FaktaHari – 14 Oktober 2026 | JAKARTA – Pergerakan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan transksi crossing senilai Rp1,1 triliun di pasar negosiasi pada Rabu (14/10/2026). Aksi senyap ini terjadi di tengah gejolak kepemilikan saham perusahaan tambang batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong yang baru saja melepas 30,25% sahamnya ke PT Jhonlin Baratama, entitas milik Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Berdasarkan data RTI Business, transaksi crossing tersebut tercatat sebanyak 1 juta lot pada pukul 11.45 WIB. Meski demikian, manajemen BYAN belum memberikan laporan resmi terkait perubahan kepemilikan saham akibat transaksi itu kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sebelumnya, Low Tuck Kwong bersama putrinya Elaine Low telah merampungkan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) dengan Jhonlin Baratama pada 7 Oktober 2026. Dalam transaksi itu, sebanyak 10.084.088.370 saham atau setara 30,25% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan berpindah tangan. Harga transaksi tercatat Rp2.588 per saham, jauh di bawah harga pasar yang saat itu berada di kisaran Rp11.000-an.
Pasca-akuisisi, kepemilikan Low Tuck Kwong di BYAN menyusut drastis menjadi 9,95% (3,316 miliar saham), sementara Elaine Low masih menguasai 22,0% atau 7,35 miliar saham. Meski kepemilikan keluarga Low masih signifikan, Bloomberg mencatat kekayaan Low Tuck Kwong ambles hingga 5,78 miliar dolar AS (sekitar Rp103,58 triliun) dalam sehari pada Senin (12/10/2026), menjadikannya penurunan terbesar di antara miliarder dunia.
Penurunan tersebut setara 33,9% dari total kekayaannya, namun Low Tuck Kwong tetap bertahan sebagai orang terkaya di Indonesia dengan sisa kekayaan sekitar 11,3 miliar dolar AS (Rp202,51 triliun). Bloomberg mengatribusikan seluruh saham keluarga kepada Low sebagai pendiri perusahaan.
Di sisi lain, transaksi senyap Rp1,1 triliun di saham BYAN memicu spekulasi pasar. Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menilai dividen BYAN yang rata-rata US$960 juta per tahun (termasuk US$500 juta untuk tahun buku 2025) mampu menopang pembayaran utang akuisisi Jhonlin Baratama. Dengan kepemilikan 30,25%, Jhonlin berpotensi menerima dividen sekitar US$290 juta per tahun, cukup untuk menutup cicilan pinjaman dalam 6,6 tahun.
“Kemampuan membayar utang tersebut juga ditopang oleh kinerja operasional BYAN. Pada semester pertama 2026, perusahaan membukukan laba bersih US$410 juta, tumbuh 17% secara tahunan, dengan kas mencapai US$934 juta,” ujar Nurkholis dalam analisisnya.
Hingga berita ini diturunkan, saham BYAN ditutup melemah 4,03% ke Rp11.300 per saham pada perdagangan Senin (12/10/2026), dengan kapitalisasi pasar Rp378,33 triliun. Manajemen BYAN menegaskan tidak ada perubahan pengendalian perusahaan dan belum ada pembahasan sinergi dengan Jhonlin Baratama.
Fenomena ini mengukuhkan bahwa Low Tuck Kwong, meski kekayaannya tergerus, masih menjadi figur sentral di industri batu bara nasional. Langkah strategisnya melepas saham ke Haji Isam dinilai sebagai bagian dari diversifikasi risiko dan membuka peluang baru bagi BYAN di bawah kendali dua konglomerat.
