IHSG Terjun Bebas ke 5.057, Saham Prajogo Pangestu hingga Emiten Transportasi Memerah

IHSG Terjun Bebas ke 5.057, Saham Prajogo Pangestu hingga Emiten Transportasi Memerah
IHSG Terjun Bebas ke 5.057, Saham Prajogo Pangestu hingga Emiten Transportasi Memerah

FaktaHari – 31 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan kinerja negatif pada penutupan perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026. IHSG saham ditutup melemah 41,01 poin atau setara 0,8 persen ke level 5.057,05. Sepanjang sesi, indeks bergerak fluktuatif dan sempat menyentuh level terendah di 4.979,34 pada sesi pertama, sebelum akhirnya sedikit memangkas penurunan hingga parkir di zona merah.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa tekanan jual mendominasi pasar. Sebanyak 552 saham melemah, 194 saham menguat, dan 217 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp11,24 triliun dengan volume 36,4 miliar lembar saham yang diperdagangkan dalam 1,2 juta kali frekuensi. Kapitalisasi pasar pun tercatat sebesar Rp8.882 triliun.

Pelemahan IHSG saham tidak terlepas dari aksi jual besar-besaran pada saham-saham konglomerasi milik Prajogo Pangestu. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) anjlok 6,96 persen ke level 1.070, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) rontok 6,99 persen ke level 1.795, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (PTRO) longsor 6,83 persen ke level 382. Ketiga emiten tersebut memimpin daftar top losers dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan indeks.

Secara sektoral, sembilan dari sebelas sektor di BEI ditutup di zona merah. Sektor transportasi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 3,13 persen. Saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) turun 2,5 persen ke level 39, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) anjlok 6,84 persen ke level 354, dan PT Blue Bird Tbk (BIRD) melemah 1,01 persen ke level 1.465. Sektor barang baku juga ambruk 3,15 persen, diikuti sektor infrastruktur 2,89 persen, properti 2,31 persen, dan energi 1,51 persen.

Meskipun pasar secara umum melemah, beberapa saham unggulan justru mencatatkan penguatan. Indeks IDX30 dan IDXQ30 berhasil menguat di tengah tekanan, sementara LQ45, IDX80, dan IDXESGL masih melemah. Saham ALKA menjadi top gainers dengan kenaikan 25 persen. Namun, penguatan tersebut tidak cukup menopang IHSG saham secara keseluruhan.

Di sisi lain, saham-saham perbankan besar masih menjadi primadona transaksi. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat nilai transaksi terbesar pada sesi pertama, mencapai Rp699,36 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan Rp431,65 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp335,75 miliar. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga ramai diperdagangkan dengan volume 13,04 miliar saham, meski nilai transaksinya Rp317,40 miliar.

Sentimen regional turut mewarnai pergerakan IHSG saham. Mayoritas bursa Asia ditutup melemah, dengan Nikkei Jepang turun 2,06 persen ke 63.326, Shanghai Composite melemah 1,44 persen ke 3.599, dan Kospi Korea terpangkas 3,48 persen ke 5.730. Hanya Hang Seng Hong Kong yang berhasil menguat 1,49 persen ke 23.294. Pelemahan global ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan moneter.

Analis memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Meski demikian, beberapa saham blue chip dan emiten dengan fundamental kuat dinilai masih menarik untuk dikoleksi. Investor disarankan untuk tetap selektif dan mencermati perkembangan global serta rilis kinerja emiten kuartal III-2026.

Dengan penurunan ini, IHSG saham telah melemah cukup dalam dalam sepekan terakhir. Pasar berharap adanya sentimen positif dari dalam negeri, seperti perbaikan data ekonomi atau kebijakan stimulus, yang dapat membalikkan arah indeks. Namun, hingga penutupan, tekanan jual masih mendominasi dan membuat IHSG tertahan di level 5.057.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *