FaktaHari – 17 Oktober 2026 | Jakarta, CNBC Indonesia – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali mencuri perhatian pasar modal Tanah Air. Pada perdagangan pagi ini, 16 Oktober 2026, goto saham menempati posisi teratas sebagai saham teraktif berdasarkan volume transaksi. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 5.393,92, antusiasme investor terhadap saham GOTO justru tetap tinggi. Fenomena ini menjadi sorotan di tengah tekanan jual besar-besaran yang dilakukan investor asing dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada sesi I perdagangan Kamis (15/10/2026), IHSG ditutup merosot 2,16% ke level 5.814. Investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 182,94 miliar. Dalam daftar saham yang paling banyak dijual asing, GOTO menempati urutan kedua setelah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan nilai jual mencapai Rp 25,86 miliar. Aksi jual ini terjadi di tengah kondisi pasar yang sedang tidak bersahabat, di mana seluruh sektor di BEI berada di zona merah dan sektor energi mengalami penurunan terdalam hingga 3,71%.
Menariknya, di balik tekanan jual tersebut, justru muncul manuver cerdik dari investor global. Morgan Stanley and Co International PLC, raksasa keuangan asal Amerika Serikat, terpantau melakukan aksi jual-beli saham GOTO dalam satu hari yang sama. Berdasarkan laporan kepemilikan saham melalui Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Kamis (15/10/2026), Morgan Stanley melakukan dua transaksi pada Senin (12/10/2026). Mereka menjual saham GOTO di harga Rp 29 per lembar, sementara di saat yang sama membeli di harga Rp 27 per lembar. Selisih harga Rp 2 per saham atau setara 7,41% ini menghasilkan potensi keuntungan sekitar Rp 303,55 juta dari volume yang saling berpasangan (matched) sebanyak 151,77 juta saham.
Secara keseluruhan, Morgan Stanley mencatatkan penjualan bersih (net sell) 1.597.424.700 saham GOTO dengan kas bersih yang diterima mencapai Rp 46,63 miliar. Kepemilikan mereka pun turun dari 70.267.481.384 saham menjadi 68.670.056.684 saham, atau menyusut dari 6,103% menjadi 5,9642%. Sisa saham yang dijual sekitar 1,6 miliar lembar berasal dari kepemilikan sebelumnya. Jika merujuk pada harga perolehan awal Morgan Stanley yang pernah memborong GOTO di harga Rp 23 pada Agustus dan Rp 25 pada awal September, maka potensi keuntungan dari porsi ini berkisar Rp 7 miliar hingga Rp 10,5 miliar. Manuver ini menunjukkan bahwa goto saham masih menyimpan daya tarik bagi investor institusi besar, meskipun secara fundamental masih dalam tekanan.
Di sisi lain, kisah investor ritel juga menjadi warna tersendiri. Komika Yudha Keling, yang juga dikenal sebagai financial content creator, mengaku masih bertahan di saham GOTO meski mengalami floating loss atau nyangkut. Kepada Katadata di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10), Yudha mengaku pasrah dengan kondisi tersebut. “Ya gimana? Kalau setiap hari harganya turun ya pasti sedih, saya sama seperti bapak Garibaldi ‘Boy’ Thohir, loss-nya udah kedaleman jadi didiemin aja,” ujarnya. Yudha enggan menyebutkan berapa lembar saham yang dimilikinya, namun sebelumnya ia pernah memberikan 1.412.025 lembar saham GOTO sebagai mahar pernikahannya pada Desember 2025.
Meski begitu, Yudha menilai bahwa strategi terbaik saat ini adalah menahan dana dalam bentuk tunai atau stay cash di rekening dana nasabah (RDN). Menurutnya, investor tidak harus selalu membeli saham, dan tidak melakukan apa pun juga merupakan bagian dari strategi investasi. Bagi investor yang sudah nyangkut, ia menyarankan untuk mengevaluasi kembali alasan awal membeli saham. Jika penurunan harga hanya dipicu sentimen pasar sementara fundamental perusahaan tidak berubah, investor disarankan untuk wait and see. Sebaliknya, jika tesis awal untuk trading sudah tidak sesuai, cut loss bisa menjadi pilihan.
Sementara itu, dari sisi korporasi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk baru saja menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (14/10/2026). Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui dua agenda penting: pembatalan 32 miliar saham treasuri atau setara 2,7% saham beredar, dan pengunduran diri Catherine Hindra Sutjahyo sebagai Wakil Direktur Utama Perseroan. Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyatakan bahwa persetujuan ini mencerminkan kepercayaan pemegang saham terhadap arah GOTO ke depan. “Kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan tersebut dengan terus memberikan nilai tambah jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (14/10).
Komisaris Utama GoTo, Agus Martowardojo, menambahkan bahwa pembatalan saham treasuri akan memberikan manfaat bagi pemegang saham melalui peningkatan porsi kepemilikan secara proporsional. Langkah ini juga memperbesar partisipasi mereka dalam pertumbuhan GoTo ke depan. Dewan Komisaris menyampaikan apresiasi kepada Catherine atas dedikasinya dan mendoakan yang terbaik untuk langkah selanjutnya. Susunan Direksi dan Dewan Komisaris pun mengalami perubahan efektif sejak penutupan RUPSLB.
Di tengah berbagai dinamika tersebut, pergerakan goto saham masih menjadi barometer bagi banyak investor ritel maupun institusi. Pada perdagangan Rabu (14/10), saham GOTO sempat naik 3,70% ke Rp 28 per saham dengan volume 9,37 miliar lembar dan nilai transaksi Rp 256,67 miliar. Namun secara year to date (ytd), harga saham GOTO masih anjlok 56,25% dan terperosok 44% dalam sebulan terakhir. Kondisi ini mencerminkan betapa besarnya tekanan yang dihadapi emiten teknologi ini, meskipun masih ada secercah harapan dari manuver investor besar dan kepercayaan pemegang saham.
Sebagai penutup, perjalanan goto saham ke depan masih akan sangat bergantung pada fundamental perusahaan, sentimen pasar global, dan kebijakan korporasi. Investor disarankan untuk tetap cermat dalam mengambil keputusan, selalu mengevaluasi risiko, dan tidak terburu-buru dalam bertindak. Apapun pilihannya, yang terpenting adalah sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.
