FaktaHari – 05 Oktober 2026 | Pertandingan Croatia vs England dalam lanjutan UEFA Nations League 2026/27 di Stadion HNK Rijeka, Sabtu (3/10/2026), berakhir dengan skor telak 7-0 untuk kemenangan Inggris. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi tuan rumah dan sekaligus pernyataan keras dari pasukan Thomas Tuchel kepada rival-rival Eropa menjelang Euro 2028. Kapten Inggris, Harry Kane, menyebut kemenangan ini sebagai ‘blueprint’ permainan agresif yang harus dipertahankan.
Sejak menit awal, Inggris tampil menekan. Gol pembuka lahir pada menit ke-8 melalui Harry Kane setelah memanfaatkan kesalahan Josko Gvardiol. Jude Bellingham menggandakan keunggulan pada menit 21, lalu Anthony Gordon menambah gol ketiga pada menit 39. Bukayo Saka menutup babak pertama dengan gol keempat, memanfaatkan umpan silang Bellingham. Skor 4-0 bertahan hingga turun minum.
Di babak kedua, Inggris tidak mengendurkan serangan. Kane mencetak gol kelimanya pada menit 53, disusul Saka pada menit 68. Morgan Rogers yang masuk sebagai pengganti menutup pesta gol pada menit 87. Kemenangan ini merupakan yang terbesar dalam era kepemimpinan Tuchel dan mempertegas posisi Inggris di peringkat kedua Grup A3 dengan enam poin, tertinggal dari Spanyol yang sempurna.
Bagi Kroasia, kekalahan ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah mereka. Legenda hidup Luka Modric mengaku sangat terpukul. “Saya telah 20 tahun bersama tim nasional dan untuk pertama kalinya saya merasa malu setelah pertandingan. Tidak ada duel, tidak ada agresi, tidak ada pelanggaran, tidak ada kesatuan. Ini tidak dapat diterima,” ujarnya kepada media. Modric menambahkan bahwa penampilan timnya dari menit pertama hingga akhir tidak mencerminkan sepak bola yang seharusnya.
Kemenangan Croatia vs England ini juga menjadi sorotan karena absennya Declan Rice di lini tengah. Alex Scott yang dipercaya tampil sejak awal bersama Elliot Anderson sukses mengendalikan permainan melawan duet senior Modric dan Mateo Kovacic. Scott bahkan berani menyatakan bahwa penampilan ini akan membuat lawan-lawan Eropa merasa ketakutan. “Penting untuk memberikan tanda seperti ini dan mengalahkan tim besar untuk menakuti lawan di masa depan,” kata pemain Bournemouth tersebut.
Manajer Inggris, Thomas Tuchel, mengapresiasi performa Scott dan Anderson. Ia menegaskan bahwa persaingan di lini tengah sangat terbuka, termasuk bagi Declan Rice. “Tentu saja Rice harus waspada, kami butuh performa seperti ini. Kami tidak bisa hanya bergantung pada dua gelandang tengah. Kami butuh lebih banyak variasi dan opsi,” ujar Tuchel. Ia juga memuji Scott yang bermain di level tertinggi.
Sementara itu, Kane menekankan pentingnya mentalitas agresif yang ditunjukkan timnya. Menurutnya, kemenangan ini berbeda dengan pendekatan defensif yang sempat diterapkan saat kalah dari Argentina di semifinal Piala Dunia lalu. “Bahkan ketika kami unggul 1-0, kami terus menekan untuk mencetak gol kedua, ketiga, keempat. Itu harus menjadi mentalitas kami. Anda tidak bisa memilih kapan harus bermain seperti itu. Ini harus tanpa henti,” tegas Kane. Ia berharap performa ini menjadi fondasi menuju Euro 2028 di mana Inggris menjadi tuan rumah bersama.
Dengan hasil ini, Kroasia tertahan di posisi ketiga dengan tiga poin dan terancam degradasi ke League B. Inggris akan menghadapi Republik Ceko di Wembley pada Selasa (6/10/2026) dan berpeluang besar menjaga tekanan kepada Spanyol di puncak klasemen. Pertandingan Croatia vs England ini tidak hanya menjadi ajang balas dendam atas kekalahan sebelumnya, tetapi juga mengirim pesan jelas bahwa Inggris adalah kekuatan yang harus diperhitungkan di Eropa.
Kesimpulannya, kemenangan 7-0 atas Kroasia membuktikan kedalaman skuad dan efektivitas taktik Tuchel. Dengan performa impresif dari pemain muda seperti Scott dan Bellingham, serta ketajaman Kane dan Saka, Inggris menjelma menjadi tim yang menakutkan. Kroasia harus segera bangkit jika ingin tetap bersaing di Nations League. Sementara itu, rival-rival Eropa kini punya alasan untuk waspada terhadap ancaman Inggris di Euro 2028.
