FaktaHari – 15 Oktober 2026 | Pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan menjelang peninjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026. Status MSCI Indonesia sebagai emerging market atau pasar negara berkembang dipertahankan dalam tinjauan tahunan yang diumumkan pada Agustus lalu, namun keputusan final terkait komposisi indeks dan metodologi baru akan diumumkan bulan depan. Pelaku pasar menanti hasil peninjauan ini karena dapat memengaruhi aliran dana investor global ke saham-saham domestik.
MSCI mengonfirmasi bahwa dalam Tinjauan Tahunan Negara 2026 (2026 Annual Country Review), tidak ada perubahan pada daftar negara yang tercakup dalam indeks MSCI Frontier Emerging Markets. Indonesia tetap berada dalam kategori Emerging Market, bersama dengan negara-negara seperti Brasil, China, India, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Arab Saudi, Taiwan, dan Uni Emirat Arab. Keputusan ini penting karena indeks MSCI digunakan sebagai acuan oleh investor institusi global dalam menyusun portofolio investasi. Perubahan klasifikasi atau komposisi indeks tertentu dapat memengaruhi keputusan investasi, termasuk alokasi dana pada saham-saham yang menjadi konstituennya.
Menjelang peninjauan November, MSCI juga mengumumkan pembaruan simulasi indeks setelah konsultasi mengenai MSCI Climate Paris Aligned PAB Indexes. Simulasi ini menggambarkan peralihan dari metodologi indeks yang berlaku saat ini menuju metodologi baru berdasarkan peninjauan indeks terakhir masing-masing indeks. Data terbaru ini menggantikan simulasi sebelumnya yang menggunakan data hingga akhir Maret 2026 dan hanya dimaksudkan sebagai ilustrasi. “Sebagai pengingat, penyempurnaan metodologi tersebut akan diterapkan dalam peninjauan indeks November 2026,” tulis MSCI dalam pengumumannya, dikutip Rabu (14/10/2026).
Peninjauan November ini berlaku pada tujuh indeks yang disediakan MSCI, yakni MSCI ACWI, MSCI World, MSCI USA, MSCI EMU, MSCI Europe, MSCI Japan, dan MSCI Emerging Markets Climate Paris Aligned PAB. Fokus utama pasar Indonesia adalah pada MSCI Emerging Markets, di mana bobot saham Indonesia semakin mengecil. Berdasarkan data per 30 September 2026, porsi MSCI Indonesia dalam indeks tersebut diperkirakan hanya sekitar 0,43%, turun dari 1,15% pada akhir 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh dominasi tiga negara besar—Taiwan (28,9%), Korea Selatan (21,4%), dan China (19,8%)—yang menguasai 70,1% indeks.
Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terlihat. Pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, IHSG melemah 0,71% ke level 5.893,89 dan sempat menyentuh titik terendah 5.828,68. BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan support terdekat IHSG berada di area 5.850. Jika level tersebut ditembus, risiko koreksi lanjutan perlu dicermati. Sementara resistance berada di 6.000 dan 6.214. Selain menunggu keputusan MSCI, investor juga mencermati data inflasi Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak Brent yang sempat mencapai US$106,69 per barel.
Kesimpulannya, posisi MSCI Indonesia sebagai emerging market masih aman, tetapi bobot saham domestik yang terus mengecil menjadi perhatian. Keputusan final pada November 2026 akan menjadi penentu arah pasar saham Indonesia dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk mencermati perubahan konstituen dan penyesuaian free float yang dapat memengaruhi representasi saham domestik dalam acuan investasi global. Dengan tetap berada di status emerging market, Indonesia masih menjadi destinasi investasi yang menarik, namun perlu upaya lebih untuk meningkatkan daya saing pasar modalnya.
