Biaya Hidup Meroket, Masyarakat Tetap Belanja: Antara Kecemasan dan Ketahanan Konsumen

Biaya Hidup Meroket, Masyarakat Tetap Belanja: Antara Kecemasan dan Ketahanan Konsumen
Biaya Hidup Meroket, Masyarakat Tetap Belanja: Antara Kecemasan dan Ketahanan Konsumen

FaktaHari – 22 Oktober 2026 | Kenaikan biaya hidup yang dipicu oleh melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) dan percepatan inflasi tidak serta-merta menyurutkan aktivitas belanja masyarakat. Di Amerika Serikat, data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa konsumen justru tetap menggelontorkan uang mereka, meski harga kebutuhan pokok semakin mahal. Fenomena ini menggambarkan ketahanan konsumen yang menjadi bahan bakar pertumbuhan ekonomi, di tengah kecemasan yang melanda banyak rumah tangga.

Indeks Harga Produsen (PPI) yang mengukur biaya sebelum barang sampai ke konsumen melonjak 6,3% pada September dibandingkan tahun lalu, kenaikan terbesar dalam hampir empat tahun terakhir. Secara bulanan, harga naik 1,3% dari Agustus ke September, didorong oleh kenaikan harga bensin sebesar 20%. Kenaikan ini mulai merembet ke sektor jasa pengiriman dan pergudangan, serta berpotensi membuat harga bahan pangan di pasar semakin mahal dalam beberapa bulan ke depan.

Meski demikian, tingkat konsumsi masyarakat justru meningkat. Sebagian besar kenaikan ini terjadi akibat harga barang yang memang sudah tinggi, namun ketahanan konsumen inilah yang menopang perekonomian. Para pekerja masih menikmati tingkat keamanan kerja yang tergolong tinggi, meski ada gelombang pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor. Hal ini memicu mereka untuk tetap belanja, walaupun survei menunjukkan banyak warga Amerika merasa pesimis terhadap prospek ekonomi.

“Konsumen mungkin menahan kemarahan mereka dan tetap melangkah di tengah tingginya harga bensin,” ujar Chief Investment Officer di Plante Moran Financial Advisors, Jim Baird. “Mereka tidak senang, tapi mereka tetap saja belanja.”

Fenomena serupa juga terlihat di Indonesia. Cuaca panas yang melanda sejumlah wilayah membuat penggunaan pendingin ruangan dan kipas angin meningkat, sehingga konsumsi listrik rumah tangga ikut melonjak. Seorang warga, Aga, mengaku pengeluaran listriknya naik sekitar 10%-15% pada Oktober ini. Token listrik yang biasanya cukup hingga tanggal 28, kali ini harus diisi ulang pada tanggal 20. Dengan daya 1.300 VA, pengeluaran listriknya yang biasanya sekitar Rp700.000 kini mendekati Rp850.000. Kenaikan biaya hidup akibat cuaca panas ini menjadi contoh nyata bagaimana faktor eksternal dapat membebani anggaran rumah tangga.

Di sisi lain, pemahaman yang keliru antara gaya hidup dan biaya hidup sering kali memicu perdebatan. Ramainya konser dan peluncuran ponsel terbaru kerap dianggap sebagai bukti bahwa masyarakat masih memiliki banyak uang. Padahal, pengeluaran untuk hiburan sesekali berbeda dengan kemampuan memenuhi kebutuhan rutin yang terus meningkat. Biaya hidup mencakup kebutuhan pokok seperti pangan, tempat tinggal, tagihan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan. Ketika harga beras, telur, atau ongkos transportasi naik, pengeluaran bulanan bisa membengkak meski kebiasaan belanja tidak berubah. Sementara itu, gaya hidup lebih berkaitan dengan preferensi dan pilihan dalam memenuhi kebutuhan atau menikmati hidup.

Tekanan biaya hidup juga memicu aksi protes. Di Jerman, kelompok Gen Z melalui inisiatif “Gen Z steht auf” menyerukan demonstrasi nasional pada 31 Oktober 2026 di Berlin, Hamburg, Cologne, Frankfurt, Munich, dan sejumlah kota lainnya. Mereka menyoroti pemangkasan anggaran pendidikan dan belanja sosial, kenaikan biaya hidup, serta rencana penerapan wajib militer. Kepolisian Berlin mewaspadai potensi infiltrasi kelompok radikal, namun penyelenggara menegaskan aksi akan berlangsung damai. “Kami adalah anak-anak muda yang tidak lagi ingin hanya menyaksikan keputusan tentang masa depan kami dibuat tanpa mendengarkan suara kami,” kata para penyelenggara.

Bahkan, persoalan biaya hidup juga menghampiri kehidupan selebritas. Inara Rusli mengungkapkan bahwa rencana isbat nikah dengan Insanul Fahmi terkendala biaya. Ia memahami kondisi finansial suaminya yang sedang menurun, sehingga proses hukum tersebut belum dapat direalisasikan. “Karena pastinya butuh biaya juga untuk mengisbat, dan dari awal saya sangat mengerti kondisi finansial yang dialami beliau,” ujar Inara.

Dari berbagai peristiwa ini, terlihat bahwa kenaikan biaya hidup menciptakan dilema bagi masyarakat. Di satu sisi, konsumen tetap belanja untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga roda ekonomi berputar. Di sisi lain, kecemasan dan tekanan finansial semakin nyata, terutama bagi kelompok rentan seperti mahasiswa dan pekerja. Ketahanan konsumen memang menjadi penopang sementara, namun tanpa kebijakan yang berpihak pada keterjangkauan biaya hidup, beban masyarakat akan terus meningkat. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu merespons sinyal-sinyal ini dengan langkah konkret agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.

Exit mobile version