Berita  

Insiden Asian One Air di Papua Tengah: 10 Orang Selamat, Kemenhub Selidiki Penyebab

Insiden Asian One Air di Papua Tengah: 10 Orang Selamat, Kemenhub Selidiki Penyebab
Insiden Asian One Air di Papua Tengah: 10 Orang Selamat, Kemenhub Selidiki Penyebab

FaktaHari – 27 Oktober 2026 | Pesawat Cessna 208B milik PT Asian One Air dengan registrasi PK-LTF mengalami insiden keluar landasan pacu saat mendarat di Bandar Udara Bilorai, Kecamatan Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Sabtu (24/10/2026). Seluruh 10 orang di dalam pesawat, terdiri dari delapan penumpang dan dua awak, dilaporkan selamat. Insiden ini menjadi perhatian publik mengingat asian one air merupakan operator penerbangan perintis yang melayani rute Timika–Sugapa.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan bahwa pesawat berangkat dari Timika pukul 07.40 WIT dan tiba di Sugapa pukul 08.38 WIT. Berdasarkan laporan awal, proses pendaratan di landasan pacu 09 semula berlangsung normal. Namun, ketika menyentuh landasan, pesawat bergerak ke arah kiri hingga keluar dari landasan dan berhenti di area rerumputan di sisi landasan. Akibatnya, pesawat mengalami kerusakan pada bagian roda utama.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan penanganan awal serta mengumpulkan informasi teknis. “Prioritas kami saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh penumpang dan awak pesawat serta melakukan penanganan awal sesuai prosedur,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) berkoordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke untuk menangani kejadian dan melakukan pendampingan di lokasi. Koordinasi juga dilakukan dengan manajemen PT Asian One Air guna memperoleh data teknis. Hingga kini, Kemenhub belum menyimpulkan penyebab pasti insiden karena memerlukan pemeriksaan dan verifikasi lebih lanjut.

Insiden yang melibatkan asian one air ini menambah daftar tantangan keselamatan penerbangan perintis di wilayah Papua yang memiliki medan geografis menantang. Sebelumnya, asian one air dikenal sebagai salah satu maskapai yang melayani rute-rute terpencil dengan pesawat kecil. Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya prosedur keselamatan dan pemeliharaan infrastruktur bandara di daerah terpencil.

Di sisi lain, dunia penerbangan Asia tengah menghadapi tantangan lain. Laporan dari Monash University mengungkapkan bahwa jutaan orang di Asia Tenggara mengalami hari-hari paparan gabungan antara gelombang panas dan asap kebakaran hutan. Studi 20 tahun (2000–2019) menemukan rata-rata 194,5 juta orang per tahun di Asia Tenggara mengalami setidaknya satu hari ketika gelombang panas bertepatan dengan asap kebakaran hutan. Indonesia menjadi negara paling terdampak dengan rata-rata 101 juta orang per tahun pada dekade 2010-an, naik dari sekitar 72 juta pada dekade 2000-an. Kombinasi ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan paru-paru.

Meski demikian, fokus utama saat ini adalah evakuasi dan investigasi insiden asian one air. Pihak berwenang terus mengumpulkan keterangan dari saksi dan data teknis pesawat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menunggu hasil investigasi resmi. Keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama, terutama dalam operasional penerbangan perintis yang menghubungkan daerah-daerah terisolasi di Indonesia.

Sebagai penutup, insiden asian one air di Sugapa menyoroti pentingnya sinergi antara regulator, operator, dan pemangku kepentingan dalam menjaga standar keselamatan penerbangan. Meskipun seluruh penumpang dan awak selamat, evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pendaratan dan kondisi landasan perlu dilakukan untuk mencegah kejadian serupa. Kasus ini juga mengingatkan bahwa di balik tantangan geografis dan cuaca, keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *