FaktaHari – 09 Oktober 2026 | Jakarta, 9 Oktober 2026 – Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir September 2026 mencapai Rp319 triliun, atau setara 1,24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini meningkat dibandingkan posisi Agustus 2026 yang sebesar 0,93% terhadap PDB, namun lebih rendah dari defisit pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,55% terhadap PDB. Dalam laporan yang dirilis Jumat (9/10), keseimbangan primer tercatat surplus Rp125,5 triliun. Kondisi fiskal ini menjadi sorotan utama para investor di platform stockbit, yang terus memantau perkembangan kebijakan ekonomi nasional.
Pendapatan negara hingga akhir September 2026 mencapai Rp2.341,5 triliun atau 74,2% dari target APBN 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh penerimaan pajak yang melonjak 24,1% year-on-year (YoY), terutama karena efek low-base dari kontraksi 4,4% YoY pada 9M25. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri mencatat kenaikan signifikan sebesar 51,3% YoY, sejalan dengan manajemen restitusi yang lebih ketat. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh 41,7% YoY menjadi Rp492,3 triliun, melampaui target APBN 2026, berkat setoran surplus Bank Indonesia sebesar Rp55 triliun dan penertiban kawasan hutan.
Di sisi belanja, realisasi subsidi dan kompensasi mencapai Rp376,8 triliun, naik 54% YoY, akibat peningkatan volume BBM bersubsidi (9,1% YoY) dan pupuk (15,7% YoY). Anggaran Makan Bergizi Gratis terealisasi Rp153,2 triliun, sementara anggaran Badan Gizi Nasional untuk 2026 dipangkas dari Rp268 triliun menjadi Rp229 triliun. Pemerintah juga menyuntikkan dana Rp20 triliun kepada BPJS Kesehatan untuk menutupi defisit, serta memperpanjang bantuan pangan hingga Desember 2026.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara telah mengeluarkan surat edaran yang memerintahkan seluruh kementerian dan lembaga untuk memangkas sisa anggaran perjalanan dinas sebesar 30% dan membekukan pengeluaran non-esensial hingga akhir tahun 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga defisit fiskal tetap di bawah batas legal 3% terhadap PDB. Surat edaran tersebut mewajibkan seluruh instansi pemerintah menyerahkan usulan pemangkasan anggaran paling lambat 16 Oktober 2026, dengan catatan tidak mengganggu layanan publik dan tetap berfokus pada pencapaian target prioritas presiden.
Pemerintah mempertahankan outlook defisit 2026 di 2,85% terhadap PDB, meskipun rata-rata harga minyak mentah Indonesia hingga September 2026 mencapai US$91,9 per barel, lifting migas di bawah asumsi, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS rata-rata Rp17.449, lebih lemah dari asumsi APBN. Di sisi pembiayaan, penerbitan SBN neto telah mencapai 62,2% target. Kementerian Keuangan menyebut masih ada 12 lelang SBN reguler dan 2 penerbitan SBN ritel pada kuartal IV 2026, serta membuka opsi penerbitan SBN valas sesuai kondisi pasar.
Kementerian Keuangan juga memproyeksikan keseimbangan primer akan berbalik defisit jika defisit fiskal melampaui 2,26% terhadap PDB. Pertumbuhan penerimaan negara selama 9M26 turut dipengaruhi manajemen restitusi pajak. Dengan asumsi restitusi pajak flat secara tahunan, pertumbuhan penerimaan negara menjadi lebih rendah di level 19% YoY dan defisit APBN melebar menjadi 1,72% terhadap PDB, lebih tinggi dibanding defisit 9M25 (1,55% terhadap PDB).
Analis di platform stockbit menilai bahwa langkah pemerintah memangkas anggaran adalah respons yang wajar mengingat harga minyak yang masih tinggi dan belum adanya tanda-tanda de-eskalasi konflik Iran-AS. De-eskalasi konflik menjadi skenario upside yang perlu dicermati investor karena dapat memberi ruang lebih lega bagi APBN dan meredakan kekhawatiran kebijakan suku bunga higher-for-longer. Sementara itu, dalam perkembangan lain, PT Jhonlin Baratama baru saja merampungkan pembelian 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) senilai total Rp26,1 triliun pada 7 Oktober 2026, transaksi yang juga ramai diperbincangkan di komunitas stockbit.
Di luar isu fiskal, stockbit bersama Bibit.id juga turut ambil bagian sebagai Lead Partner dalam Art Jakarta 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran pada 2-4 Oktober 2026. Kolaborasi dengan seniman Yogyakarta, Endry Pragusta, menghadirkan instalasi ‘School of Medusa II’ dengan narasi ‘Lost at Sea’. Karya seni ini menggunakan laut sebagai metafora untuk menggambarkan ketidakpastian dalam perjalanan investasi, mengingatkan investor bahwa tidak mungkin mengendalikan semua kondisi pasar. Seperti halnya berlayar, investor perlu belajar membaca arus, memahami kondisi, menentukan arah, dan menjaga keseimbangan.
Dengan berbagai tantangan fiskal dan dinamika pasar yang ada, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi. Investor disarankan untuk tetap waspada dan adaptif terhadap perubahan kebijakan serta kondisi global. Kombinasi analisis fundamental, teknikal, dan manajemen risiko yang disiplin menjadi kunci untuk meraih konsistensi di tengah ketidakpastian.











