IHSG Anjlok 3,64%, 80 Saham HSC Dikeluarkan dari Indeks: Peluang atau Ancaman?

IHSG Anjlok 3,64%, 80 Saham HSC Dikeluarkan dari Indeks: Peluang atau Ancaman?
IHSG Anjlok 3,64%, 80 Saham HSC Dikeluarkan dari Indeks: Peluang atau Ancaman?

FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Jakarta, VIVA – Pasar saham Indonesia kembali terguncang. Pada perdagangan Senin (19/10/2026), saham IHSG anjlok 3,64 persen ke level 4.966,61, mencatat posisi terendah dalam enam tahun terakhir. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual investor asing yang mencapai Rp1,72 triliun, serta kekhawatiran terhadap tata kelola pasar modal yang disorot oleh MSCI. Di tengah tekanan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan kebijakan reformasi besar: mengeluarkan 80 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG. Langkah ini bertujuan membuat indeks acuan lebih mencerminkan likuiditas dan kondisi pasar yang sebenarnya.

Kebijakan penghapusan saham HSC dari IHSG menuai pro dan kontra. Di satu sisi, BEI menilai saham-saham dengan kepemilikan menumpuk di segelintir pihak—bahkan ada yang mencapai lebih dari 95 persen—menyimpan risiko manipulasi harga dan likuiditas tipis. Di sisi lain, penghapusan ini berpotensi mengurangi bobot saham-saham besar yang selama ini menjadi penopang indeks, seperti DCII, BREN, BYAN, MORA, dan DSSA. Kelima emiten HSC terbesar memiliki total kapitalisasi mendekati Rp1.680 triliun. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengonfirmasi bahwa 80 saham HSC yang mencakup sekitar 18 persen bobot IHSG tidak lagi diperhitungkan dalam indeks, namun status pencatatan saham di bursa tetap dipertahankan.

Dampak langsung dari kebijakan ini adalah perubahan komposisi IHSG. Saham-saham HSC yang sebelumnya memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan indeks kini kehilangan kontribusinya. Sebagai contoh, BREN yang sebelumnya memiliki bobot sekitar 1,43 persen di IHSG mengalami penurunan harga hingga 81,1 persen secara year to date. Sementara DCII mencatat koreksi sekitar 6,6 persen sebelum pengumuman. Meski demikian, BEI menegaskan bahwa penghapusan ini bukan delisting, melainkan semata-mata untuk meningkatkan kredibilitas indeks. Langkah serupa juga diterapkan Bursa Hong Kong sebagai pembanding dalam menjaga integritas indeks.

Di tengah gejolak pasar, saham IHSG anjlok juga memunculkan peluang bagi investor jangka panjang. Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa pihaknya membuka peluang untuk menambah investasi di saham BUMN, terutama perbankan, yang valuasinya kini semakin murah. Rasio price to book value (PBV) perbankan rata-rata berada di bawah satu, dengan dividend yield Bank Mandiri sekitar 16 persen dan BRI sekitar 13 persen. “Kami akan melakukan analisis fundamental secara menyeluruh sebelum memutuskan investasi jangka panjang secara bertahap,” ujar Rosan di Kompleks Istana Negara, Jakarta.

Namun, tekanan terhadap saham IHSG anjlok tidak bisa dilepaskan dari sentimen makroekonomi dan tata kelola pasar modal. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai bahwa penurunan tajam IHSG merupakan komplikasi dari berbagai faktor, termasuk sorotan MSCI terhadap transparansi kepemilikan, free float, dan kejelasan transaksi. Jika MSCI menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, dampaknya akan sangat besar. “OJK dan BEI sudah diberikan waktu yang cukup lama, tetapi belum ada perubahan signifikan terkait siapa pemilik sebenarnya perusahaan,” kata Ibrahim. Ia juga mengingatkan pentingnya belajar dari krisis 1998 dan 2008 agar gejolak saat ini tidak berujung pada krisis sistemik.

BEI sendiri telah mengambil langkah stabilisasi dengan menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) asimetris menjadi -7 persen untuk saham di atas Rp10, berlaku hingga 31 Desember 2026. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pengumuman suku bunga acuan bank sentral Tiongkok dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Pada perdagangan Selasa (20/10/2026), IHSG diproyeksikan bergerak dinamis dengan peluang penguatan terbatas, setelah sebelumnya sempat merosot hingga 5,36 persen ke level terendah harian 4.907,37.

Secara keseluruhan, kebijakan penghapusan saham HSC dari IHSG merupakan upaya reformasi yang berpotensi memperbaiki kualitas indeks dalam jangka panjang. Namun, dalam jangka pendek, kebijakan ini dapat memicu volatilitas dan penyesuaian portofolio investor. Di sisi lain, pelemahan saham IHSG anjlok memberikan kesempatan bagi investor dengan horizon panjang untuk masuk ke saham-saham fundamental kuat, terutama perbankan BUMN yang valuasinya menarik. Keberhasilan reformasi ini akan sangat bergantung pada konsistensi OJK dan BEI dalam menuntaskan persoalan tata kelola, transparansi kepemilikan, dan likuiditas pasar. Tanpa perbaikan struktural, tekanan terhadap pasar saham Indonesia bisa berlanjut, dan kepercayaan investor akan sulit pulih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *