FaktaHari – 26 Oktober 2026 | Setelah tujuh tahun penantian, Sigma akhirnya resmi meluncurkan Sigma FP2, penerus dari Sigma fp yang legendaris. Kamera mirrorless full-frame ini diumumkan pada 23 Oktober 2026 dan dijadwalkan rilis pada 11 November 2026 dengan harga 346.500 yen (sekitar Rp35 jutaan) di situs resmi Sigma. Sigma FP2 hadir dengan berbagai peningkatan signifikan, mulai dari sensor baru, autofokus yang lebih canggih, layar LCD yang bisa dimiringkan, hingga kemampuan merekam video 6K. Namun, yang paling mencolok adalah desainnya yang tetap minimalis seperti kotak kecil, tanpa grip atau viewfinder bawaan, meneruskan filosofi unik dari pendahulunya.
Sigma FP2 mempertahankan ukuran bodi yang hampir sama dengan versi pertama, yakni 112,8 x 69,9 x 41,8 mm dengan bobot hanya 376 gram tanpa baterai dan kartu memori. Dengan ketebalan sekitar 4 cm, kamera ini mengusung sensor full-frame BSI 24,5 MP dengan arsitektur partially stacked yang meningkatkan kecepatan pembacaan data. Pendekatan ini memungkinkan peningkatan performa tanpa harus menggunakan desain sensor fully stacked yang lebih kompleks. Selain itu, Sigma FP2 dilengkapi dengan sistem autofokus hybrid yang menggabungkan fase dan kontras, serta mendukung pelacakan mata dan wajah untuk manusia, anjing, kucing, dan burung.
Kemampuan video menjadi salah satu daya tarik utama. Sigma FP2 dapat merekam video 6K pada 60 fps menggunakan seluruh area sensor, serta 4K hingga 120 fps dengan crop atau 60 fps full-width. Dukungan format Apple ProRes RAW dan profil L-Log dari Leica memberikan dynamic range hingga 14,1 stop pada perekaman 4K. Untuk fotografi, kamera ini mampu mengambil gambar hingga 20 fps, dengan rentang shutter 30 hingga 1/25.600 detik (hingga 5 menit dalam mode manual), serta ISO 100-102.400 yang dapat diperluas hingga ISO 6. Sigma FP2 sepenuhnya mengandalkan electronic shutter tanpa shutter mekanis.
Meski performanya meningkat pesat, Sigma FP2 tetap setia pada konsep modular. Viewfinder, grip, hot shoe, dan aksesori lainnya tidak termasuk dalam paket dasar, tetapi dapat ditambahkan melalui lubang ulir standar pada bodi. Pendekatan ini sengaja dilakukan untuk memberikan kebebasan bagi pengguna dalam menyesuaikan kamera sesuai kebutuhan. SmallRig pun telah menyiapkan berbagai opsi rig, seperti L-bracket dengan grip kayu seharga 49,99 dolar AS, yang mempertahankan estetika minimalis namun meningkatkan ergonomi. Sigma FP2 juga dilengkapi layar sentuh 3,15 inci (2,1 juta titik) yang dapat dimiringkan 90 derajat ke atas dan 45 derajat ke bawah, penyimpanan internal 70 GB, slot SDXC UHS-II, port HDMI 2.1, dan dua port USB Type-C (satu USB 2.0 dan satu USB 3.2). Baterainya mampu bertahan sekitar 370 foto atau 130 menit perekaman video.
CEO Sigma, Kazuto Yamaki, dalam peluncuran tersebut menganalogikan Sigma FP2 seperti band indie rock yang telah berevolusi: tetap mempertahankan semangat dan karakternya, namun kini lebih matang dalam teknik dan visi. Ia mengakui bahwa pada awal kemunculan Sigma fp, pihaknya kesulitan menjawab untuk siapa kamera itu ditujukan. Namun, setelah melihat para pengguna yang berkreasi dengan cara mereka sendiri, Yamaki terinspirasi oleh konsep ‘bricolage’ dari bahasa Prancis, yang berarti menciptakan sesuatu dari berbagai bahan yang tersedia. Sigma FP2 pun dirancang sebagai alat yang tidak selesai, melainkan untuk diselesaikan oleh penggunanya sendiri.
Dengan harga 346.500 yen, Sigma FP2 menawarkan paket lengkap bagi para kreator yang menginginkan kamera full-frame ringkas dengan kemampuan video kelas profesional. Sigma juga memperkenalkan lensa 50mm F1.4 CL DG Contemporary dengan mount L dan Sony E, serta tersedia paket dengan viewfinder atau lensa 50mm F2 DG dengan harga sekitar 180.000 rubel (sekitar Rp30 jutaan). Kehadiran Sigma FP2 menegaskan bahwa Sigma tidak sekadar mengikuti tren, tetapi berani menawarkan alternatif yang unik dan personal.
Secara keseluruhan, Sigma FP2 adalah bukti bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan utama. Kamera ini sengaja menghindari desain konvensional dan memberikan ruang bagi pengguna untuk berkreasi. Dengan peningkatan performa yang signifikan namun tetap mempertahankan ukuran mungil, Sigma FP2 sukses menjadi penerus yang layak setelah tujuh tahun. Bagi para fotografer dan videografer yang mencari kamera full-frame serba bisa namun tetap portabel, Sigma FP2 adalah pilihan yang sangat menarik.











