FaktaHari – 24 Oktober 2026 | Kebakaran hutan di kawasan Gunung Sumbing yang melanda Kabupaten Temanggung, Wonosobo, dan Magelang, Jawa Tengah, masih menyisakan satu titik asap di Glapansari, Temanggung, hingga Sabtu (24/10/2026). Meski demikian, kondisi secara umum mendekati aman karena titik api di wilayah Wonosobo dan Magelang telah berhasil dipadamkan sejak sehari sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, saat dihubungi awak media.
Berdasarkan pemantauan pada pukul 10.00 WIB, satu titik asap di Glapansari masih terlihat, namun belum dapat dihitung luasannya. “Satu titik di Glapansari (Temanggung). Mendekati aman karena yang di Wonosobo dan Magelang dari kemarin sudah padam,” ujar Bergas. Ia menambahkan bahwa total lahan terdampak kebakaran di Gunung Sumbing wilayah Temanggung mencapai 344,18 hektare, sementara di Wonosobo mencapai 362 hektare. Angka ini masih berpotensi bertambah seiring pemantauan di lapangan.
Upaya pemadaman melalui udara atau water bombing sempat dijadwalkan menggunakan helikopter, namun terkendala cuaca buruk. “Tadi helikopter mau water bombing sempat melintas di Gunung Sumbing. Hanya saja cuaca nggak baik akhirnya kembali,” jelas Bergas. Ia berharap hujan turun untuk membantu proses pemadaman. Tim gabungan dari BPBD, KPH Kedu Utara, TNI/Polri, dan relawan masih melakukan pemantauan intensif di lokasi.
Sebelumnya, kebakaran di Gunung Sumbing dilaporkan mencapai 779,4 hektare pada Jumat (23/10) pagi. Administratur KPH Kedu Utara, Dimyati, menyebutkan bahwa titik api yang sulit dijinakkan berada di Petak 20-1 wilayah Temanggung dan Petak 23 wilayah Wonosobo. Cuaca kering dan angin kencang menjadi kendala utama sehingga api cepat menyebar. “Kondisi angin yang bertiup kencang membuat pergerakan api berlangsung cepat, sehingga upaya pemadaman yang dilakukan petugas belum mampu mengimbangi penyebaran kebakaran,” kata Dimyati.
Vegetasi yang paling banyak terbakar meliputi sabana dan hutan kemlandingan gunung. Api juga mulai merambat ke kawasan hutan rimba campuran yang ditumbuhi pohon bintamin, puspa, dan akasia. Seluruh area yang terdampak berstatus hutan lindung, sehingga kebakaran ini tidak hanya merusak vegetasi sabana tetapi juga berpotensi merusak pepohonan besar di kawasan tersebut.
Kebakaran di Gunung Sumbing pertama kali terdeteksi pada Senin (19/10) di Petak 29 jalur pendakian Gajahmungkur, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo. Lebih dari 150 pendaki telah dievakuasi, dan seluruh jalur pendakian ditutup sementara hingga kondisi dinyatakan aman. Penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui secara pasti.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama relawan dan TNI/Polri terus berupaya memadamkan karhutla di Gunung Lawu dan Gunung Sumbing. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan fokus melindungi sumber air bagi masyarakat. Selain pemadaman, upaya pembuatan sekat bakar juga dilakukan untuk mencegah perambatan api. Dukungan logistik, peralatan, dan layanan kesehatan bagi personel di lapangan terus diberikan.
Hingga saat ini, tim di lapangan masih melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada titik api baru yang muncul. Warga di sekitar kawasan Gunung Sumbing diimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan. Pemerintah daerah juga mengkaji opsi water bombing jika cuaca membaik dan persyaratan teknis terpenuhi.
Dengan kondisi satu titik asap yang tersisa, harapan akan berakhirnya musibah kebakaran di Gunung Sumbing semakin besar. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat cuaca kering dan angin kencang masih berpotensi memperluas area terdampak. Semua pihak berharap hujan segera turun untuk membantu proses pemadaman alami.











