FTSE 100 Tertekan GSK dan Unilever, Investor Cermati Budget Healey dan Suku Bunga The Fed

FTSE 100 Tertekan GSK dan Unilever, Investor Cermati Budget Healey dan Suku Bunga The Fed
FTSE 100 Tertekan GSK dan Unilever, Investor Cermati Budget Healey dan Suku Bunga The Fed

FaktaHari – 28 Oktober 2026 | Indeks FTSE 100 di London dibuka melemah tipis pada Rabu pagi, 28 Oktober 2026, seiring investor menantikan pidato budget pertama Menteri Keuangan Inggris John Healey serta keputusan suku bunga dari Amerika Serikat dan Kanada. Indeks blue-chip ini turun 4,02 poin ke level 10.682,52, setelah sebelumnya sempat tergelincir 0,3 persen menjadi 10.652,43 poin pada perdagangan pagi waktu setempat. Pergerakan FTSE 100 yang cenderung hati-hati mencerminkan sikap pasar yang wait and see terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter global.

Di sisi lain, indeks saham lapis kedua, FTSE 250, justru mencatat kenaikan tipis 0,1 persen. Meski demikian, tekanan pada FTSE 100 terutama berasal dari dua saham raksasa konsumen dan farmasi, yakni Unilever dan GSK, yang rilis laporan kuartalannya mengecewakan pasar.

GSK dan Unilever Jadi Penekan Utama

Saham GSK anjlok 3,77 persen ke 1.851,00 pence dan sempat menjadi pemberat terbesar indeks dengan penurunan hingga 5,7 persen. Rencana perusahaan memperkuat pipeline produk serta strategi pertumbuhan melalui program efisiensi biaya senilai 1,9 miliar poundsterling (sekitar 2,52 miliar dolar AS) belum mampu meyakinkan investor. Alhasil, GSK menjadi salah satu dari sedikit saham yang menahan laju FTSE 100.

Unilever juga terpuruk, turun 2,79 persen ke 4.756,00 pence, setelah melaporkan perlambatan penjualan di pasar makanan. Meski pertumbuhan dua digit di pasar negara berkembang tercatat, hal itu belum cukup membangkitkan optimisme investor. Sektor personal care, obat-obatan, dan kebutuhan pokok melemah hampir 1,2 persen, menambah beban indeks.

Selain kedua saham tersebut, sejumlah emiten lain juga menghuni zona merah. Croda International turun 1,43 persen ke 3.576,00 pence, Auto Trader Group melemah 1,36 persen ke 521,00 pence, Sage Group turun 1,22 persen ke 1.137,00 pence, dan Diageo kehilangan 1,20 persen ke 1.730,00 pence.

Namun, tidak semua saham bergerak negatif. Beberapa emiten masih mencatatkan penguatan, seperti Segro yang naik 1,03 persen ke 919,20 pence, Polar Capital Technology Trust naik 0,87 persen ke 635,00 pence, Lion Finance Group naik 0,81 persen ke 12.480,00 pence, dan Glencore naik 0,79 persen ke 546,10 pence. Prudential dan Babcock International Group masing-masing menguat 0,74 persen dan 0,69 persen. Saham Standard Chartered juga melonjak 2,8 persen setelah bank tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan setahun penuh menjadi di atas 7 persen, dari sebelumnya 5-7 persen.

Fokus Pasar: Budget Healey dan The Fed

Pelaku pasar kini menanti pidato budget pertama John Healey yang diperkirakan berhati-hati untuk menghindari tekanan lebih lanjut di pasar obligasi. Beberapa kebijakan yang disorot adalah rencana penghapusan biaya tetap (standing charge) gas rumah tangga mulai 2027, yang diharapkan menghemat sekitar 45 poundsterling per tahun bagi tagihan rata-rata. Healey telah meminta Ofgem untuk merealisasikan kebijakan tersebut secepatnya. Di sisi lain, bank dan perusahaan judi disebut berpotensi terkena kenaikan pajak.

Selain itu, keputusan suku bunga The Fed dan Bank of Canada juga menjadi perhatian. Ketidakpastian global turut tercermin dari pergerakan harga minyak. Brent crude futures naik 1,20 persen menjadi 115,3 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,52 persen ke 101,4 dolar AS per barel. Nilai tukar sterling melemah terhadap dolar AS ke 1,3285 dari sebelumnya 1,3307, tetapi menguat terhadap euro ke 1,1950 dari 1,1943.

Di kawasan Asia, FTSE Indonesia Index per 30 September 2026 masih didominasi saham perbankan. BBCA memimpin dengan bobot 23,63 persen, disusul BBRI 16,49 persen dan BMRI 13,59 persen. Sepuluh saham terbesar menguasai 81,21 persen bobot indeks, sementara tiga bank utama menyumbang 53,71 persen. Adapun di FTSE/ASEAN 40, DBS Group Holdings dari Singapura memimpin dengan bobot 20,38 persen, dan Singapura secara keseluruhan menyumbang 55,92 persen bobot indeks regional tersebut.

Secara keseluruhan, pergerakan FTSE 100 hari ini mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang agenda kebijakan besar. Meski tekanan dari kinerja emiten tertentu cukup terasa, sentimen positif dari Standard Chartered dan beberapa saham defensif menahan pelemahan lebih dalam. Investor tampaknya akan terus mencermati perkembangan budget Healey dan sinyal suku bunga The Fed sebelum mengambil posisi lebih agresif. Dengan dinamika global yang masih bergejolak, arah FTSE 100 dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap kebijakan fiskal dan moneter yang tengah dinanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *