FaktaHari – 02 Oktober 2026 | Parepare dan beberapa daerah di Indonesia mengalami lonjakan inflasi yang signifikan pada September 2026. Inflasi di Parepare tercatat mencapai 3,78 persen, melampaui batas toleransi nasional sebesar 3,5 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Parepare, Dian Ernawaty, menyatakan bahwa kenaikan harga cabai dan ikan menjadi pemicu utama inflasi di wilayah ini. Harga cabai rawit bertahan tinggi di Rp 120 ribu per kilogram selama dua bulan terakhir, ditambah dengan kenaikan harga ikan akibat cuaca ekstrem yang mengganggu pasokan perikanan.
Di tingkat nasional, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 berada pada 3,28 persen secara tahunan, masih dalam sasaran Bank Indonesia (BI) yang ditetapkan sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Namun, kategori volatile food mencatat kenaikan signifikan hingga 5,03 persen. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi juga turut mendorong inflasi pada kategori administered prices.
Fenomena El Nino yang sedang berlangsung menambah tekanan inflasi, terutama pada sektor pangan. Penurunan produksi pangan akibat perubahan cuaca ini diprediksi masih akan berlanjut hingga awal tahun depan. Ekonom BCA, David Sumual, memperkirakan inflasi pada akhir 2026 akan berada di kisaran 3-3,5 persen.
Di Lampung, inflasi tercatat sebesar 3,51 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dari rata-rata nasional. El Nino berdampak pada penurunan produktivitas panen dan kenaikan harga beras serta komoditas hortikultura lainnya. Meski demikian, deflasi pada komoditas seperti bawang merah dan daging ayam ras membantu menahan laju inflasi.
Pemerintah dan Bank Indonesia terus berkolaborasi dalam mengendalikan inflasi melalui berbagai strategi, seperti optimalisasi operasi pasar dan penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional. Pengendalian ini diharapkan dapat menjaga inflasi dalam batas sasaran hingga tahun depan.
Secara keseluruhan, tekanan inflasi yang dirasakan di Parepare dan daerah lainnya perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah agar tidak berdampak lebih buruk terhadap perekonomian masyarakat.











