat di skuad utama Jerman. Laga berikutnya di jeda internasional akan menjadi penentu nasib Jerman di fase grup. Mereka harus menghadapi Belanda dan Serbia dalam dua pertandingan sulit jika ingin lolos ke perempat final Nations League. Sementara itu, Yunani akan berhadapan dengan Serbia dan Belanda untuk mempertahankan posisi puncak grup.
Kesimpulannya, Jerman harus segera memperbaiki ketajaman di lini depan jika ingin bersaing di level tertinggi. Kegagalan memanfaatkan dominasi dan anulir gol Jonathan Burkardt menjadi pelajaran berharga. Tim besutan Jurgen Klopp masih dalam proses adaptasi dan membutuhkan waktu untuk menemukan bentuk permainan terbaik. Sementara itu, Yunani menunjukkan bahwa mereka bukan lawan yang mudah dan layak diperhitungkan di pentas Eropa.
