Rupiah Indonesia Tembus Rp18.080 per Dolar AS, BI Turun Tangan hingga Insentif Modal Asing

Rupiah Indonesia Tembus Rp18.080 per Dolar AS, BI Turun Tangan hingga Insentif Modal Asing
Rupiah Indonesia Tembus Rp18.080 per Dolar AS, BI Turun Tangan hingga Insentif Modal Asing

FaktaHari – 24 Oktober 2026 | Nilai tukar rupiah Indonesia kembali menjadi sorotan setelah melemah menembus level Rp18.080 per dolar AS pada perdagangan Jumat (23/10/2026) sore. Depresiasi 20 poin atau 0,11 persen dari posisi sebelumnya Rp18.060 itu tercatat sebagai level terlemah pasca-Reformasi 1998. Pelemahan rupiah Indonesia terjadi di tengah tekanan eksternal yang dipicu penguatan dolar AS dan penarikan modal asing dari pasar keuangan domestik, seiring gejolak indeks MSCI yang berisiko menekan biaya utang pemerintah.

Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengintervensi pasar valuta asing jika terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. “Kalau itu tidak bertemu, ada ketidakseimbangan di dalam pergerakan di pasar, Bank Indonesia tetap pada komitmen menjaga mekanisme pasar agar bekerja dengan baik, supply dan demand bisa ketemu, kita komit untuk melakukan intervensi,” ujarnya dalam taklimat media di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Intervensi dilakukan secara aktif di pasar spot domestik serta melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) di pasar domestik. BI juga mencermati pergerakan NDF di New York dan pasar Asia sebelum pembukaan perdagangan domestik pukul 09.00 WIB. Selain intervensi, BI memperkuat penggunaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik arus modal asing dan menjaga daya tarik investasi di pasar keuangan domestik.

Dari sisi permintaan, BI telah menurunkan ambang batas pembelian valas tunai tanpa dokumen pendukung (underlying) secara bertahap, dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu, US$25 ribu, hingga kini US$10 ribu per individu per bulan. Langkah ini untuk mengendalikan permintaan dolar AS yang berlebihan. Sementara dari sisi pasokan, BI mendorong aliran masuk likuiditas valas struktural dari ekspor barang dan jasa, serta memberikan insentif fiskal dan lindung nilai untuk investasi portofolio, penanaman modal asing (FDI), dan pinjaman luar negeri.

BI juga memperkuat skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya diversifikasi mata uang dalam transaksi internasional. “Kami memperkuat penggunaan LCT agar kebutuhan valas masyarakat tidak hanya tertuju pada dolar AS, tetapi juga terbagi ke mata uang lain seperti yuan renminbi, dolar Singapura, dan yen Jepang,” jelas Erwin. Dengan demikian, ketergantungan pada dolar AS dapat dikurangi dan stabilitas rupiah Indonesia lebih terjaga.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah Indonesia masih membayangi perekonomian daerah. Pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya, Soekanto Sairuki, menilai bahwa pelemahan rupiah yang melampaui Rp18 ribu per dolar AS berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan inflasi di Sumatra Selatan. “Rupiah kita memang rentan dan kemelut domestik ini sepertinya belum bisa reda,” ujarnya kepada IDN Times, Jumat (23/10/2026). Ia menyoroti perlunya pembenahan kelembagaan, transparansi, dan meritokrasi untuk memperbaiki iklim ekonomi.

Senada dengan itu, gejolak MSCI turut menjadi perhatian pasar. Ketidakpastian global yang dipicu oleh kebijakan moneter negara maju dan ketegangan geopolitik membuat investor cenderung menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini tercermin dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melemahnya rupiah Indonesia. Di sisi lain, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang sebelumnya di bawah 7 persen kini bergerak di atas level tersebut, menandakan meningkatnya premi risiko.

Untuk meredam dampak lebih lanjut, BI terus memantau pergerakan yield SBN dan memberikan insentif guna mendorong arus masuk modal asing. Insentif tersebut mencakup fasilitas lindung nilai untuk investasi portofolio, FDI, serta pinjaman luar negeri. BI juga gencar melakukan intervensi di pasar NDF luar negeri untuk menyesuaikan pergerakan yang memengaruhi pasar domestik. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjaga kepercayaan pelaku pasar dan mencegah pelemahan rupiah Indonesia yang lebih dalam.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah Indonesia ke level Rp18.080 per dolar AS menjadi ujian berat bagi otoritas moneter dan fiskal. Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah instrumen, mulai dari intervensi pasar, penguatan SRBI, pengendalian permintaan valas, hingga diversifikasi mata uang melalui LCT. Namun, tantangan struktural seperti biaya ekonomi tinggi dan iklim investasi yang belum efisien masih perlu pembenahan serius. Tanpa perbaikan fundamental, stabilitas nilai tukar akan terus menghadapi tekanan, terutama di tengah ketidakpastian global yang dipicu gejolak MSCI dan penguatan dolar AS. Ke depan, koordinasi antara BI, pemerintah, dan pelaku pasar menjadi kunci untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *