BMRI Diguncang: Komisaris Borong Saham, Kredit Haji Isam Disorot, Asing Kabur

BMRI Diguncang: Komisaris Borong Saham, Kredit Haji Isam Disorot, Asing Kabur
BMRI Diguncang: Komisaris Borong Saham, Kredit Haji Isam Disorot, Asing Kabur

FaktaHari – 17 Oktober 2026 | Tekanan pasar saham Indonesia pada pertengahan Oktober 2026 tidak menyurutkan langkah Komisaris PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Yuliot, untuk menambah kepemilikan sahamnya di bank pelat merah tersebut. Di tengah koreksi tajam yang menimpa BMRI, Yuliot justru melakukan aksi borong 29.100 saham pada 13 Oktober 2026 dengan harga Rp 3.940 per saham. Transaksi tersebut menghabiskan dana sekitar Rp 114,65 juta dan meningkatkan kepemilikan Yuliot dari 192.400 saham menjadi 221.500 saham, atau setara 0,0002% hak suara di perusahaan.

Namun, harga tebus Rp 3.940 itu mencerminkan koreksi 22,36% secara year-to-date (YTD). Setelah transaksi, saham BMRI justru terus merosot. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), saham BMRI ditutup di level Rp 3.390 per saham, anjlok 14,82% dalam sehari. Secara kumulatif sejak awal tahun, harga saham BMRI telah terkoreksi 33,52%. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan besar yang melanda pasar domestik, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 11,57% ke level 5.185,10 pada hari yang sama.

Di sisi lain, manajemen Bank Mandiri tengah menjadi sorotan setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan terkait pemberian fasilitas kredit jumbo kepada PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang terafiliasi dengan kelompok usaha Jhonlin milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Senior Vice President Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menegaskan bahwa kredit tersebut bukan untuk aktivitas perdagangan saham, melainkan untuk mendukung pengembangan usaha, belanja modal (capital expenditure), dan pembiayaan perusahaan serta grup usaha di industri batu bara dan sektor penunjangnya.

Adhika menjelaskan, fasilitas kredit diberikan dengan mempertimbangkan kemampuan pembayaran kembali (repayment capacity) perusahaan dan grup usaha, mencakup rencana jangka pendek, menengah, dan panjang. Bank Mandiri juga mengacu pada tiga pilar penilaian kualitas kredit sesuai ketentuan OJK, yakni prospek usaha, kinerja, dan kemampuan membayar. Selain itu, kapasitas Jhonlin Baratama sebagai perusahaan operasional yang menghasilkan EBITDA serta arus dividen dari sejumlah anak usaha menjadi pertimbangan.

Dalam keterbukaan informasi BEI, Adhika menyatakan bahwa fasilitas pinjaman tersebut dijamin dengan fixed asset dan non fixed asset, termasuk saham JARR dan PGUN yang merupakan afiliasi dari PT Jhonlin Baratama, serta rekening perusahaan. Saham yang menjadi agunan tambahan dinilai secara konservatif dan berfungsi sebagai sumber pelunasan sekunder (second way out). Bank Mandiri menegaskan telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap penyaluran kredit, termasuk analisis kelayakan usaha, kecukupan agunan, dan manajemen risiko menyeluruh.

Kendati demikian, tekanan jual dari investor asing terhadap saham BMRI masih kuat. Data RTI Business mencatat net foreign sell (NFS) saham BMRI mencapai Rp 204,3 miliar selama periode 12–16 Oktober 2026, menjadikannya sebagai salah satu yang terbesar di antara saham unggulan lain seperti TLKM (Rp 161,1 miliar), GOTO (Rp 95 miliar), ANTM (Rp 67,7 miliar), dan ADMR (Rp 67,2 miliar). Aksi jual asing ini memperparah koreksi harga saham BMRI yang sudah tertekan oleh sentimen pasar global dan domestik.

Meski begitu, langkah Komisaris Yuliot menambah porsi kepemilikan di tengah badai koreksi menunjukkan keyakinan terhadap fundamental jangka panjang bank. Namun, pasar masih menanti dampak dari penjelasan manajemen terkait kredit ke Jhonlin serta keberlanjutan tekanan eksternal terhadap saham BMRI.

Secara keseluruhan, dinamika yang terjadi pada BMRI mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi perbankan nasional saat ini: di satu sisi harus menjaga pertumbuhan kredit dan kepercayaan investor, di sisi lain menghadapi volatilitas pasar yang tinggi dan pengawasan ketat dari regulator. Ke depan, kemampuan manajemen dalam menjaga kualitas aset dan mengelola risiko akan menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan pasar terhadap saham BMRI.

Exit mobile version